Thursday, Feb 23rd

Last update11:35:07 AM GMT

You are here: Insert Keseharian Nenek Mahwe

Keseharian Nenek Mahwe

Songsong Kebahagian dengan Sapu Lidi

Ukuran kebagiaan bagi seseorang berbeda-beda. Bayangkan, banyak orang yang telah memiliki semuanya seperti mobil, rumah maupun seluruh kebetuhan hidup lainnya. Tapi diantara mereka banyak tidak bahagia. Sementara itu, ada orang yang hanya hidup dari tumpukan sampah, makan kadang satu kali sehari, namun keceriaan dan kebahagian terpancar di wajah mereka.


Begitu juga dengan nenek Mahwe. Wanita yang mulai renta ini merasa bisa hidup bahagia, kendati hanya dihidupi oleh sapu lidi yang sehari-hari dibuatnya dan ditenteng ke pasar untuk dijual ke Pasar Dabo.

Mahwe (65) siang itu tampak mengumpulkan beberapa pelepah kelapa yang sudah tumbang di pinggir Pantai Dabo. Dia tidak sendiri. Ketika itu, Ina (6) mendampinginya dengan setiap memungut satu demi satu pelepah kepala yang gugur di pinggiran pantai sepanjang jalan laut jauh.

Untung saja, ada satu unit sepeda ukuran kecil sederhana membantu dirinya mengurangi beban tumpukan daun kepala yang sudah dilepaskan dari pelepahnya. Bebannya jauh sekali berkurang.

Aktifitas ini dilakoni setiap hari. Dengan tekun dan sabar dia pun meraut lidi dari daun kelapa satu persatu. Hingga akhirnya menjadi satu bundelan yang bisa dibuat satu unit sapu.

"Sudah bertahun-tahun saya membuat sapu lidi. Hasil dari berjualan sapu setiap hari cukup untuk makan kami berdua beranak. Satu hari saya bisa selesaikan 5 sampai 10 buah sapu lidi. Satunya dihargai sekitar Rp5 sampai Rp7 ribu rupiah. Namun, kadang laku kadang juga tidak," katanya Jum'at (14/10) kemarin.

Mahwe mengakum senang melakoni pekerjaan ini. Apalagi dia sering ditemani sang cucu tercinta yang masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar." Ini cucu saya dia masih kelas 1 SD. Kami di rumah cuma tinggal berdua saja. Suami saya masih ada, namun jarang pulang ke rumah. Dia bekerja di Sungaipinang, Daik. Kadang-kadang saja pulangnya. Kami sudah hampir 30 tahun tinggal di sini. Setiap hari kami lakukan pekerjaan ini. Biasanya kalau pagi saya ambil daun, petangnya saya buat sapu. Tapi kalau tidak sempat, pagi saya buat sapu, sorenya saya ambil daun di sepanjang pantai di sini," ceritanya lagi.

Terkait dengan bantuan rumah atau bantuan-bantuan yang mungkin pernah diberikan oleh pemerintah nampaknya nenek Mahwe tidak pernah memusingkanya. "Bupati Lingga pernah sampai ke rumah saya. Dahulu beberapa tahun yang lau juga ada yang datang mengambil data dan poto-poto rumah saya. Katanya mau dapat bantuan, namun sampai sekarang tidak ada juga. Saya juga tidak tahu apakan saya bisa dapat atau tidak. Saya tidak paham," katanya polos.

Mahwe kendati hidup sehari-hari bergantung dengan sapu lidi, tapi dia menemukan kebahagiaan. Kulitnya yang mulai keriput tidak berarti mengendorkan semangatnya untuk terus berjuang meriah kebahagiaan dengan membuat sapu lidi dan menjualnya. (JEPRIYADI)