Refleksi 16 Tahun Haluan Kepri
Dalam usianya yang ke-16 ini, Harian Haluan Kepri yang dulu bernama Sijori Mandiri, terus eksis mendayung dua generasi yang berbeda satu sama lain. Yakni generasi media cetak dan generasi media digital. Kedua generasi ini kini saling berinsteraksi, berebut, dan juga saling isi mengisi dan melengkapi satu sama lain. Media cetak yang telah merajai dunia informasi dan pers telah terbukti mampu menghadirkan berbagai perubahan di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali pergerakan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Pers, baik media cetak maupun elektronik seperti RRI. Sedangkan media digital yang datang belakang sebagai lambang supremasi kemajuan teknologi informatika telah menyadarkan kita akan betapa dahsyatnya pesan sosial yang mampu menggerakan massa, opini dan bahkan pembunuhan suatu karakter.Betapa banyak orang kehilangan simpati dan dukungan khalayak dalam berbagai hal seperti di waktu Pilkada karena peran media digital yang dimainkan oleh pihak lawan atau kesalahan strategi komunikasi pendukungnya. Berbagai gerakan massa dapat diperan oleh media digital seperti gerakan demo damai di berbagai tempat yang terjadi selama ini. Bahwa perannya, tidak lah kecil dan tidak bisa dianggap remeh oleh semua orang. Berbagai peristiwa menjadi viral di media sosial, karena peran media digital.
Kini kedua media ini hadir sebagai kekuatan informasi yang saling bersaing mencari ceruk pasarnya sendiri-sendiri. Media digital dengan berbagai kemajuan dan kelemahan regulasi yang ada, tampaknya lebih cepat dan eksis menghidangkan berbagai informasi kepada khalayak. Dalam hitungan detik suatu peristiwa atau kejadian sudah dapat kita terima atau ketahui melalui facebook, twitter, whatsapp atau media online. Sementara media cetak memerlukan waktu sekitar 6 sampai 12 jam baru suatu peristiwa atau kejadian dapat diterima oleh pembacanya.
Secara sepintas, seolah-olah media digital akan mengalahkan media cetak. Tapi, kenyataannya tidaklah benar. Semakin menguatnya media digital, media cetak tetap juga mendapat tempat di hati khalayak. Memang kedua memiliki peran dan ruang yang berbeda. Media digital lebih memenuhi hasrat informasi yang bersifat perorangan, permukaan, dan tidak jarang menimbulkan rasa penasaran yang tidak tuntas. Ketika kita membaca media digital rasa kepuasan dan kepastian suatu peristiwa masih sangat summir, karena tidak jarang teknik kroscek nya yang lemah.
Karena itu kemudian khalayak tetap masih menunggu berita atau sajian dari media cetak untuk kejelasan suatu peristiwa atau kejadian. Itu artinya, kehadiran kedua media ini sebenarnya saling membutuhkan. Media cetak menjadi penjelas, penyelaras dan sekaligus sebagai otokritik media digital. Karena dengan ruang waktu yang agak lebih leluasa, maka media cetak akan dapat melakukan pendalaman suatu peristiwa dan melakukan kroscek beritanya, sehingga berita lebih kuat, mendalam dan dapat lebih dipercayai. Sedangkan media digital menjadi patner bagi media cetak dalam merangsang imajinasi publik pemberitaan media cetak. Dengan kata lain, media digital menjadi pemicu bagi insan pers untuk lebih mampu mengembangkan pemberitaannya.
Kedepan, media cetak memang harus mendesain ulang tentang pola pemberitaan dan menu sajiannya. Berita straightnews barangkali akan lebih bersaing dengan media digital. Maka, pola kedepan tentu pemberitaan yang bersifat indepht reporting, feature, opini yang mendalam, kritis dan berimbang akan lebih menjadi andalan. Karena bagaimana pun seseorang akan memerlukan informasi yang utuh.
Dengan informasi yang utuhlah baru seseorang akan dapat menjadikan informasi sebagai kekuatan untuk menentukan pilihan apa yang akan diambil. Karenanya, di tengah-tengah kebanjiran informasi media digital, belum sepenuhnya mampu memenuhi rasa ingin tahu seseorang tentang suatu peristiwa atau opini. Maka media cetak tetap akan menjadi pilihan bagi khalayak untuk dapat memenuhi hasrat akan informasi yang utuh.
Selain mendesain ulang tentang pola pemberitaan, maka kesiapan sumberdaya manusia (SDM) dan penguatan jaringan dengan pihak atau orang yang memiliki otoritas terhadap suatu peristiwa atau kejadian akan sangat diperlukan. Dalam hal ini ketetapan dalam memiliki key person (orang kunci) atau ahli untuk dapat diminta pendapat dan analisa menjadi urgen, agar tidak menimbulkan ketidakpercayaan publik. Hujatan terhadap beberapa pemberitaan media televisi dalam kasus demo damai di Jakarta beberapa waktu lalu adalah contoh dalam hal pemberitaan yang tidak tuntas atau tidak sesuai dengan realitas publik.
Kini, dalam usia ke 16 tahunnya, Haluan Kepri terus mendayung di antara dua generasi. Dalam mendayung bahtera, media cetak ini tentu akan menhadapi tantangan. Pertama, dari media digital-yang lebih cepat, murah dan tidak mengenal ruang georafis dalam pemasaranya. Kedua, berhadapan dengan selera khalayak yang menginginkan suatu berita yang lebih mendalam, kritis dan berimbang. Ketiga, berhadapan dengan kesiapan SDM-nya sendiri yang kini kurang direkrut secara lebih terencana. Dalam perekrut wartawan karena desakan letak geografis dan keterbatasan operasional, seringkali megabaikan kualifikasi, dedikasi dan integritas. Mereka dengan mudah pindah dari satu media ke media lain. Hal itu tentu akan berpengaruh terhadap arah dan visi pemberitaan suatu media.
Kini, Haluan Kepri akan lebih mampu bersaing. Karena modal sosial yang dialami selama 16 tahun telah meneguhkan posisinya sebagai media yang mampu menghadapi berbagai gelombang tantangan. Kedepan adalah bagaimana mendayung dua generasi yang berbeda tersebut sebagai kekuatan energi baru dalam meningkatkan kiprahnya sebagai media publik. Semoga.***(Umar Natuna, Ketua STAI Natuna dan pembaca Haluan Kepri, di Ranai.)Share
