Thursday, Dec 08th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Kisah Siswa Pulau Belat

Kisah Siswa Pulau Belat

Wajau Hujan-Panas, Tapi Tetap Bersemangat

Tanjungbatu – Siswa siswi SMAN 2 Pulau Belat yang berada di Kecamatan Kundur Utara harus harus diacungkan jempol. Soalnya, kendari hujan maupun terik matahari menyengat, mereka tetap bersemangat bersekolah.


Setiap harinya pelajar-pelajar ini harus menyeberanngi selat yang ada di Tanjung Berlian untuk mencapai sekolah yang ada di Pulau Belat. Dengan kapal pancung yang tidak beratap, siswa ini di musim panas akan melawan teriknya matahari, di musim penghujan harus bermandikan air hujan.

Siswa-siswi asal Pulau Belat ini kebanyakan mengecam pendidikan yang ada di SMP N 1 dan SMA N 2 Kundur Utara. Anak-anak pulau ini mengaku tdak menjadi masalah jika harus menyeberangi selat yang ada setiap harinya untuk menuju sekolah. Namun yang menjadi kendala bagi siswa ini adalah di saat musim penghujan. Karena di musim hujan menurut anak-anak Pulau Belat ini sangat sulit untuk mencapai kesekolah yang akan dituju.

“Hujan dan panas terik adalah resiko kami siswa di sini, ujar Mayrano, siswa SMAN 2 asal Banut.

Ia menuturkan, bila hujan hanya gerimis masih bisa diusahakan walaupun sesampainya di sekolah pakaian yang digunakan sudah lembab. Namun jika hujan terlalu deras bukan kita malas, melainkan menurutnya harus bertaruh nyawa.

“Karena jika hujan deras selain ombak yang besar, maka sesampainya di sekolah juga kita tidak bisa belajar dengan konsen,” ungkap Adha. Selain itu, kita juga risau harus memikirkan pakaian yang basah kuyup. Begitu juga dengan buku yang dibawa tentunya akan rusak. (cw54)

Siswa asal Pulau Belat yang berasal dari tiga wilayah yakni Sebele, Bunut, Dan Bawah Batang ini terdiri kurang lebih 40 siswa. Dari ketiga wilayah ini, yang sangat di prihatinkan adalah yang berasal dari wilayah bunut. Karena menurut Adha , kapal yang ada untuk hantar jemput siswa hanya ada satu.

Adha siswa SMA N 2 ini sangat sedih menceritakan nasib sebagai anak seberang. Karena menurutnya, jika hari hujan di waktu pulang terpaksa ia harus naik ikut perahu yang sudah menjemputnya. “Basah-basah bang sampai rumah, mau macam mana lagi memang ini nasib anak seberang,” ungkap Adha.

Harapan Adha, semoga ada uluran tangan pemerintah untuk mencari solusi, yang telah lama menjadi problema bagi anak pulau.

Hal serupa juga di sampaikan oleh Dora siswa asal Palau Sebele. Ia juga merasa sedih di saat musim penghujan. Karena menurutnya terkadang jika hujan tiba di waktu pagi. Membuat siswa–siswi berasal dari beberapa pulau di antara Pulau Belat tidak dapat hadir mengikuti proses belajar mengajar sebagaimana mestinya.

“Untung saja untuk kami-kami siswa asal seberang dikasih toleran sama guru bang,” ujar Dora.

Dora merasa senang, ternyata masih ada toleransi dari guru terhadap siswa asal seberang pulau. Hanya saja, siswa –siswi ini tentunya ketinggalan bahan ajar yang diberikan oleh gurunya.

Entah bagaimana caranya, memang perjalanan siswa –siswi asal pulau seberang ini sangat memperihatinkan d imusim penghujan. Tidak hanya dirasakan oleh para pelajar masa kini namun juga dirasakan oleh pelajar-pelajar sebelumnya.

Hal serupa kata Adha, sebenarnya dirasakan oleh guru-guru Tanjung Berlian yang mengajar ke Pulau Belat. Karena uru-guru ini juga harus berfikir panjang untuk mengajar. (cw45)