Jumat11302012

Last update12:00:00 AM

Back Insert Penghasilan Supir Pompong Turun

Penghasilan Supir Pompong Turun

Share

Dibandingkan Idul Fitri Tahun Lalu
TANJUNGPINANG - Raja Jamaluddin (58), warga asli Pulau penyengat yang kesehariannya berprofesi sebagai supir pompong rute Tanjungpinang-Penyengat menyatakan penghasilannya pada Idul Fitri tahun ini menurun. Ia tidak bisa menyamai pendapatannya pada Lebaran tahun lalu sekitar Rp6 jutaan.
"Penghasilan Rp6 juta di tahun lalu itu pendapatan selama seminggu," kata Jamaluddin ditemui di Pelabuhan Kuning, Senin (5/9).

Walaupun begitu, suami dari istri Raja Aishah ini, tetap mensukuri berapapun rejeki didapatnya. Kerasnya persaingan dalam mencari nafkah tetap tak menyurutkan niat Jamaluddin untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.

Ia menceritakan, sejak Lebaran hari pertama hingga kelima, Jamaluddin hanya memperoleh penghasilan sebanyak Rp3 juta saja. Itupun penghasilan kotor. Kalau dihitung-hitung, penghasilan bersihnya cuma Rp1,5 juta saja.

"Ya, Alhamdulillah, saya tetap bersukur dan jumlah itu cukup untuk makan keluarga saya di Penyengat dan uang belanja sekolah anak saya," tutur bapak dua anak itu.

Rambut yang mulai kelihatan memutih dengan sesekali menghisap rokok, Jamaluddin mengisahkan perjalanan hidupnya. Sebelum dirinya menjadi supir pompong, ia merupakan seorang nelayan tradisional di tanah kelahirannya, Penyengat. Melalui keahliannya, ia menangkap ikan di beberapa lokasi pulau di beberapa wilayah Provinsi Kepri.

Karena hasil tangkapan berkurang dan usia sudah tua, Jamaluddin kemudian beralih profesi menjadi supir pompong rute Tanjungpinang-Penyengat. Ia telah melakoni pekerjaan itu sejak tahun 2005 lalu.

"Pompong ini punya saya sendiri. Saya beli seharga Rp16 juta, dari uang pinjaman. Alhamdulillah sudah lunas sekarang," ceritanya, sambil sesekali menengok ke arah pompong miliknya.

Lanjut Jamaluddin, pada waktu pertama kali terjun sebagai supir pompong, rejeki yang dia dapatkan lumayan baik. Tahun demi tahun berjalan, hingga pada saat ini, kata dia, minimnya promosi disertai tidak adanya lahan lokasi perparkiran di Pelabuhan Kuning penyengat tersebut, menjadi salah satu pemicu menurunnya jumlah penumpang. Sehingga akhirnya berdampak pada penghasilan supir pompon.

"Semenjak zaman Gubernur Pak Ismeth hingga Pak Sani, tidak ada perubahan. Malahan semakin sempit saja ekonomi sekarang," gumamnya. (rudi yandri)


Newer news items:
Older news items: