Thursday, Feb 23rd

Last update11:35:07 AM GMT

You are here: Insert Melihat Kondisi Terminal Mukakuning

Melihat Kondisi Terminal Mukakuning

Siang Pembayaran Retribusi, Malam Tempat Ngopi
SEI BEDUK -- Keberadaan Terminal Mukakuning yang ada di seputaran pintu III Kawasan Industri Batamindo (KIB), Mukakuning, semakin jauh dari fungsi layaknya sebuah terminal. Tidak ada aktivitas menaikkan dan menurunkan penumpang yang dilakukan para supir angkutan umum di terminal ini. Biasanya, sebuah terminal dibangun dengan tujuan sebagai sarana pergantian antar rute. Sehingga waktu tempuh menjadi pendek dan waktu tunggu penumpang lebih singkat. Namun di Terminal Mukakuning yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah ini, fungsi tersebut tidak terlihat sama sekali.

Kendaraan angkutan penumpang yang masuk ke terminal pada pagi hingga sore hari, hanyalah untuk memenuhi kewajibannya membayar retribusi. Begitu retribusi sudah dibayarkan, kendaraan pun langsung keluar melanjutkan perjalanan. Besarnya retribusi dibedakan dalam dua jenis, yakni untuk jenis bus besar sebesar Rp3.000 dan bus sedang Rp1.500.

"Aturannya seperti itu, mau tak mau kita juga harus membayar setiap mau masuk KIB pada pagi ataupun sore hari," ungkap Rijal, salah seorang supir Metrotrans jurusan Bengkong-Mukakuning, Kamis (9/11).

Rijal ataupun supir-supir Metrotrans lain, sepertinya tidak mau tahu manfaat dari retribusi yang dibayar setiap harinya. Kalau untuk perbaikan fasilitas ataupun peningkatan pelayanan, sepertinya tidak mungkin. Apalagi jika melihat kondisi terminal saat ini, terlihat lusuh dengan lingkungan yang tidak terawat. Terminal yang diresmikan sejak 2005 lalu, bisa dikatakan sebagai wujud salah satu bangunan terlantar yang dikelola pemerintah daerah.

Hingga kini, terminal tersebut masih belum beroperasi secara normal. Namun, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam tetap melakukan pungutan retribusi bagi para supir angkutan umum, metrotrans yang melintasi jalur KIB. Padahal, beberapa bagian bangunan di terminal sudah banyak yang rusak. Aktivitas hanya terlihat dari kios-kios yang mulai sepi menanti pembeli.

Sebagian kios, juga ada yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal keluarga. Entah apakah mereka merupakan penghuni yang berhak menempati kios tersebut atau tidak. Di bagian belakang bangunan kios, terdapat bangunan fasilitas umum lainnya seperti mushala dan toilet yang tidak terurus. Pintu toilet kondisinya juga rapuh dan copot serta tanpa fasilitas air bersih yang menebarkan bau tidak sedap saat berada dekat bangunan ini.

Di samping bangunan fasilitas umum, terhampar tanah kosong yang dibatasi dinding tembok sekaligus sebagai pembatas terminal. Lahan kosong yang terlantar ini, juga menjadi tumbuh suburnya rumput ilalang dan semak belukar.

Sepinya terminal Mukakuning tampak jelas pada pagi menjelang siang ataupun menjelang sore hari. Beberapa anak-anak kecil juga bebas bermain memanfaatkan area terminal yang sepi dari kendaraan. Sementara saat malam, terminal mukakuning digunakan untuk mengais rezeki beberapa warung angkringan. Yang pengunjungnya didominasi para remaja dan anak muda karyawan perusahaan KIB dan sekitarnya.

"Tempatnya di ruang terbuka, lumayan kalau hanya untuk sekedar ngopi," ujar Supri, pemilik angkringan. (wan)


Newer news items:
Older news items: