Senin03262018

Last update05:00:00 AM

Back Insert Nasib Guru Mengajar di Daerah Pedalaman di Lingga

Nasib Guru Mengajar di Daerah Pedalaman di Lingga

Dua Tahun Tinggal di Kamar Mandi

LINGGA- Nasib para guru yang mengajar di daerah pelosok kondisinya masih memprihatinkan hingga sekarang ini. Seperti yang terjadi di Dusun Beluduk, Desa Marok Kecil, Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, dua guru terpaksa tinggal di dalam ruangan kamar mandi hingga memasuki dua tahun lamanya.

Entah sampai kapan, dua guru, yakni Ruli Nuriadin sebagai Guru Matematika dan Aswin, sebagai Guru Agama yang mengajar di SMPN 04 itu tinggal di dalam ruangan kamar mandi, hingga sekarang tidak ada yang tahu. Karena Pemerintah Kabupaten Lingga melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) maupun pihak lain belum ada yang bisa menjamin untuk segera mencarikan tempat tinggal (rumah guru) yang layak.

Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 010 dan SMPN 04 satu atap di Dusun Beluduk, Desa Marok Kecl, Kecamatan Singkep, Muhammad Saman mengatakan, akibat keterbatasan infrastruktur perumahan bagi guru di dua sekolahan tersebut, maka terpaksa dua orang tenaga pendidiknya menempati kamar ruang kamar mandi sebagai tempat tinggalnya. \

"Kondisi ini terpaksa kami lakukan lantaran keterbatasan tempat tinggal bagi para guru yang mengajar di sini. Kedua orang guru itu sudah sekitar dua tahun lalu menempati ruangan kamar mandi dan WC sekolah sebagai tempat tinggal mereka," kata Saman ditemui Haluan Kepri di rumahnya di kawasan belakang pasar ikan Dabo Singkep, Selasa (20/12)

Dikatakan, selain kekurangan infrastruktur bagi perumahan guru, juga terdapat kekurangan ruangan belajar bagi kedua sekolah tersebut. Akibat persoalan itu, pihaknya terpaksa menjadikan ruangan kantor SMPN 04 untuk ruangan belajar dan ruangan perpustakan SDN 010 untuk ruangan kantor secara bersama di sekolah satu atap tersebut. Sementara sekolah satu atap itu sendiri sudah berdiri sejak tahun 2007 silam

"Sebenarnya masih banyak terdapat kekurangan di sekolah kami. Hal ini sudah sering kami sampaikan kepada pihak terkait, terutama beberapa pejabat yang datang meninjau langsung ke sini. Pada saat kunjungannya, rata-rata mereka terkejut kenapa bisa begini, kemudian akan berusaha memperjuangkannya. Tapi kenyataan sampai hari ini kondisinya masih begitu saja," ungkap Saman.

Diterangkan, total tenaga pengajar termasuk Tata Usaha dan petugas lainnya di sekolah satu atap tersebut sebanyak 23 orang, dengan jumlah murid dari kelas 1 hingga kelas 6 di SDN 010 sebanyak 82 orang. Sedangkan jumlah murid di SMPN 04 dari kelas 7 (kelas 1) hingga kelas 9 (kelas 3) sebanyak 27 0rang.

"Untuk infrastruktur perumahan bagi sekolah saat ini baru ada sebanyak 5 rumah, terdiri 2 kopel atau 4 rumah bagi guru dan satu rumah bagi kepala sekolah. Sebagian dari para guru ada yang memiliki rumah sendiri, sebagian lagi ada yang tinggal di rumah saudara mereka yang terdekat dengan sekolahan, dan ada juga yang terpaksa menempati rumah warga sekitarnya," ucapnya

Sedangkan Saman sendiri, kendati mendapati perumahan bagi kepala sekolah, namun ia juga telah memiliki rumah sendiri yang terletak di kawasan belakang pasar Ikan Dabo Singkep.

"Jadi perumahan yang diperuntukan bagi saya tersebut, saya serahkan ke guru-guru lain yang sudah lebih lama mengajar di sekolah itu. Sementara, dua orang guru (Ruli dan Aswin) terpaksa menempati ruangan kamar mandi dan WC sekolah sejak dua tahun silam," ungkap Saman

Lebih lanjut Saman menyebutkan, semua murid di SDN 010 maupun SMPN 04 satu atap di Desa Marok Kecil tersebut merupakan waraga sekitar termasuk warga yang tinggal di pulau terdekat dengan desa itu. Sedangkan jam masuk pelajaran bagi murid di dua sekolah tersebut, hanya pada pagi hari.

Ditempat yang sama, Ruli Nuriadin yang akrab disapa Ruli, Guru Matematika di SMPN 04 Desa Marok Kecil ini mengaku, terpaksa memilih kamar mandi sekolah sebagai tempat tinggalnya bersama Aswan, rekan sesama pengajar di SMPN 04 lantaran tidak ada cara lain bagi mereka untuk tinggal di tempat yang lebih baik, sebagaimana rumah layak huni umumnya.

