Saturday, Oct 08th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Obituari Pendiri Apple, Steve Jobs, 'Saya Bukan Hamba Uang'

Obituari Pendiri Apple, Steve Jobs, 'Saya Bukan Hamba Uang'

CALIFORNIA-Kepuasan kerja sejati tidak terletak pada uang yang dijanjikan tetapi pada pengembangan diri untuk terus memperbaiki kualitas sumber daya sebagai bekal yang tidak terseret inflasi seiring perkembangan waktu.

Petikan kutipan di atas pernah disampaikan oleh Steve Jobs untuk menggambarkan keinginannya yang tak pernah padam memberikan inspirasi bagi orang lain soal rahasia kepuasan dan kesuksesan kerja sebelum ajal menjemputnya pada usia 56 tahun, Rabu (5/10) waktu Amerika Serikat (AS) atau Kamis pagi WIB.

"Saya dihargai dengan bayaran hingga 1 juta dolar AS pada usia 23 dan lebih dari 10 juta dolar AS pada usia 24, bahkan lebih dari 100 juta dolar AS pada usia 25. Tetapi kenyataan ini tidak menjadi penting karena saya tidak menaruh fokus perhatian saya pada uang yang saya terima," ujar pendiri dan mantan Chief Executive Officer (CEO) Apple Inc, perusahaan raksasa teknologi komputer AS, itu suatu ketika.

"Apa yang saya lakukan bukan memberikan kemudahan bagi orang lain tetapi membuat mereka menjadi lebih baik," pesan Steve yang menilai pengembangan kualitas diri sebagai prioritas kepuasan kerja tak hanya berdampak pada diri sendiri tetapi juga orang lain. "Waktu kalian terbatas, jadi jangan habiskan hidup ini dengan semata bergantung pada pandangan orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma yang hanya berisi pemikiran orang lain. Jangan biarkan kebisingan akan pendapat orang lain menenggelamkan buah pikiran pribadi kalian. Dan yang terpenting peganglah teguh apa yang menjadi intuisi dan suara hatimu. Orang lain juga ingin melihat apa yang menjadi pandangan kalian sebenarnya," imbuhnya.

"Inovasi membedakan seorang pemimpin dari pengikut. Ini yang selalu kami terapkan sebelum terjadi ledakan bisnis dot-com. Apa yang perusahaan kami lakukan adalah justru menemukan investasi saat resesi terjadi. Kami tidak akan memecat karyawan tetapi justru berusaha memaksimalkan mereka untuk menjadikan Apple sebagai fokus perhatian mereka. Sementara pemecatan hanya akan menjadi opsi terakhir," jelasnya.

"Ada yang mungkin mengatakan, Ya Tuhan, apa jadinya Apple apabila (Jobs) terlindas bus. Menurutku, kekhawatiran seperti ini tidak akan pernah terjadi karena sumber daya manusia yang benar-benar bermutu telah disediakan Apple," katanya.

"Tugas saya adalah menciptakan tim eksekutif handal untuk menggantikan posisiku. Yang saya lakukan bukan membodohi orang lain dan bukan meyakinkan mereka agar menerima sesuatu yang sebenarnya mereka tidak inginkan. Kami berhak memutuskan apa yang diinginkan untuk mencapai inovasi dengan harapan bahwa keputusan itu juga melatih kemampuan kami dalam membaca apa yang menjadi keinginan sebagian besar pasar. Untuk itulah kami dibayar yaitu untuk menciptakan produk yang benar-benar memuaskan pasar."

Perjalanan Hidup Jobs


Steven Paul Jobs lahir di San Francisco, AS pada tanggal 24 Februari 1955, anak dari dua mahasiswa yang masih kuliah dan belum menikah, Joanne Schieble dan seorang laki-laki kelahiran Suriah Abdulfattah Jandali. Orangtua biologisnya kemudian menyerahkan bayi mereka untuk diadopsi hingga akhirnya Steve diambil anak oleh pasangan keluarga kelas pekerja asal California, AS, Paul dan Clara Jobs.

Beberapa bulan setelah adopsi tersebut, pasangan orangtua aslinya menikah dan mempunyai seorang anak perempuan, Mona, yang baru setelah dewasa tahu kalau dia punya kakak laki-laki. Steve dibesarkan di tengah keluarga orangtua adopsinya di Silicon Valley, California, pusat industri elektronik AS.

Saat SMA, Jobs mendapat tawaran kerja musim panas di sebuah pabrik Hewlett Packard di Palo Alto dimana dia bertemu dengan seorang teman sekolah bernama Steve Wozniak. Jobs kemudian memilih keluar kuliah yang baru satu semester dijalaninya di Reed College di Portland, Oregon, dan bekerja untuk produsen video game Atari karena ingin mencari uang agar bisa pergi ke India.

Dia benar-benar melaksanakan niat itu dan kembali dari India dengan kepala plontos, pakaian jubah ala India serta pengalaman mengisap LSD. Jobs juga memeluk Buddha dan memilih gaya hidup vegetarian sepanjang hidupnya setelah perjalanan itu.

