BINTAN-Wamenpan Prof Dr Eko Prasojo dalam silaturahmi kemarin, mengaku sangat terharu sekaligus sedih dengan jabatannya saat ini sebagai Wamenpan. Ia terharu karena mendapat kepercayaan dan amanah dari presiden untuk melaksanakan tugasnya sebagai Wamenpan.
"Saya akui ini tugas berat. Karena ini merupakan amanah. Mungkin bagi orang lain ini menggembirakan, tapi bagi saya ini adalah tugas berat," katanya.
Guru besar UI ini menuturkan setelah sembilan tahun melaksanakan tugas dalam birokrasi pemerintahan akhirnya dirinya dipanggil Presiden SBY di Cikeas. "Presiden bilang pada saya bahwa birokrasi masih jalan di tempat, saya ditugaskan untuk mempercepat itu," sambung Eko yang saat acara memakai baju melayu warna kuning gading.
Lalu mengapa Eko sedih ? Anak bungsu dari sembilan sembilan bersaudara ini mengatakan bahwa dia merasa sedih karena di saat dia meraih apa yang diimpikan banyak orang, dia justru harus kehilangan ayah tercinta Sanen (85) mantan pegawai PT Antam Kijang, 22 September 2011.
"Perasaan sedih saya sangat mendalam. Karena di saat saya mendapat anugerah dari Allah, di saat itu juga saya harus kehilangan ayah yang sangat saya cintai. Beliau tidak bisa hadir saat pelantikan saya," ungkap Eko.
Eko bercerita bagaimana peranan ayahnya banyak berpengaruh dalam keberhasilannya saat ini. Kebiasaan Eko bangun malam, diakuinya karena kebiasaan sang ayah yang suka mengetuk pintu kamarnya agar dirinya melaksanakan shalat. "Meski soal pendalaman agama ayah tidak begitu luas, namun ayah banyak mendorong untuk keberhasilan anaknya seperti melaksanakan shalat," kata Eko.
Eko juga mengenang saat-saat indahnya di masa sekolah saat duduk di Sekolah Dasar dan SMP. "Saya pernah dimarahi guru waktu di SMP karena memasukan bola takraw dalam termos air," kata mantan siswa SMP 1 Kijang ini yang disambut tawa oleh sejumlah mantan gurunya yang hadir.
Bupati Bintan Ansar Ahmad saat memberi sambutan berharap akan muncul generasi muda lainnya dari Bintan seperti Eko. Di mata Ansar, Eko adalah sosok sukses yang tidak hanya berusia muda tapi kaya dengan ilmu.
"Kita berdoa semoga beliau kedepan dapat menduduki jabatan yang lebih tinggi lagi yakni menteri. Karena beliau adalah sosok muda yang memiliki pengetahuan yang sangat luas. Ini patut ditiru oleh generasi muda kita," kata Ansar.
Di hadapan Eko Ansar juga menceritakan cikal bakal berdirinya Provinsi kepri yang dimotori oleh tokoh sentral Huzrin hood. Dengan keterbatasan anggaran yang ada dari pusat Pemkab Bintan mencoba melaksanakan pembangunan termasuk pembangunan ibu kota.
Pemkab Bintan juga terus mengupayakan agar bantuan dari pusat dapat mengalir ke Bintan. Namun diakuinya mencari dana ke pusat itu memang tidak gampang. Salah satu penyebabnya, karena tidak adanya orang Kepri yang duduk sebagai menteri atau pun Dirjen di pusat.
"Karena kita tahu setiap pejabat di pusat pasti akan lebih mementingkan daerahnya masing-masing. Karena kita bangga akhirnya ada warga Kepri yang berasal dari Kijang yang bisa menjadi wakil menteri. Kita berharap dengan adanya pak Eko nanti, bantuan dari pusat dapat lebih lancar lagi mengalir ke Kepri," ujar Ansar.
Dalam kesempatan tersebut sebagai wujud rasa bangga kepada Eko, kelompok masyarakat yang menamakan dirinya "Kerabat Bintan Timur" memberi cindera mata kepada Eko. Abul Khoir anggota dari kelompok tersebut membacakan sebuah kata-kata bijak yang terdapat pada cinderamata tersebut. Usai acara, Eko tampak dengan sabar melayani masyarakat yang ingin berfoto dengan dirinya, termasuk dengan sejumlah guru SD dan SMP Eko dulunya. (edy)
- Agar Anak Suku Laut Bisa Sekolah
- Perahu Jong, Permainan Rakyat Pesisir yang Masih Lestari
- Di Balik Pembunuhan Sadis Ibu-Anak di Karimun
- Rahasia Abon Lele Jumirah
- kegiatan Rampai Seni Budaya Melayu
- Atlet Balap Motor Kepri Menuju Pra PON
- Melihat Kondisi Terminal Mukakuning
- Siang Pembayaran Retribusi, Malam Tempat Ngopi
- Ramai-ramai Menikah di 11/11/11
- Gasing, Permainan Rakyat yang Melegenda
- Dua Kali Juara Dunia Matematika
- Bawah Batang, Desa yang Terisolir
- Keseharian Nenek Mahwe
- Kisah Siswa Pulau Belat
- Obituari Pendiri Apple, Steve Jobs, 'Saya Bukan Hamba Uang'
- DUA TAHUN GEMPA SUMBAR
- Jamat: Maunya Sih Ada Pekerjaan Lebih Baik
- Ujang, Tukang Sol Sepatu Keliling
- Suka Duka Jadi Pendidik Suku Asli Karimun
- Penderita Thalassemia, Nia Butuh Uluran Tangan