ANAMBAS - Kondisi perekonomian yang semakin hari semakin sulit menyebabkan perempuan-perempuan Mangkait, Siantan Selatan, Anambas ikut menjadi kuli pengangkat pasir. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh laki-laki ini menjadi pilihan bagi ibu-ibu di Mangkait untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
"Kebutuhan hidup semakin meningkat. Sementara pengasilan suami tidak mencukupi buat makan. Belum lagi untuk biaya anak sekolah,"kata Ket salah seorang wanita pengangkut pasir dari Mangkait pada Haluan Kepri ,Jumat,(6/1).
Ket memilih menjadi buruh pengangkut pasir untuk membuat bangunan di desanya. Sementara suaminya hanya sebagai nelayan yang mencari ikan dengan alat tangkap seadanya. Penghasilan suaminya yang tidak mencukupi kebutuhan harian keluarga, memaksa Ket bersama wanita lainnya harus rela menjadi buruh angkat pasir. Dengan membawa beban satu karung pasir, Ibu-ibu perkasa ini mengayunkan langkah untuk mengganti pasir pikulannya dengan rupiah untuk menyambung hajat hidup keluarganya.
"Hasilnya seharian paling cuma bisa untuk makan, tapi kalau ada pekerjaan membawa pasir ini, adalah tambahan bagi kami. Sehingga kami bisa membeli beras untuk makan dirumah bersama keluarga,"katanya
Meskipun berat dan berada dibawah terik matahari, Ket tak pernah mengeluh dengan pekerjaan yang dilaluinya. Kekuatan pundaknya membawa pasir adalah kekuatan dirinya dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Tuntutan hidup terus bertambah dibawah himpitan ekonomi yang semakin sulit.
Mangkait termasuk Desa terluar dari Anambas. Berada di Siantan Selatan, Desa ini ditempuh dengan motor laut selama lima jam dari Pusat Ibukota Anambas di Tarempa, Siantan. Hasil tangkapan nelayan didesa harganya juga tidak seberapa. Karena tidak ada tempat pelelangan ikan didaerah ini. Begitu hasil tangkapan ada, langsung dijual pada penampung dengan harga yang sangat rendah. Penampung kemudian membawa ke Tarempa untuk dijual lagi pada pengusaha ikan yang memasok ikan di Tanjungpinang dan Batam. Hasil tangkapan yang tidak menentu ini terus dijalani nelayan. Karena
hanya lautlah mata pencarian warga Mangkait.
"Kami cuma bisa ke laut jadi nelayan, didarat tidak ada pekerjaan. Kalaupun
ada buruh bangunan itu sangat terbatas, dan disini juga tidak ada wilayah perkebunan,"tutur Ket.
Selepas membereskan rumah dan melepas suami mencari nafkah ke laut. Ket langsung menuju pantai, tempat pasir dibongkar. Penghasilan yang hanya seharga
lepas makan ini bagi Ket tetap harus dijalani. Ket tidak mau menyebutkan berapa nominal yang Ia terima dari pekerjaannya sebagai pemanggul pasir. Saat ditanyapun Ia hanya tersenyum penuh arti sembari terus berjalan sambil mengangkat pasir ke tempat yang diinginkan pemberi pekerjaannya.
"Kebutuhan besar, penghasilan suami ndak mencukupi buat makan. Hasil laut tak tentu, jadi saya harus pandai cari pekerjaan sampingan selain rumah tangga. Kalau mengandalkan cari ikan saja, itu sulit. Meski kecil upah angkut pasir, tapi bisa membantu,"ujarnya lirih sambil sesekali menghapus keringat yang membasahi wajahnya.
Ket mengharapkan agar Pemerintah dapat memberikan usaha-usaha yang bisa dijalani ibu-ibu untuk membantu perekonomian keluarga. Desanya yang jauh dari Pusat Ibu Kota memang sulit tersentuh pelatihan-pelatihan industri rumahan untuk kaum ibu. Menjadi buruh musiman merupakan satu-satunya usaha yang baru mereka kenali.
"Kalau ada bantuan untuk pelatihan usaha, kami sangat mengharapkan. Biar bisa punya usaha sendiri dirumah. Kalau buruh pasir terus, nanti juga lemah dan tidak bisa lagi usaha,"harapnya dengan wajah memelas(yulia Irfani)
- Melirik Peluang Investasi Bintan Buyu
- Berharap Anak di Tahun Naga
- Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah
- Penyalahgunaan Hotel Melati di Batam Jadi Tempat Esek-esek
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Berburu Ikan Dingkis, Jelang Imlek
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir
- Tradisi Perayaan Imlek
- Menunggu Prestasi dari Belajar di Lantai
- Hengki Suryawan, Anak Nelayan Miskin, Kini Punya 100 Kapal
- Rutan Tpi Jadi Objek Wisata
- Malam Tahun Baru di Mata Pemulung
- Ocarina Berbenah Sambut 2012
- Rugi Bukan Alasan untuk Berhenti
- Semoga Malam Tahun Baru Tak Hujan...
- Ajaib, Pisang Berbuah dalam Batang Pohon
- Haluan Kepri Makin Bagus...
- Along Pasti Pulang, Pa...
- Kilas Balik Hukum dan Korupsi di Kepri 2011
- Mengintip Trik Sukses Bos Golden Prawn