Kembali ke Atari, Jobs bergabung dengan sebuah klub komputer lokal dengan sohibnya Steve Wozniak yang tengah mendesain komputernya sendiri. Pada tahun 1976, Jobs berhasil menjual 50 komputer buatan Wozniak sebelum barangnya jadi, pada sebuah toko komputer setempat dan dengan pesanan ini berhasil mendapat kredit untuk membeli komponen komputer pada sebuah toko piranti keras di kota itu.

Akhirnya, mereka berhasil membuat komputer pertama yang diberi nama: Apple I. Jobs menamai perusahaan ini dengan nama buah favoritnya, Apple. sebuah nama yang entah sengaja atau kebetulan, akan muncul di daftar buku telepon lebih dulu ketimbang pesaing beratnya Atari.

Untung dari proyek Apple I langsung ditanam lagi untuk proyek berikutnya, Apple II, yang dipamerkan pada arena komputer California tahun 1977. Karena pengembangan mesin baru butuh banyak modal maka Jobs lalu meminta Mike Markkula, seorang investor lokal, agar mau menjamin pinjaman senilai 250.000 ribu dolar AS, dan untuk jasa itu, bersama dengan dirinya dan Wozniak, ketiganya menjadi pendiri Apple Computer.

Proyek Apple II, langsung mendapat perhatian, dan segera memulai revolusi komputer personal, sampai memetik nilai keuntungan enam juta dolar sebelum produksinya berakhir tahun 1993.

Namun karena dianggap kurang pengalaman manajemen dan penjualan, Jobs dipaksa mencari tenaga ahli dari luar. Seorang anggota dewan komisaris Apple menuding Jobs "tak terkendali." "Kalau sudah punya ide di kepala, dan karena merasa menjadi pendiri dari perusahaan, dia nekat jalan saja mengerjakan ide itu tidak peduli apakah nanti hasilnya untung atau rugi untuk perusahaan."

Jobs memperkenalkan Macintosh tahun 1984 yang langsung disambut sukses, namun pada saat yang sama Apple mengalami masalah keuangan. Akibat turunnya nilai penjualan, dan makin menyebarnya rasa tidak suka pada gaya Jobs yang semaunya, maka terjadi pembalikan kekuasaan internal dan dia pun akhirnya ditendang keluar.

Tapi Jobs tidak kapok. Dia malah mendirikan NeXT Computer tahun 1985 dan setahun berikutnya membeli Graphics Group dari sutradara seri Star Wars, George Lucas. Perusahaan ini dinamainya Pixar, yang menciptakan piranti keras untuk animasi dengan teknologi canggih yang kemudian dipakai oleh sejumlah rumah produksi film terkemuka, termasuk Disney.

Jobs menukar titik tekan produksinya dari komputer ke film animasi. Hasilnya mencengangkan. Tahun 1995 dengan film Toy Story, yang ditonton jutaan orang dengan keuntungan kotor 350 juta dolar AS, Jobs sekali lagi membuktikan kehandalan instingnya. Sukses juga diikuti oleh film A Bugs Life, Finding Nemo serta Monsters Inc.

Setahun setelah itu Apple membeli NeXT seharga 400 juta dolar AS dan Jobs kembali ke tampuk kekuasaannya semula di Apple dengan menyingkirkan direkturnya saat itu.

Untuk mengurangi nilai kerugian Apple maka proyek-proyek kecil dibatalkan dan arah perusahaan dibelokkan pada pasar konsumen elektronik yang sedang tumbuh. Pemutar musik iPod yang diluncurkan Apple Inc tahun 2001 berhasil merebut simpati penikmat musik seluruh dunia dan segera menjadi ikon gaya dengan desainnya yang mulus dan ear phone putih yang sangat khas.

Jobs juga meluncurkan layanan iTunes, agar konsumen bisa mengunduh musik dari internet dan langsung memilih daftar musiknya sendiri.

Tahun 2003, Jobs didiagnosa menderita kanker pankreas namun menolak dioperasi. Pilihannya adalah mencari pengobatan alternatif termasuk mengikuti sebuah pola makan dengan diet khusus. Tapi operasi akhirnya tak terhindarkan dan berlangsung tahun 2004 setelah sebelumnya hanya sedikit sekali orang penting di Apple yang tahu tentang penyakitnya ini.

Tahun 2005, Disney membeli saham Pixar dari Jobs senilai 7 miliar dolar AS, dan akibatnya menjadikan ayah empat anak ini menjadi pemegang saham terbesar.

Saat meluncurkan produk ikonik iPhone, Jobs sudah tampak kurus dan tirus akibat penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dua tahun berikutnya Jobs memperkenalkan iPhone yang segera disambut fanatisme konsumen yang rela antri berjam-jam untuk membeli barang baru ini.

Berikutnya tahun 2008 Macbook Air yang super tipis diperkenalkan dimana Jobs melakukan rilis produk dalam busana yang kemudian dikenal sebagai merek dagangnya: baju rajut lengan panjang dengan kerah kura-kura serta celana jins biru yang sudah usang.

