Winson Pengen Kuliah di ITB
KARIMUN-Kesedihan masih menyelimuti wajah Ang Boon Hwa, suami dari Wati Setiawati alias Tia (37) dan ayah dari Winson (12), ibu dan anak yang dibunuh Haris alias Hendro Agus Prasetyo, Sabtu (12/11) lalu. Meski perasaannya sedih, namun lelaki asal Singapura ini berusaha tetap tersenyum ketika Kepala SD Maha Bodhi, Jusmar SKom bersama enam guru lainnya mendatangi rumah Ang di Komplek Sidorejo Indah I Blok F No 2, Kamis (17/11).
Kedatangan Kepsek bersama guru Winson adalah untuk menyerahkan bantuan sumbangan dana dari teman-teman dan majelis guru Winson di SD Maha Bodhi. Bukan hanya teman satu SD, bantuan itu ternyata juga berasal dari siswa SMP kelas 1 Maha Bodhi. "Seluruh teman-teman Winson merasa sangat kehilangan, jadi mereka menggalang bantuan sekedarnya buat keluarga. Bantuan ini juga berasal dari siswa SMP Maha Bodhi kelas 1," ujar Jusmar ketika menyerahkan bantuan tersebut kepada Ang.
Menurut Jusmar, di sekolah Winson dikenal memiliki banyak teman. Kawannya tidak hanya siswa SD saja, melainkan juga siswa SMP Maha Bodhi. Makanya, ketika mendengar kabar Winson telah tiada, maka semua kawan-kawan jadi sangat sedih. Salah satu bentuk kepedulian teman-temannya hanya melalui sumbangan bantuan ini," sambungnya.
Banyak cerita menarik tentang sifat Winson ketika terjadi perbincangan ringan antara guru dan bapaknya Winson itu. Ternyata, di sekolahnya Winson menyukai seorang murid di kelas VI B, sementara Winson sendiri duduk di kelas VI C. "Anak itu namanya Jihan. Saya sering menggoda Winson jika mereka pas lagi ngobrol, habis gitu Winsonnya malu-malu," ujar salah seorang guru perempuan itu.
Menurut guru yang lain, Winson orangnya sangat pintar. Dia sangat tertarik dengan teknologi. Bahkan, saking senangnya dengan dunia teknologi, ia pernah cerita kalau tamat dari SD Maha Bodhi ia ingin melanjutkan SMP dan SMA nya ke Batam. Setelah lulus SMA, ia ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Salah satu keahlian Winson menguasai teknologi, kata guru tersebut, yakni selain ia sering berselancar di facebook ternyata Winson juga membuat blog sendiri di internet. "Nama blog itu hanya bisa diketahui ketika sudah menjalin pertemanan dalam FB nya, nama FB nya Sang Millenixer. Nah, ternyata dalam FB dan blog itu isinya lebih banyak memuat foto-foto Jihan," ujar guru tersebut sambil tersenyum.
Bahkan, sekitar pukul 15.15 WIB, Sabtu (12/11) lalu itu, atau sekitar lima jam sebelum Winson menemui ajalnya, ia sempat menulis status di facebooknya dengan kalimat "Gol Indonesia Menang,". Status tersebut kemungkinan terkait pertandingan antara Indonesia melawan Singapura dalam pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta. Dalam laga itu, Indonesia menang 2-0 atas Singapura.
Salah seorang teman facebooknya yang juga tetangga korban mengomentari status tersebut, namun komentar itu tidak dibalas lagi oleh Winson. Kuat dugaan, usai membuat status tersebut Winson dijemput pelaku dari rumahnya itu dan membawanya keluar rumah. Karena saat itu, Winson selalu menanyakan keberadaan ibunya.
Cerita Winson menyenangi dunia teknologi juga dibenarkan sang ayah, Ang Boon Hwa. Ia menyebut bukti lain kecintaan Winson dengan dunia teknologi adalah laptop milik mamanya dikuncinya pakai password. Tujuannya, agar tidak sembarang orang bisa menggunakan laptop tersebut. Sehingga, ketika mamanya hendak memakai laptop tersebut harus minta dibukakan dulu oleh Winson karena laptop tersebut terkunci dan ia sendiri tidak pernah menyebut apa passwordnya.
Satu hal yang membuat Haris, pelaku pembunuhan tidak bisa kabur dari Karimun disinyalir karena laptop itu tidak laku terjual untuk ongkos kapalnya karena laptop tersebut tidak bisa dibuka. "Mungin itu juga yang menjadi penyebab kenapa laptop tersebut tidak bisa terjual ketika pembunuh itu hendak menjualnya karena laptop itu pakai password, sehingga calon pembeli tak jadi membelinya," celetuk tetangga Ang yang juga hadir saat itu.
Ang juga menceritakan sifat Winson sehari-hari, meski ia diberi jajan oleh mamanya, namun ia menyebut uang jajan itu tidak dibelanjakannya, kalau tidak ditabung uang itu diberikannya pada kawannya yang tidak punya jajan. "Pernah saya tanya, uang jajanmu mana, lalu dijawab sudah diberikan ke teman karena ia kasihan melihat kawannya tidak punya uang jajan," ungkap Ang.
Jusmar selaku kepala sekolah mengakui, meski muridnya ratusan namun ia sangat mengenal baik dengan Winson, anak itu menurutnya berbeda dengan anak muridnya yang lain. "Ketika murid yang lain menyapa dengan nada biasa saja. Namun sapaan Winson mengalun pakai nada. Itu yang selalu saya ingat dari anak itu selain orangnya yang sangat bersahaja dan pribadinya lembut," kata Jusmar.
Ketika ditanya kapan ia terakhir kali melihat Winson, sambil mengingat-ingat Jusmar menyebut Rabu atau Kamis pekan lalu. "Kalau tak salah Rabu atau Kamis lalu. Saat itu saya jumpa dia di tengah lapangan, ia menegur selamat siang paaaaakkkk sambil menjabat tangan saya," cerita Jusmar.
Ia mengaku sejak terungkapnya peristiwa pembunuhan Winson hingga sekarang ia sangat sulit untuk tidur, kalaupun tertidur namun tidak pernah nyenyak. "Beberapa hari ini saya sangat sulit tidur. Saya gak habis fikir, kenapa anak sebaik itu sangat cepat perginya. Padahal, ia tak tahu menahu jika ada persoalan antara mamanya dengan orang lain," ungkap Jusmar. (ham)
- Atlet Balap Motor Kepri Menuju Pra PON
- kegiatan Rampai Seni Budaya Melayu
- Melihat Kondisi Terminal Mukakuning
- Siang Pembayaran Retribusi, Malam Tempat Ngopi
- Ramai-ramai Menikah di 11/11/11
- Gasing, Permainan Rakyat yang Melegenda
- Ingat Dimarahi Guru
- Dua Kali Juara Dunia Matematika
- Bawah Batang, Desa yang Terisolir
- Keseharian Nenek Mahwe