Kondisi Siswa SMKN 3 Batam Bikin Miris
BATAM- Pemandangan janggal terlihat saat memasuki Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Batam. Di sekolah yang terletak di Jalan Letjend S. Parman, Sei Pancur Kelurahan Duriangkang-Sei Beduk ini, sebagian siswanya belajar di lantai di luar ruang kelas.
Ada yang belajar di dekat pintu masuk ruang Kepala Sekolah, di mushalla hingga di rumah dinas guru. Mereka tampak sama sekali tidak canggung. Ada yang berposisi melingkar mengelilingi guru, ataupun dengan berjajar menghadap ke depan, menyimak guru menerangkan mata pelajaran saat itu.
Ketidakcanggungan siswa dan murid menjalani proses belajar-mengajar yang sebenarnya tak lazim ini di alam kemerdekaan dan di wilayah FTZ Batam ini terjadi mungkin karena mereka sudah terlalu lama mengalami proses belajar-mengajar di tempat terbuka. Tanpa kursi dan bangku, layaknya di sebuah sekolah. Apalagi itu terjadi di SMK negeri.
Jika ada tamu yang datang, paling mereka hanya menoleh sebentar saja. Lalu kembali mencoba berkonsentrasi, melanjutkan proses belajar-mengajar.
Bila itu dialami seluruh siswa yang bersekolah di tempat tersebut, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Tapi jika hanya dialami oleh sebagian siswa saja, tentunya akan menimbulkan dampak psikologis tersendiri bagi siswa yang belajar di luar kelas, beralaskan lantai tanpa fasilitas memadai.
Sementara mereka membayar biaya sekolah yang sama dengan yang belajar di dalam kelas. Meskipun mereka harus menerima kalau akhirnya fasilitas yang didapatkan akan berbeda.
Kepala SMKN 3 Batam, Lea Lindrawijaya mengatakan proses belajar mengajar seperti ini sudah berlangsung sekitar setahun lalu. Penyebabnya, karena minimnya ketersediaan lokal bagi 509 siswa kelas I hingga III di SMKN 3 yang beralamat di Kelurahan Duriangkang, Kecamatan Sei Beduk, Batam ini.
Jika ditinjau dari rasio antara siswa dan kebutuhan lokal, harusnya SMKN 3 Batam ini memiliki 16 lokal. Namun sayang, hingga saat ini yang tersedia cuma delapan ruang kelas saja. Karena keterbatasan itu, akibatnya 288 dari 509 jumlah siswa SMKN 3 terpaksa belajar di luar ruangan kelas. Sebagai upaya antisipasi empat ruang kelas baru (RKB) saat ini tengah dibangun. Kalau pun siap, masih kurang empat lokal lagi.
Tidak hanya kekurangan ruang kelas belajar yang terjadi di SMKN 3 Batam. Ruang workshop dan perlengkapan praktikum di sekolah ini juga masih minim. Dari enam jurusan, hingga kini yang telah memiliki workshop cuma dua jurusan saja, yakni jurusan teknik kendaraan dan tata busana. Sedangkan empat jurusan lainnya sama sekali belum punya workshop.
"Rata-rata dalam satu lokal terdapat sebanyak 36 siswa. Sehingga yang masih belum tertampung ada 36 siswa kali delapan lokal," ujar Lea Lindrawijaya.
Siswa merasa kesal saat pihak sekolah berencana membangun tempat parkir. Di mana untuk biaya pembangunannya dibebankan kepada siswa. Meski pihak sekolah membantahnya, namun menurut salah seorang siswa, jika tidak bersedia membayar pembangunan tempat parkir, maka rapor tidak akan diberikan. Padahal hak sebagian siswa untuk mendapatkan pembelajaran dengan fasilitas yang layak masih terabaikan.
"Kok pembangunan tempat parkir yang justru didahulukan, sementara masih banyak siswa yang harus belajar tanpa kursi dan bangku di luar kelas," ujar siswa tersebut.
Ketua Komite SMKN 3 Batam, Damhuri mengaku juga mengetahui kondisi beberapa siswa yang harus belajar di atas lantai. Namun memang kondisi yang tidak memungkinkan, karena ruang kelas yang ada juga terbatas sedangkan siswa sudah terlanjur diterima.
Kondisi ini berawal saat penerimaan siswa baru yang lalu. Di mana calon siswa yang mendaftar di sekolah tersebut membludak. Jauh dari batas kapasitas ruangan yang ada.
