ANAMBAS- Tari Gobang yang kini dikembangkan seniman dari Letung, berasal dari Jemaja di Kabupaten Kepulauan Anambas (KKA). Tarian ini merupakan hasil dari kreasi masyarakat dalam menciptakan satu karya seni yang menghibur berdasarkan kebudayaan daerah setempat. Usia tarian yang kini menjadi ikon tarian asli Anambas ini diperkirakan telah dibawakan oleh seniman Letung sejak 500 tahun silam.
Marzuki, Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) KKA menyampaikan bahwa sejarah Tari Gobang bermula dari nelayan yang sedang pergi melaut dengan jongkong, kira-kira dua sampai tiga orang. Jongkong adalah perahu kecil yang dipakai melaut saat angin teduh. Ditengah melaut mereka mendengar adanya bunyian dari darat terdekat, tempat dimana mereka menangkap ikan.
Penasaran dengan bunyian itu, nelayan tadi merapat untuk mengetahui bunyian tersebut. Dari pencarian dilakukan, mereka melihat ada sekolompok orang sedang mengadakan tarian yang tidak menentu dengan memakai wajah tidak jelas. Mereka menduga bahwa penari itu adalah setan yang memiliki wajah menyeramkan, bersedih dan ada juga yang tengah gembira. Namun tarian mereka itu tidak menentu gerakannya. "Karena penasaran dengan bunyian dari daratan, kelompok nelayan ini berusaha mencarinya. Dimana mereka menemukan adanya penari-penari yang tidak beraturan di dalam hutan tersebut," kata Marzuki.
Dalam kegelapan malam, rombongan nelayan tersebut terus memperhatikan gerakan demi gerakan sampai menjelang subuh. Beriringan dengan itu, hari mulai terang dan semakin tampaklah wajah para penari itu, karena wajah yang tampak tak jelas timbul dugaan di hati mereka penari tersebut adalah "orang bunian" dari makhluk halus. Rasa takut pun menghantui mereka, sehingga mereka berlarian untuk kembali ke laut dan pulang ke rumah masing-masing. "Hingga kini sejarah dari masyarakat tentang Tari Gobang ini berasal dari orang bunian atau makhluk halus yang hidup ditengah-tengah hutan," katanya lagi.
Lebih jauh Marzuki, menyampaikan bahwa tarian tersebut merupakan hal baru bagi nelayan itu, sehingga mereka mencoba mengingat- ingat gerakannya, kemudian memulai gerakan demi gerakan yang bertumpukan pada gerakan kepala dan kaki guna tercipta gerakan tarian persis seperti yang mereka lihat dari orang bunian tersebut.
Namun demikian Marzuki juga menyampaikan, pendapat lain asal Tari Gobang juga dibawa oleh pendatang yang singgah di Jemaja dan kemudian menarikannya. Sehingga tari ini dipelajari oleh masyarakat Jemaja, dan terus ditarikan setiap kegiatan desa. "Ada juga pendapat lain, kalau Tari Gobang ini dibawa oleh pedagang yang singgah di Jemaja dan kemudian dicontoh juga oleh masyarakat setempat," ucapnya.
Tari Gobang ini menjadi satu kesenian baru bagi masyarakat yang kini berkembang di Letung, Jemaja dan daerah sekitarnya terus dibudayakan dari waktu ke waktu hingga kini. Tarian ini dibawakan oleh 10 orang penari laki-laki dan boleh lebih dengan wajah bertopeng, atau tertutup serta diiringi musik gendang pukul yang khas. Disbudparpora KKA terus mengembangkan kesenian yang sudah membudaya ratusan tahun di Anambas, sehingga generasi muda dapat mengenal Tari Gobang dan terus dilestarikan sepanjang waktu.
"Kita terus pertahankan dan kembangkan seni budaya Tari Gobang ini, melalui pembinaan dan penampilan di beberapa iven kesenian baik itu dalam kegiatan-kegiatan daerah juga ditingkat provinsi maupun nasional. Sehingga kesenian ini dapat terus dibudayakan dan diwariskan untuk generasi muda Anambas," pungkasnya. (cw47)
Tari Gobang sebagai Tarian Asli Anambas
- Rabu, 21 September 2011 00:00
