Farida, Wanita yang Jadi Pemulung
TANJUNGPINANG - Farida (43), wanita asal Jawa yang kesehariannya berprofesi sebagai pemulung barang-barang bekas dari tempat sampah yang ada di setiap ruas jalan di Kota Tanjungpinang. Profesi ini sudah digelutinya sejak empat tahun lalu.
Dengan bermodalkan sebuah karung yang sudah kusam, Farida berusaha sekuat tenaga untuk mencari barang-barang bekas yang bisa untuk di jual. Penghasilannya sehari tidak menentu, kadang kalau lagi beruntung bisa mendapatkan Rp30 ribu sehari. Kalau lagi tidak beruntung, penghasilan Farida pernah cuma Rp10 ribu saja.
Karung kusam yang menjadi andalannya untuk menempatkan barang-barang bekas selalu dipikul di bahunya. Kemanapun dia melangkah, karung kusam tersebut selalu menyertainya.
Dalam perjalanannya mencari sesuap nasi, Farida tidak pernah sekalipun menggunakan kendaraan. Ia hanya berjalan kaki.
"Kalau lagi rejeki berat barang bekas dalam karung bisa mencapai 15 kilogram," kata Farida saat ditemui Jalan MT Haryono, Batu 3 sedang mencari barang-barang bekas, Selasa (6/9).
Walaupun begitu, perempuan asal Jawa yang datang ke Tanjungpinang ini tetap bersyukur dengan apapun yang dia kerjakan. Setiap hari dia mulai melakukan pekerjaannya itu selepas Shalat Subuh, dan berakhir menjelang malam hari.
"Pekerjaan sebagai pemulung ini sebenarnya tidak pernah terlintas di dalam pikirannya sebelum hijrah ke Tanjungpinang ini," tutur Farida.
Farida menceritakan, awalnya ia hanya seorang petani di kampung halamannya. Ia merantau ke Tanjungpinang, dengan alasan ingin mengubah nasib.
Namun apa dinyana, mimpi mendapatkan kerja yang bagus justru tak diperoleh Farida. Hingga akhirnya ia memutuskan menjadi pemulung.
"Ya, mau di bilang apa lagi, cari kerja memang susah. Biar jadi pemulung, yang penting halal," ujarnya, bangga.
Siang kemarin, matahari sepertinya sudah tepat di atas ubun-ubun kepala Farida. Meski keringat sudah membasahi tubuhnya, namun Farida tetap melanjutkan pekerjaannya mencari kaleng, tembaga, karton, besi dan barang lainnya yang bisa dijual lagi.
"Semua barang-barang yang saya dapatkan ini, hanya untuk makan sehari saja. Buat makan besok, saya harus memulung lagi," ucap Farida sambil menyeka keringat di wajahnya.
Farida mengatakan, ia baru akan pulang ke kampung halamannya jika sudah mendapatkan pekerjaan bagus dan uang yang cukup. (tengku bayu)
- Soemantri, Kabid Dikmen Disdikpora Tpi
- Hayat Pelaku Bom Solo
- Penyandang Cacat Sejak Lahir
- Herman, Penarik Bentor di Pulau Bersejarah
- Yani Yati, Wisudawati STTI Peraih IPK tertinggi
- Ngaret Sidang, Pimpinan DPRD Disambut Tepuk Tangan
- Melihat Sejarah Koperasi Ahmadi & Co
- Tari Gobang sebagai Tarian Asli Anambas
- Gamad Kesenian Tradisional Kembali Bangkit
- 7 Tahun Kematian Aktivis HAM Munir
- Kami Terpaksa Pinjam ke Rentenir
- Penghasilan Supir Pompong Turun
- Berbagi Minuman Kaleng Saat Lebaran
- Syamsul Bahri, Porter di PSBP
- Puluhan Bayi di Kepri Lahir 17 Agustus 2011
- Simarasok Sumbar Juara I, Bengkuas Bintan Harapan 3
- Ani Yudhoyono Grogi sekaligus Bahagia
- Berbuka Puasa Bersama Ala Obama di Gedung Putih
- Menikmati Hikayat Dewa Mendu
- Kisah Mahasiswa Malaysia Saat Rusuh di Inggris