Jumat06022017

Last update05:00:00 AM

Back Insert Perjuangan Dokter Muda di Desa Nelayan, Bintan

Perjuangan Dokter Muda di Desa Nelayan, Bintan

Sering Digigit Lipan di Kala Tidur

BINTAN-Muda, energik dan berdedikasi itulah sosok dr Yudo Irawan (25), dokter PTT (Pegawai Tidak tetap) Provinsi Kepri yang ditugaskan di Desa Pangkil, salah satu desa nelayan di Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan. Yudo yang telah bertugas di desa itu hampir tujuh bulan, senang dan bangga bisa membantu masyarakat nelayan yang umumnya hidup dalam kesederhanaan.


"Saya senang bisa membantu masyarakat di desa ini. Memang cita-cita saya dari kecil ingin menjadi dokter agar bisa membantu masyarakat kecil yang membutuhkan pengobatan," ungkap Yuda, dokter umum lulusan Universitas Andalas, Padang kepada Haluan Kepri beberapa hari lalu.

Menyimak kisah dokter muda ini membuat hati tergelitik miris. Untuk mencapai Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Pangkil, dr Yudo harus menyeberangi lautan dari Pelantar Tanjungpinang selama lebih kurang satu jam perjalanan menggunakan pompong.

Ombak tinggi dan tiupan angin kencang harus dihadapinya. "Saya kadang basah kuyup kena siraman air laut di saat ombak tinggi," kata Yudo yang merupakan anak bungsu dari H Alex Ali Gani, Kasi Olahraga Disdikpora Bintan.

Pengorbanan sang dokter muda kelahiran Tanjungpinang 20 Agustus 1986 ini tidak sampai di situ saja. Di lokasi bekerja dia harus tabah dan kuat hati tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana yang semi permanen.

Sebagaimana rumah di perkampungan nelayan, kondisi rumah tersebut memang sangat sederhana dan jauh dari kelayakan untuk ukuran seorang dokter. Namun itu tak menjadi masalah bagi Yudo. Tak jarang dia pun harus terjaga di tengah malam karena tiba-tiba kakinya disengat binatang berbisa lipan. Lipan memang salah satu hewan yang sering 'menemaninya di rumah kontrakan tersebut.

"Kalau sudah digigit lipan saya cepat makan obat. Alhamdullilah meski sering digigit lipan sampai saat ini saya sehat-sehat saja," kata Yudo sembari memperihatkan bekas gigitan lipan di kakinya.

Meski berasal dari keluarga cukup berada, hidup di tengah masyarakat desa nelayan berpenduduk sekitar 1.200 jiwa ini tidak membuat dokter yang juga lulusan SMAN 1 Tanjungpinang ini merasa kecewa dan tertekan. Justru dia sangat menikmati pekerjaannya. Profesi dokter seolah telah menjadi panggilan hatinya. Dia pun memberikan seluruh waktunya untuk masyarakat.

"Tak siang, tak malam jika ada warga yang membutuhkan sebisanya saya akan segera membantu. Saya menerapkan fast respon (respon cepat) dalam bertugas. Begitu juga jika ada nelayan kelong yang mengalami kecelakaan kita harus datang ke kelong tersebut meski berada di tengah laut," katanya sembari berharap Pemkab Bintan lebih memperhatikan kondisi dokter yang bertugas di wilayah jauh dan terpencil.

Tugas Yudo di desa tersebut memang tak lama akan berakhir. Jika tidak ada perubahan, sesuai penugasan yang diberikan kepadanya bulan Mei 2012 nanti dia pun harus meninggalkan desa tersebut. Dokter yang fasih berbahasa Inggris dan sering mengajarkan anak-anak desa berbahasa Inggris tersebut berencana akan melanjutkan pendidikannya sebagai dokter spesialis kulit. Karena menurut dia dokter spesialis kulit masih langka di Kepri.

Di kesempatan lain, Camat Teluk Bintan Suwarsono mengatakan warga Desa Pangkil sangat terbantu dengan keberadaan dokter di desa tersebut. Pasalnya selama ini jika ada warga Pangkil yang sakit terpaksa dirujuk di wilayah terdekat yakni Tanjungpinang. Di kecamatan Teluk Bintan, katanya ada enam desa dan satu kelurahan. Masing-masing desa adalah Pangkil, Tembeling, Pengujan, Penaga dan Bintan Buyu. Sedangkan satu kelurahan yakni Tembeling Tanjung.

"Dari enam desa tersebut hanya Desa Pangkil yang memiliki tenaga medis seorang dokter," katanya. Untuk mempermudah transportasi bagi masyarakat yang sakit menuju Tanjungpinang, Pemkab Bintan juga sudah menyiapkan sebuah speedboat yang dikelola oleh aparat desa. (edy)

Share