Tanjungbatu – Bawah Batang merupakan sebuah desa yang terisolir dari pembangunan. Bentuk dan tatanan wilayah mengharukan. Mulai dari jalan umum hingga sebagian pemukiman warga terendam banjir di kalan hujan. Sungguh malang nasib warga yang ada di Bawah Batang, dengan keterbatasan infrastruktur membuat desa ini seolah terisolir. Hanya bangunan pelabuhan yang tampak megah di Bawah Batang ini.
Banyak orang terperanggah saat berkunjung ke Bawah Batang. Apa yang tampak di luar sangat berbeda dengan keadaan yang ada di dalam menuju pemukiman warga.
“Saya tidak mengira jika ternyata wilayah Bawah Batang ini sangat mengharukan. Tadinya saya melihat dari keadaan yang ada di pelantar pelabuhan sangat mengugah hati saya untuk mengetahui, kemajuan-kemajuan apa yang terjadi di dalamnya. Namun saya terkejut saat harus melintasi jalan umum yang terendam banjir.,” kata Ahmad, salah seorang warga yang berkunjung ke desa itu.
Tidak hanya itu kemajuan dari infrastruktur yang ada di desa juga sangat minim. Hal ini dapat dipantau melalui instansi pendidikan bagi siswa, ternyata di Bawah Batang ini tidak ada sekolah.
Selain itu juga penerangan yang ada juga tidak ada. Masyarakat yang mengunakan penerangan di desa ini hanya sebahagian, itupun menumpang penyaluran dari rumah tetangga yang mempunyai jenset.
Warga desa lainnya, Zulkarnain mengatakan, hingga kini Desa Bawah Batang belum ada sekolah. Warga sekolah di Pulau Belat (Sebele), untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sementara sekolah menengah atas berada di Penarah.
“Jelas sangat memperihatinkan jika terjadi hujan. Selain jalan yang becek juga karena jarak tempuh yang begitu jauh kurang lebih dua setengah kilo meter harus di tempuh siswa-siswi asal Bawah Batang ini,” timpal warga lainnya.
Yang menjadi harapan dari warga Bawah Batang ini adalah adanya pembangunan jalan dan drainase. Agar mempermudah siapapun yang akan berkunjung ke wilayah itu. Karena media yang menghubungkan satu desa dengan desa yang lai. Jika tidak ada jalan yang memadai menghambat kelancaran seseorang untuk beraktivitas.
Selain dari pada keterbatasan dari kemajuan penerangan dan jalan, ternyata pemukiman yang ada di desa ini juga sangat memeperihatinkan. Saat terjadi hujan selama satu jam saja dengan curah yang begitu deras membuat pemukiman warga terendam banjir.
"Inilah kondisi kampung kami yang seolah tidah terjamah oleh pembangunan. Bentuan bedah rumah di beri (alhamdulillah), namun apakan daya ada bahan tidak bisa bangun karena lokasinya terendam banjir,” kata Baharudin ketua RT setempat.
"Apa yang memperihatinkan seolah tidak mendapat sorotan serius. Seolah mengenai persengketaan lahan terbahas berlarut-larut," imbuhnya lagi
Desa Bawah Batang yang terdiri kurang lebih dari 30 kepala keluarga ini, kebanyakan warganya berprofesi sebagai petani. Sementara untuk bertani membuatuhkan lokasi yang sangat terjaga mengenai pengairannya.
Wahid Ketua Kelompok Tani Desa Bawah Batang menyatakan, masyarakat sangat terbatas masa pertaniannya. Menurutnya, bila memasuki bulan berakhiran ber atau musim hujan, maka mereka tidak bercocok tanam. Karena menurutnya akan sia-sia menyudul tanaman terendam banjir dan bisa membusuk atau rusak. (cw54)
- Di Balik Pembunuhan Sadis Ibu-Anak di Karimun
- Rahasia Abon Lele Jumirah
- kegiatan Rampai Seni Budaya Melayu
- Atlet Balap Motor Kepri Menuju Pra PON
- Melihat Kondisi Terminal Mukakuning
- Siang Pembayaran Retribusi, Malam Tempat Ngopi
- Ramai-ramai Menikah di 11/11/11
- Gasing, Permainan Rakyat yang Melegenda
- Ingat Dimarahi Guru
- Dua Kali Juara Dunia Matematika
- Keseharian Nenek Mahwe
- Kisah Siswa Pulau Belat
- Obituari Pendiri Apple, Steve Jobs, 'Saya Bukan Hamba Uang'
- DUA TAHUN GEMPA SUMBAR
- Jamat: Maunya Sih Ada Pekerjaan Lebih Baik
- Ujang, Tukang Sol Sepatu Keliling
- Suka Duka Jadi Pendidik Suku Asli Karimun
- Penderita Thalassemia, Nia Butuh Uluran Tangan
- Soemantri, Kabid Dikmen Disdikpora Tpi
- Herman, Penarik Bentor di Pulau Bersejarah