Badannya yang kurus dan penampilannya yang tampak pucat memantik spekulasi bahwa penyakitnya kambuh dan akhirnya pada tahun 2009, dia mengumumkan mengambil cuti enam bulan untuk mengatasi persoalan yang disebutnya sebagai "ketidakseimbangan hormonal." Pada tahun yang sama Jobs menjalani operasi cangkok hati, yang menurut dokter yang menanganinya berjalan "sempurna." Namun pada Januari 2011, lagi-lagi Apple mengumumkan bahwa Jobs akan mengambil cuti dengan alasan kesehatan.

Steve Jobs adalan tipe pemain tunggal; hanya yakin pada dirinya sendiri dan kemampuannya dan tak sabaran melihat orang lain membantah keinginannya. Sementara kehandalannya yang paling utama adalah kemampuan untuk menerka pasar dan punya indra cium kuat terhadap desain dan produk inovatif yang akhirnya akan dipuja konsumen.

Dunia Berduka


Meski super-kaya (kekayaannya mencapai 8,3 miliar dolar AS), tidak seperti pendiri Microsoft Bill Gates, Steve Jobs jarang menunjukkan ketertarikan pada dunia amal. Dan anehnya, sebagai seorang penganut Buddha, dia juga tidak mempraktekkan gaya hidup hijau, sampai Apple diprotes Greenpeace karena tidak membuat barang yang mudah didaur-ulang.

Jobs menikahi Laurene Powell tahun 1991 dengan cara Buddha dan kemudian punya tiga anak. Namun belakangan muncul pula kabar bahwa ia punya anak lain bernama Lisa Brennan-Jobs (lahir 1978), dari hubungannya dengan pelukis Chrisann Brennan. Jobs sempat membantah Lisa sebagai anaknya, namun kemudian mengakuinya.

Begitu Apple Inc secara resmi mengumumkan kematian Jobs, ucapan simpati dan belasungkawa langsung mengalir dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari para pemimpin dunia. "Dengan sedih kami umumkan Steve Jobs meninggal dunia hari ini," demikian keterangan tertulis dari jajaran pimpinan Apple seperti ditulis abcnews, Kamis (6/5).

"Semangat dan energi Steve yang brilian menjadi sumber penemuan yang sangat berharga untuk hidup kita. Kehidupan manusia menjadi lebih baik karena Steve," tulis mereka.

Sebagai ucapan duka cita, website apple pun memasang foto hitam putih Steve Jobs. Di sampingnya tertulis Steve Jobs 1955-2011. "Dunia telah kehilangan manusia yang luar biasa," puji CEO Apple Timothy D Cook.

Presiden AS Barack Obama menyampaikan ucapan duka cita atas kematian Jobs. Ia memuji Jobs sebagai salah satu inovator terbesar yang pernah dimiliki AS bahkan dunia. "Steve adalah salah satu inovator besar Amerika. Berani untuk berpikir berbeda, punya keyakinan besar untuk mengubah dunia. Dan sangat berbakat," tutur Obama seperti dilansir Reuters.

Perdana Menteri Australia Julia Gillard juga ikut berduka atas kepergian pria yang disebutnya "jenius" itu. "Kita semua akan akan tersentuh setiap hari dengan produk-produk di mana dialah si jenius kreatif di belakang produk-produk itu, jadi ini berita yang sangat menyedihkan dan belasungkawa saya untuk keluarga dan teman-temannya," kata PM Gillard kepada para wartawan di Canberra, Australia. "Tidak berlebihan untuk mengatakan dia benar-benar telah mengubah dunia kita," imbuh Gilard seperti dikutip AFP.

"Belasungkawa tulus saya untuk keluarga dan semua yang menghargai intelegensi dan talentanya," kata Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Ia menyebut Jobs sebagai pria yang mengubah dunia. "Orang-orang seperti Steve Jobs mengubah dunia kita," ujarnya.

Tak ketinggalan bos-bos perusahaan informasi dan teknologi (IT) dunia seperti Bill Gates (pendiri Microsoft) dan Mark Zuckerberg (pendiri Facebook) juga menyampaikan rasa kehilangannya. Mereka menyebut Jobs sebagai kawan sekaligus rival. "Saya berjumpa Steve sekitar 30 tahun lalu, dan selama ini kita berkawan dan bersaing. Sebuah kehormatan yang sangat besar bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya," kata Bill Gates.

"Steve, terima kasih telah menjadi mentor sekaligus kawan. Terima kasih telah menunjukkan apa yang kamu buat telah bisa mengubah dunia. Saya merasa kehilanganmu," ujar Mark Zuckerberg.

Presiden dan CEO Sony Corp Howard Stringer mendeskripsikan Steve Jobs sebagai cahaya utama di era digital. "Era digital kehilangan cahaya utamanya. Tetapi inovasi dan kreativitas
Steve akan menginspirasi generasi pemimpi dan pemikir," kata bos perusahaan raksasa elektronik asal Jepang itu. (bbc/kom/dtc)