"Kalau dibilang sedih, bagi saya itu biasa aja. Ketimbang saya tidak punya tempat tinggal yang lebih dekat dengan sekolahan ini," ucap pria asal Jawa Barat dan alumni Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bandung tahun 2008 ini.

Baginya, menempati ruangan kamar mandi dan WC sekolah sebagai tempat tinggal tidak menyurutkan niat dan semangatnya sebagai tenaga pendidik, khususnya bagi murid dari kelas 1 hingga kelas 3 di SMPN 04 Desa Marok Kecil tersebut. Kenyataan ini juga sudah sejak dua tahun silam ia alami selepas lulus mengikuti tes pada penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pemkab Lingga tahun 2009.

Selepas lulus tes CPNS tahun 2009 ia langsung mengajar di sekolah ini. terkadang ia juga merangkap mengajar sebagai guru diperbantukan di SDN 010. Hal yang memberatkan bagi nya selama di sana, cuma pada malam hari, karena sepi dan minim penerangan listrik PLN.

"Kalau ada listrik PLN hanya dari jam 19.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB, itu pun nyalanya tidak maksimal. Hal lain belum lagi kondisi jalan yang berlumpur lantaran belum di aspal," ungkap Ruli.

Sebelumnya Ketua DPRD Lingga H Kamarudin Ali mengaku terkejut dan prihatin ketika mendapati Muhammad Saman, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN 010 di Desa Marok Kecil, Kecamatan Singkep menempati ruangan WC sebagai tempat tinggal. Hal ini diketahui sewaktu melakukan kegiatan monitoring dalam rangka menjaring aspirasi masyarakat ke sejumlah wilayah di Lingga, termasuk di Desa Marok Kecil, akhir pekan lalu.

Namun setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata yang menempati kamar mandi dan WC sekolah tersebut adalah dua orang guru di SMPN di desa tersebut, yakni Ruli Nuriadin Guru Matematika dan Aswin, Guru Agama yang mengajar di SMPN 04.

"Sungguh sangat memprihatinkan masak ada guru yang tinggal di dalam kamar mandi. Bak kamar mandi dibuat sedimikain rupa sebagai tempat tidur," kata Kamarudin, Senin (19/12).

Dikatakan, pembangunan infrastruktur perumahan guru di Kabupaten Lingga saat ini belum maksimal. Disdikpora Lingga seharusnya peka dengan kondisi infrastruktur dan fasilitas perumahan guru. Apalagi untuk sekolah yang terletak di pedalaman. "Jangan hanya menuntut guru untuk disiplin dalam melakukan pengajaran kepada murid, tapi fasilitas perumahan guru diabaikan," ucapnya.

Dilanjutkan, dalam monitoring ke sekolah tersebut, ia juga melihat kondisi sekolah yang serba kekurangan. Dengan kondisi yang serba kekurangan tersebut, Kamarudin ragu, jika program pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di Lingga akan tercapai.

"Apapun program yang dbuat Disdikpora untuk meningkatkan pendidikan, jika kebutuhan tenaga pendidiknya diabaikan, mustahil akan tercapai. Jadi jangan kita bicara soal mutu pendidikan, sementara nasib para gurunya saja terbaikan," ujarnya.

Dia berharap, dalam penggnggaran APBD 2012, Disdikpora dapat lebih memprioritaskan pembangunan infrastruktur perumahan guru di daerah-daerah terpencil di Kabupaten Lingga.

"Kita perlu mepertanyakan kinerja yang dilakukan oleh Kepala Disdikpora Lingga saat ini. Kenyataan ini merupakan salah satu contoh atau bukti ketidakpedulian mereka dalam menjalankan tugas, terutama meperhatikan nasib para guru saat ini. Jika perlu pada APBD 2012 yang tengah dibahas ini, kita pangkas saja semua anggaran yang tidak berpihak dengan nasib dan fasilitas guru-guru di daerah ini," ungkapnya

Menyikapi hal tersebut, Kepala Disdikpora Pemkab Lingga Abdul Razak yang ditemui Haluan Kepri di Pemkab Lingga dengan santai menjawab akan lebih memperioritaskan masalah infrastruktur bagi rumah para guru di Lingga. "Ya, kalau kurang nantik akan kita tambah anggaran APBD untuk perumahan guru tersebut," katanya singkat.

Disinggung berapa persen anggaran yang akan diplotkan untuk perumahan serta fasiltas bagi para guru baik pada APBD tahun 2011 dan APBD 2012 Pemkab Lingga nanti, Razak tidak bisa menjawabya.

"Saya tidak sempat menghitungnya. Itu konsultanlah yang bisa menjawab. Udah saya tidak mau berkomentar lagi, nantik disalahartikan lagi," ucap Razak sambil berlalu (nel).

Share