Minggu07082018

Last update05:00:00 am

Font Size

Profile

Menu Style

Cpanel
Banner
Back Mak Lanca Kurang Memahami Daratan dan Pulau

Kurang Memahami Daratan dan Pulau

ANAMBAS memiliki banyak daratan yang masih menyatu dengan daratan lainnya, tapi masyarakat menyebutnya sebagai pulau. Mungkin disadari atau tidak, kebiasaan masyarakat melaut dengan kapal sebagai satu-satunya alat transportasi, telah mengubah pemahaman penduduk pribumi terhadap wilayah yang berada di satu daratan.

"Kebun kami di pulau jauh dari Tarempa. Kesana naik pompong dulu," tutur Absar warga Tarempa.

Demikianlah perkataan masyarakat yang tinggal di Kota Tarempa,� Anambas terhadap kebun yang telah lamamereka ditinggalkan. Padahal masih satu daratan dengan tempat tinggal mereka yang sekarang.

Mungkin begitu turuan pesawat pendatang baru yang belum mengenal Anambas, akan menganggap Tarempa merupakan kota ramai yang pertama kali dijumpai di Anambas.� Dan,� wilayahnya terpisahkan oleh pulau-pulau antara satu pemukiman dengan pemukiman yang lain.

Kalau mengamati sebutan yang sering diucapkan masyarakat setempat hendak� bepergian ke suatu daerah, mereka menyebutnya hendak ke pulau. Mungkin yang ada dalam pikiran pendatang kalau daerah yang hendak dituju tersebut berada di pulau yang berbeda, padahal sebenarnya masih berada di daratan yang sama. Namun karena penduduk setempat menggunakan kapal untuk berpergian, sehingga mereka cendrung menyebutnya pulau.

"Sudah jadi sebutan, ketika berangkat dari Tarempa ke daerah lain masyarakat menyebutnya pergi ke pulau. Mungkin karena pakai pompong, makanya disebut ke pulau," ujar Absar.

Beberapa sebutan nama pulau yang membuat pengunjung tercengang adalah Desa Air Bini, Tiangau di Kecamatan Siantan Selatan. Wilayah yang masih satu daratan dengan pusat kabupaten ini, disebut juga pergi ke pulau.

Kini setelah Tiangau dapat dijangkau dengan jalan darat, sebutan ke pulau mulai ditinggalkan. Sedangkan Air Bini masih saja lekat dengana sebutan� 'pulau' karena masih menggunakan pompong menuju ke daerah ini dan kondisi jalan darat masih sulit dilalui, karena belum lancar digunakan.

Desa lain yang disebut pulau adalah Pemutus di Siantan Timur. Padahal Daerah ini masih satu daratan dengan Pulau Siantan.

Hal lain yang paling membuat heran adalah Teluk Sunting di Pulau Matak,� sebenarnya teluk ini� memanjang dari Air Sena di Kecamatan Siantan Tengah ke Desa Langir di Kecamatan Palmatak yang berada di pulau yang sama. Wilayah ini merupakan teluk terpanjang di Anambas yang dimukimi banyak masyarakat karena perairan yang tenang dan cendrung pasang surut.

Masyarakat yang terbiasa membudidayakan ikan di daerah ini tidak banyak yang tahu kalau daratan di depan Air Nangak dan Desa Air Asuk itu adalah daratan dari Pulau Matak juga.

"Ini Desa Air Nangak sudah berbeda pulau dengan Langir yang tadi kita tinggalkan," tutur Novi warga di Anambas usai mengunjungi Desa Langir di Teluk Sunting belum lama ini.

Kebiasaan orang tua menyebut pulau terhadap suatu daerah telah diturunkan pada anak-anaknya. Sehingga tidak banyak pemuda Anambas tahu kalau desa mereka masih satu daratan dengan desa lain, hanya karena jalan darat yang tidak mereka ketahui.

Kini, wilayah Anambas sudah banyak masuk pendatang, sehingga wawasan masyarakat terhadap wilayah mereka perlu ditingkatkan. Karena dalam waktu dekat di negeri perbatasan dengan 250 buah pulau ini, banyak yang akan berubah seiring giatnya penjemputan investor ke Anambas.(yul)