Thursday, Feb 23rd

Last update11:35:07 AM GMT

You are here: Insert Yulia, 10 Tahun Menderita Hydrocephalus

Yulia, 10 Tahun Menderita Hydrocephalus

Yulia Vernia, warga Air Kolek Kelurahan Ranai hanya bisa tersenyum ketika disapa. Bocah perempuan berusia 10,8 tahun yang akrab dipanggil kakak ini sehari-hari berada di kamar ditemani adik laki-lakinya yang duduk di bangku sekolah dasar kelas 2.


Sambil berbaring di kamar beralaskan kasur tipis, anak pasangan Sukardi dan Adriani kerap merintih dan menangis akibat sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Yulia menderita penyakit Hydrocephalus (kepala membesar) sejak usia 8 bulan.

Orang tua Yulia, Sukardi baru tahu putrinya menderita hydrocephalus setelah YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) Cabang Natuna membawanya ke rumak sakit untuk diperiksa.

Sukardi sempat putus asa melihat kepala anaknya yang terus membesar. Apalagi informasi yang diterimanya sangat minim. Ia tidak menyangka kalau anaknya menderita Hydrocephalus sudah sejak lama.

Menurut orang tua Yulia, alasanya tidak membawa putrinya keluar rumah karena malu. Sehingga ia tidak pernah membawanya berobat. Orang tuanya pesimis penyakitnya bisa sembuh.

" Kami sudah putus asa untuk mengobati Yulia," ujar Adriani yang ditemui di kediamannya, Kamis (8/12).

Untuk makan sehari-sehari, Yulia hanya diberi asupan nasi bubur. Dan hanya makanan ini yang bisa dicernanya untuk tetap bertahan hidup. Yulia adalah bocah yang tegar, meski penyakitnya tak kunjung sembuh, ia tetap saja tersenyum jika ada seseorang yang menjenguknya.

Meski dia tidak bisa berbicara dengan lancar, tetapi bocah ini sangat suka bernyanyi lagu berjudul "kasih ibu". Dengan suara agak cadel, lagu tersebut mampu ia nyanyikan dari awal hingga akhir. Lagu ini lah yang sering dinyanyikan Yulia. Sehingga tidak heran jika seseorang yang melihatnya merasa iba dan sedih. Sedih melihat Yulia bocah kecil yang harus merintih kesakitan saat sesekali penyakitnya kambuh.

" Kami sudah pasrah, tapi jika Yulia bisa diobati, kami pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ini karena kami tidak memiliki biaya untuk membawa dia berobat," kata Adriani dengan nada sedih.

Ketua YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) Cabang Natuna, Ngesti Yuni Suprapti memberikan bantuan kursi roda kepada bocah malang tersebut. Ngesti Yuni Suprapti langsung menjenguk Yulia bersama pengurus YKAI begitu mengetahui bocah tersebut menderita Hydrocephalus.

" Kursi roda ini untuk membantu Yulia agar bisa keluar rumah tanpa digendong orang tuanya lagi. Dengan begitu, Yulia bisa menghirup udara segar, dan tidak berdiam diri didalam rumah terus," ujar Ngesti.

Menurut Ngesti, penyakit Yulia bisa sembuh jika dioperasi. Tetapi tempurung kepalanya tidak bisa kembali mengecil. Hanya saja, setelah dioperasi asupan makanan yang dicernanya, tidak lagi diserap oleh otak seluruhnya, melainkan akan diserap oleh seluruh organ tubuhnya.

" Dengan dioperasi, setidaknya bisa membantu Yulia menggerakan tangan, kaki dan seluruh organ tubuhnya yang sekarang ini sudah lemah dan tidak bisa berfungsi lagi," kata Ngesti.

Ngesti menyebutkan, terkait hal ini ia sudah menghubungi salah satu yayasan di Jakarta yang khusus menangani penyakit hydrocephalus
supaya bisa memberikan bantuan pengobatan kepada Yulia.

" Nama Yayasannya Azizah Foundation. Beralamat di Jakrta. Mereka yang minta dicarikan anak yang menderita penyakit hydrocephalus yang berusia di bawah sepuluh tahun untuk diobati. Dan kita dari YKAI sudah mengirimkan data Yulia beserta foto wajahnya ke yayasan. Mudah-mudahan cepat diproses supaya Yulia bisa diobati," tutut istri mantan bupati Natuna itu.

Ngesti berharap, bantuan kepada Yulia tidak hanya datang dari pemerintah saja tetapi juga dari masyarakat. Karena untuk biaya pengobatan Yulia cukup besar " Semoga saja, pengobatan Yulia akan digratiskan oleh yayasan,"ujar Ngesti.(leh)


Newer news items:
Older news items: