Kasman, Pengusaha Batam
Kasman merupakan salah satu pengusaha di Batam yang memulai usaha dari bawah. Pria kelahiran Selat Panjang tahun 1962 silam ini menolak bila dikatakan sebagai pengusaha sukses di Batam, karena menurutnya masih banyak pengusaha yang jauh lebih sukses dibandingkan dirinya.
"Saya bukan apa-apa dibandingkan yang lain," ujar Kasman membuka percakapan saat ditemui di kantornya PT Frozen Food di kawasan Nagoya, Sabtu, 31 Desember 2011 lalu. Namun begitu, Kasman tidak keberatan bila diminta untuk berbagi pengalaman tentang kisahnya membangun usaha di Batam.
Menurutnya, ia memulai usaha dengan memegang tiga prinsip, yang pertama memegang teguh petuah dan aturan kedua orang tuanya.
Kasman merupakan anak lelaki kedua atau anak ke lima dari 11 bersaudara. Sejak dini, ia telah dididik dengan penuh kedisiplinan oleh ayah dan kakak lelakinya. Kedisiplinan dan aturan yang diajarkan itulah yang hingga kini menjadi pegangan hidupnya.
"Sejak kecil kami sudah dididik oleh ayah untuk bertanggung jawab dengan penuh kedidisiplinan. Apalagi saya keturunan kedua dari keluarga yang asli Cina. Ayah saya sampai ke Indonesia karena perang Cina melawan Jepang. Bagaimana pedihnya hidup ayah zaman itu, sampai harus memakan daun untuk bertahan hidup. Karena itu, beliau mendidik kami dengan sangat keras agar anak-anaknya disiplin dan menjadi pekerja keras. Syukurnya kami semua tumbuh menjadi orang-orang yang bertanggung jawab," kenang Kasman.
Kisah orangtua serta petuah dan didikan yang sangat disiplin menjadi pegangan hidupnya. Apapun ia kerjakan untuk membantu keuangan keluarga.
"Saya tak pilih-pilih pekerjaan untuk mendapatkan uang. Asalkan halal saja, saya kerjakan. Saya bekerja dengan orang, dipercaya orang. Saya telah bekerja sejak masih belasan tahun. Saya bantu orang bawa barang, bawa ikan untuk dijual di pasar," ujar Kasman.
Pekerjaannya tersebut membawanya berkenalan dengan banyak orang, terutama yang jauh lebih tua dibandingkan dirinya. Karena ketelatenannya bekerja, ia pun dipercaya untuk membawa ikan segar untuk masuk ke Singapura.
Kepercayaan yang didapatkannya tidak ia sia-siakan, ia bekerja dengan penuh tanggung jawab. Semakin lama, kepercayaan oleh bosnya semakin besar, sehingga ia dipercaya penuh untuk membawa barang dalam jumlah besar ke Singapura.
"Modal kedua hidup saya adalah kejujuran. Tanpa kejujuran, jangan harap bisa dipercaya orang," ujar Ketua Yayasan Bakti Nusantara itu lagi.
Saat masih berusia 17 tahunan, Kasman dipercaya oleh seorang pengusaha untuk membawa ikan dengan kapal ke Singapura. Tugasnya tidak hanya sekedar membawa ikan, tetapi juga mengikuti sistim lelang ikan di negeri jiran tersebut.
"Bagaimana sulitnya mengikuti lelang, kita harus berhitung cepat, kalau tidak bisa rugi. Tanggung jawab ada di pundak. Untungnya saya cepat belajar, dan hasil pekerjaan saya bisa memuaskan bos. Sehingga saya dipercaya untuk selalu membawa ikan dari Selat Panjang, dari Karimun, dari Batam ke Singapura," kenang Kasman.
Prinsip ketiga yang juga menjadi pegangan hidupnya adalah memegang teguh komitmen, sehingga apa yang ia usahakan bisa terwujud.
Banyak hal yang telah ia lalui, banyak pelajaran pula yang ia dapatkan. Baginya, setiap masalah dalam kehidupan mengandung pelajaran yang sangat berharga. Semua itu didapatkannya dengan banyak belajar dari teman-temannya yang tidak lain guru baginya.
"Saya bisa dikatakan lebih cepat matang dibandingkan teman-teman seusia. Semua itu karena pergaulan saya dengan orang-orang yang lebih tua. Saya masih belasan tahun, teman-teman saya sudah berusia diatas 45 tahun. Merekalah yang memberi pandangan-pandangan hidup, dan banyak memberi saya pelajaran, saya banyak berguru pada mereka," kenang Kasman yang merantau ke Batam sejak tahun 1991.
Pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Provinsi Kepri ini juga pernah punya pengalaman pahit saat merintis usaha di Batam.
Sekitar pertengahan tahun 1991, dengan modal sendiri Kasman membawa daging kambing dari Selat Panjang ke Batam. Karena buruknya transportasi dan lamanya diperjalanan, membuat daging yang ia bawa busuk. Akibatnya, Kasman mengalami kerugian yang sangat besar.
Karena tekadnya untuk maju, Kasman tidak mau menyerah. Beberapa kali ia membawa daging kambing untuk di jual ke Batam. Usahanya tersebut berjalan dengan baik, hingga akhirnya Kasman memiliki gudang sendiri di Batam.
Kini, Kasman menjadi salah satu distributor ayam di Batam. Ia mendatangkan ayam, baik ayam es maupun ayam segar dari beberapa daerah di Indonesia, terutama Jawa.
Selain terus mengembangkan usahanya dalam menyediakan kebutuhan ayam di Batam, Kasman juga sedang mengembangkan beberapa usaha lainnya, baik restoran maupun properti. Kini, Kasman sedang getol-getolnya mengembangkan Restoran Bakso Wong Cilik.
"Harapan saya dari Bakso Wong Cilik ini tidak muluk-muluk, bagi saya bisa membuka lapangan kerja bagi masyarakat dan mendapatkan harga yang sangat terjangkau sudah cukup. Saya tidak pentingkan untung, asalkan tidak susbidi saja. Itu tekad saya. Saya juga berencana untuk menjadikan sebagai salah franchise yang bisa membantu banyak keluarga. Saya juga punya mimpi bagaimana brand Bakso Wong Cilik ini bisa berkembang dan semua orang mengenalnya, terutama di Kepri. Jika ingin makan bakso wong cilik, tidak harus ke warung baksonya, tetapi bisa di dapatkan secara instan di minimarket atau supermarket," tutur Kasma sambil tersenyum.(Nana Marlina)
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Berburu Ikan Dingkis, Jelang Imlek
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir
- Tradisi Perayaan Imlek
- Menunggu Prestasi dari Belajar di Lantai
- Hengki Suryawan, Anak Nelayan Miskin, Kini Punya 100 Kapal
- Wanitapun Perkasa Pengangkut pasir
- Rutan Tpi Jadi Objek Wisata
- Ocarina Berbenah Sambut 2012
- Malam Tahun Baru di Mata Pemulung
- Semoga Malam Tahun Baru Tak Hujan...
- Ajaib, Pisang Berbuah dalam Batang Pohon
- Haluan Kepri Makin Bagus...
- Along Pasti Pulang, Pa...
- Kilas Balik Hukum dan Korupsi di Kepri 2011
- Mengintip Trik Sukses Bos Golden Prawn
- Yang Beruntung dalam Program Angket Pembaca HK
- Nasib Guru Mengajar di Daerah Pedalaman di Lingga
- Penarikan Undian Angket Pembaca Haluan Kepri
- Jangan Remehkan Siswa SLB