Jeritan Korban Kebakaran di Tanjunguma
Puluhan warga Tanjung Uma, korban kebakaran pada bulan Ramadhan lalu belum juga lepas dari penderitaannya. Setelah kehilangan rumah dan seluruh harta bendanya yang habis dilalap api, kini mereka terpaksa harus berurusan dengan rentenir.
Dengan dalih tidak mau merepotkan pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab atas nasib warganya, mereka jutru memilih jalan pintas dengan berhutang ke lintah darat demi mendapatkan uang untuk membangun kembali tempat tinggalnya.
"Suami terpaksa hutang dulu sama koperasi yang tak tahu kantornya di mana (rentenir) untuk buat rumah lagi. Kalau tidak, saya dan anak-anak mau tinggal dimana ?. Soalnya sudah tidak ada biaya, sementara suami saya hanya seoarang pemulung," kata Elis, kemarin.
Keterbatasan skil dan penghasilan tentu hal tersebut sangat memberatkan mereka. Rata-rata dari mereka hanya bekerja sebagai kuli, pemulung, dan supir yang hanya bisa mendapatkan upah maksimal Rp30 ribu perhari. Dengan penghasilan segitu pulalah mereka menghidupi keluarga dan membayar hutang ke lintah darat tersebut.
Sebelumnya, sekitar 35 kepala keluarga (KK) korban kebakaran tersebut mendapatkan bantuan sekitar Rp900 ribu dari masyarakat melalui Dinas Sosial Kota Batam. Jelas saja, jumlah segitu tidak mencukupi untuk pembangunan rumah mereka, apa lagi setelah Posko Dinsos tutup, sudah tidak ada lagi bantuan yang datang ke mereka. Terpaksa uang tersebut habis mereka gunakan untuk biaya kebutuhan sehari-hari.
"Sejak ditutupnya Posko bantuan Dinas Sosial dua hari sebelum lebaran lalu, kebanyakan warga berusaha mencari uang sendiri untuk pembangunan rumah mereka, karena tidak ada lagi bantuan yang datang. Diantara mereka banyak yang meminjam uang ke rentenir dengan dipatok bunga 20 persen," jelas Sekretaris RT 06/04 Kampung Pisang, Tanjung Uma, Muhammad Arif.
Hingga kini ada sekitar 20 rumah yang sedang di bangun pemiliknya dari hasil pinjaman tadi, dan yang lainnya masih dalam kondisi rata dengan tanah.
Menurut Jhon, warga yang belum memperbaiki rumahnya disebabkan karena belum mendapatkan dana, dan kini mereka kebanyakan menumpang tinggal di tempat saudaranya masing-masing. Jhon dan warga yang lainnya hingga kini masih mengharapkan kepada masyarakat Batam dapat membantu meringankan beban mereka.(cw51)
Kami Terpaksa Pinjam ke Rentenir
- Selasa, 06 September 2011 00:00
