Mengais Rezeki di Tumpukan Sampah
KARIMUN - Jika ditanya cita-citanya, mungkin Jamat (35) tidak mau menyebut kalau ingin jadi seorang pemulung. Namun, garis hidup telah menghantarkannya untuk menggeluti pekerjaan itu hingga belasan tahun. Bau sampah yang menusuk hidung sudah sangat akrab di hidung bapak dua orang anak ini. Karena, sehari-harinya ia memang selalu bergelut dengan tumpukan sampah.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kampung Sememal, Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Meral merupakan 'ladang' bagi Jamat mengais rezeki untuk menghidupi keluarganya. Di lokasi pembuangan sampah itulah ia tiap hari memungut sampah sisa-sisa pembuangan masyarakat yang masih bisa dimanfaatkan seperti sampah plastik dan kaleng bekas.
Bermodalkan satu keranjang besar dan pengais yang terbuat dari besi tua, lelaki paruh baya itu mengait satu persatu barang-barang yang masih memiliki nilai jual. Barang bekas seperti bungkusan minuman mineral, kaleng, plastik dan panci atau kertas karton yang ditemukannya itu dikumpulkan dalam keranjang yang selalu dengan setia bertengger di pundaknya itu.
"Banyak dapat hari ini pak?" Sapa Haluan Kepri kepada Jamat. Mendengar ada yang menegurnya, pria berperawakan kurus itu menoleh ke sumber suara. "Ah, lumayanlah," ujarnya pelan. Ia kembali melanjutkan pekerjaanya memungut-mungut kantong plastik yang tertimbun tumpukan sampah lainnya.
"Beginilah Mas, nasib jadi pemulung. Kalau tidak begini, istri dan anak di rumah mau makan apa. Anak saya yang besar sudah mau masuk SMP. Sementara yang nomor dua sekarang sudah duduk di kelas IV SD. Sekarang saya lagi bingung memikirkan biaya sekolah anak sulung saya. Kalau berharap dari hasil mulung, hanya cukuplah buat makan," kata pria yang mengaku tinggal tak jauh dari lokasi tersebut.
Sebenarnya, Jamat ingin beralih ke pekerjaan Iain, namun karena dirinya tidak memiliki keahlian. Maka ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. "Maunya sih ada pekerjaan yang lebih baik dari ini. Tapi saya sendiri tidak memiliki keahlian apa-apa. Terpaksalah bertahan jadi pemulung," keluhnya.
Selain menjadi tempat mengais rezeki bagi pemulung, tempat pembuangan sampah tersebut juga menjadi tempat makanan bagi ternak sapi dan kambing. Puluhan sapi dan kambing nampak berkeliaran di lokasi pembuangan sampah tersebut, hewan-hewaan itu memakan sayuran dan buah-buahan busuk yang banyak berserakan diantara tumpukan sampah tersebut.
Hewan-hewan itu berkeliaran bebas tanpa diikat dengan tali. Mereka terlihat gemuk dan sehat. "Disini memang banyak berserakan sayuran dan buah-buahan yang sudah membusuk, sayuran dan buah-buahan itulah yang menjadi makanan sapi dan kambing-kambing ini," kata Jamat.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Senemal merupakan pembuangan sampah di Karimun, lokasinya berada sekitar 800 meter dari Jalan Raya Sememal-Pasir Panjang. Tidak jauh dari lokasi pembuangan sampah itu terletak Kantor Lurah Pasir Panjang. Bau sampah yang menyengat sangat terasa di sekitar kantor tersebut.
Puluhan ton sampah hasil pembuangan industri dan rumah tangga di Karimun setiap hari dibuang di TPA Sememal tersebut. Sampah-sampah itu diangkut menggunakan lori pengangkut sampah milik Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP) Kabupaten Karimun. Pengangkutan sampah dilakukan dua kali sehari, yakni setiap pagi da sore hari. (ilham)
- Siang Pembayaran Retribusi, Malam Tempat Ngopi
- Ramai-ramai Menikah di 11/11/11
- Gasing, Permainan Rakyat yang Melegenda
- Ingat Dimarahi Guru
- Dua Kali Juara Dunia Matematika
- Bawah Batang, Desa yang Terisolir
- Keseharian Nenek Mahwe
- Kisah Siswa Pulau Belat
- Obituari Pendiri Apple, Steve Jobs, 'Saya Bukan Hamba Uang'
- DUA TAHUN GEMPA SUMBAR
- Ujang, Tukang Sol Sepatu Keliling
- Suka Duka Jadi Pendidik Suku Asli Karimun
- Penderita Thalassemia, Nia Butuh Uluran Tangan
- Soemantri, Kabid Dikmen Disdikpora Tpi
- Herman, Penarik Bentor di Pulau Bersejarah
- Penyandang Cacat Sejak Lahir
- Hayat Pelaku Bom Solo
- Yani Yati, Wisudawati STTI Peraih IPK tertinggi
- Ngaret Sidang, Pimpinan DPRD Disambut Tepuk Tangan
- Melihat Sejarah Koperasi Ahmadi & Co