Wednesday, Nov 30th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Tetap Ceria Walau Belajar di Gudang Tua

Tetap Ceria Walau Belajar di Gudang Tua

SD Tribuana Batam
SEKUPANG - Kisah film Laskar Pelangi yang menyentuh hati, salah satunya karena menceritakan tentang semangat anak-anak dalam menggapai cita-cita mereka, meski kondisi gedung sekolah yang sangat memprihatinkan, ternyata juga ada di Batam. Sekelompok anak murid, dan guru, tetap memperlihatkan semangat dan tekad kuat, meskipun mereka harus belajar di dalam gudang tua. Enam orang yang bertindak sebagai guru, tak sekalipun berkeluh kesah. Mereka pun tak pernah berharap bakal mendapat penghargaan. Yang ada, bagaimana caranya agar ke-50 anak didik mereka bisa mendapat ilmu pengetahuan yang mereka transfer, walaupun dalam kondisi sangat pas-pasan.

Di sebuah gudang tua milik Badan Pengusaha (BP) Batam di daerah Sekupang menjadi saksi guru dan murid yang bernaung di bawah bendera SD Tribuana Batam mencoba menggapai mimpi mereka. Setiap hari sekolah, sang guru penuh dedikasi memberi pelajaran. Sedang si murid, terus semangat menyerap pelajaran.

"Mendidik anak untuk lebih maju untuk menuju masa depan yang lebih cerah itu yang menjadi motifasi kami untuk terus bertahan mengajar di sini," Kata Rahmadona Wahyu Ringrum, satu dari enam guru yang mengajar di sekolah ini saat disambangi Haluan Kepri, Selasa (29/11).

Ringrum sadar, mengabdi di sekolah seperti ini, sangat mustahil untuk membuatnya kaya. Konsekwensi tersebut sudah ditanam dalam dirinya, dan juga guru-guru yang lain.

"Di sini bukan tempat untuk cari uang mas, tapi di sini bagaimana kami bisa memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak didik. Walaupun di sini setiap hari kami selalu kepanasan kalau hari panas dan kalau hujan kami harus bergeser karena air masuk akibat atap yang telah banyak yang bocor. Tapi itu tidak menjadi masalah," kata Ringrum.

Kondisi gudang yang dipakai untuk proses belajar mengajar tersebut, memang sangat sudah tidak layak untuk ditempati, apatah lagi dipakai untuk proses belajar mengajar. Atap yang terbuat dari seng sudah banyak yang berlubang. Kalau hujan turun maka airnya akan menyerbu ke dalam, sedangkan di saat panas, maka ruangan di gudang tersebut panasnya terasa menyengat.

Warna cat dinding sudah tak jelas lagi, sangat kusam. Kerangka-kerangka baja pondasi atap rata-rata telah berkarat termakan waktu, sehingga cukup berbahaya bagi siapapun yang berada di bawahnya. Lingkungan di sekitar gudang telah ditumbuhi rerumputan yang cukup tinggi.

Sirkulasi udara di dalam gudung ini sangat tak bagus. Namun, di tempat inilah para guru SD Tribuana Batam mengabdikan diri. Untuk membagi tiap tingkatan anak murid, mereka melakukan penyekatan ruangan dengan triplek. Ironisnya, triplek tersebut juga difungsikan untuk menjadi papan tulis bagi guru untuk mengajar.


"Ya beginilah kodisi kita. Panas kalau di dalam, sebentar saja sudah berkeringat karena tidak ada jendelanya," kata Musa Kasim yang menjabat sebagai Kepala Sekolah SD Tribuana Batam.

Hanya semangat pengabdian dan keseriusan membangun dunia pendidikan walau dengan kondisi pas-pasan yang menurut Musa, menjadikan mereka betah dan tetap setia memberi pelajaran bagi anak-anak didiknya. Dia pun mengumpamakan ke-50 murid yang terbagi dari kelas 1 sampai kelas 6 sebagai "laskar pelanginya" Batam.

Ditanya soal kelulusan, Musa menuturkan, pada Ujian Nasional (UN) silam, tujuh orang siswa kelas 6 SD Tribuana lulus 100 persen. Ketujuh siswa tersebut merupakan angkatan pertama SD Tribuana Batam. Ketika itu, mereka masih menumpang di SD 05 tiban untuk melaksanakan ujian. Saat ini, kata dia, ketujuh siswa tersebut tersebar di sejumlah SMP di Batam seperti SMPN 20, SMPN 25 dan SMP 37.

Bagaimana dengan gaji atau honor guru? Kata Musa, gaji ataupun honor guru diberikan seadanya saja. Uang itu didapat dari hasil pembayaran uang SPP para siswa. Kondisi itu tak jarang menjadi candaan sesama guru, terutama di saat ada siswa yang terlambat membayar uang sekolah.

"Kita kebingungan. Tapi semua dihadapi dengan santai dan penuh canda. Jadi tetap ceria walaupun honornya secukupnya saja," kata dia.

Saat Haluan Kepri berkunjung ke sekolah ini, sekitar pukul 12.00 WIB, jam pelajaran sedang istirahat. Di bawah rimbunnya pohon di tepi jalan, sejumlah siswa tampak menikmati makan siang. Bekal yang kata para penerus bangsa itu, mereka bawa dari rumah demi menghemat biaya. (ahmad juang)