"Akhirnya pihak sekolah dan komite mengambil kebijakan untuk tetap menerima calon siswa yang mau masuk. Dengan harapan segera mendapatkan bantuan lokal baru dari pemerintah," ujarnya, Selasa (10/1).
Kebijakan tersebut diambil untuk mengakomodir banyaknya calon siswa yang mendaftar, meski lokal sudah tidak tersedia lagi. Apalagi SMKN 3 merupakan satu-satunya sekolah menengah kejuruan di wilayah Kecamatan Sei Beduk.
Namun ternyata harapan tak sesuai dengan kenyataan. Dinas Pendidikan Provinsi Kepri tak kunjung mengucurkan bantuan bagi pembangunan lokal baru. Begitu juga dengan Pemko Batam, juga tidak mengalokasikan anggaran untuk pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) bagi sekolah ini. Masih kurang sekitar delapan lokal lagi yang dibutuhkan untuk para siswa yang belum tertampung.
Akibatnya, siswa yang terlanjur diterima dan tidak tertampung, harus rela belajar di luar ruang kelas dan tanpa bangku. Mereka belajar di lantai dan harus bersabar melihat teman-teman lainnya belajar nyaman di ruang kelas.
Mendengar adanya siswa yang harus belajar di luar kelas di daerah pemilihan (dapil) nya, Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam, Windarti Wahyuningsih berjanji akan segera menindaklanjutinya. Dengan akan melihat terlebih dahulu kondisi sebenarnya yang terjadi di sekolah tersebut.
"Kita akan lihat dulu kondisinya seperti apa. Dan kami sangat peduli dengan permasalahan-permasalahan pendidikan yang terjadi di Kota Batam," ujarnya.
Namun dengan kondisi tersebut, semangat belajar para siswa dan semangat mengajar guru di SMKN 3 Batam masih sangat tinggi. Mereka masih berharap untuk dapat menelurkan berbagai prestasi sesuai bidang dan keahliannya masing-masing.
"Kita juga tengah mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi ujian nasional dengan fokus pada praktik," ujar Ketua Jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) SMKN 3 Batam, Andro Marliano saat ditemui di ruang workshop.
Selain jurusan TKR, juga terdapat beberapa jurusan lain di SMKN 3 Batam. Seperti jurusan Teknik Elektronika Industri, Teknik Komputer dan Jaringan, Teknik Otomotif, Teknik Pendingin dan Tata Busana.
Humas SMKN 3 Batam, Budi juga mengungkapkan beberapa keahlian yang dimiliki siswa di sekolah tersebut. Namun sebagian masih terkendala akibat minimnya sponsor untuk membiayai program-program yang dikerjakan."Kita juga sudah memiliki rancangan motor dengan satu roda di bagian tengah. Namun karena minim sponsor, karya itu masih kita pending dulu," ungkapnya.
Kondisi ini tentu membuat miris. Ketika siswa SMKN 2 Solo berhasil merakit mobil minibus Esemka, siswa SMKN 2 Surabaya sukses merakit mini truk dan siswa SMKN 1 Batam sukses merakit laptop dan infocus proyektor, sementara 288 siswa SMKN 3 Batam justru belajar di atas lantai, karena kekurangan lokal dan mubiler.
Bagaimana bisa mengharapkan siswa SMKN 3 Batam bisa merakit mobil minibus Esemka atau pun merakit mobil minitruk atau merakit laptop dan infocus proyektor,
sedangkan untuk sarana belajar teori saja mereka tidak tersedia. (wan)
- Rumpawan Hidup Miskin di Daerah Kaya
- Gibran Segera Dirujuk ke RSCM
- Melirik Peluang Investasi Bintan Buyu
- Berharap Anak di Tahun Naga
- Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah
- Penyalahgunaan Hotel Melati di Batam Jadi Tempat Esek-esek
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Berburu Ikan Dingkis, Jelang Imlek
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir
- Tradisi Perayaan Imlek
- Hengki Suryawan, Anak Nelayan Miskin, Kini Punya 100 Kapal
- Wanitapun Perkasa Pengangkut pasir
- Rutan Tpi Jadi Objek Wisata
- Malam Tahun Baru di Mata Pemulung
- Ocarina Berbenah Sambut 2012
- Rugi Bukan Alasan untuk Berhenti
- Semoga Malam Tahun Baru Tak Hujan...
- Ajaib, Pisang Berbuah dalam Batang Pohon
- Haluan Kepri Makin Bagus...
- Along Pasti Pulang, Pa...