BATAM-Menjelang Hari Raya Imlek, berbagai pernak-pernik yang terkait dengan tradisi budaya masyarakat Tionghoa mulai bermunculan. Seperti lampion, miniatur barongsai, aneka pakaian bercorak Tionghoa yang didominasi warna merah dan lainnya. Anek kue imlek juga mulai muncul, begitu pula dengan jeruk imlek alias jeruk sincia atau kimkit. Ada lagi yang paling diburu masyarakat Tionghoa jelang imlek, yakni ikan dingkis.
Hari-hari biasa, jumlah ikan dingkis di pasaran tidak banyak dan harganya juga tidak mahal. Tidak ada orang Tionghoa yang berburu atau mencari-cari ikan dingkis di hari-hari biasa. Di hari biasa, harga ikan dingkis paling berkisar antara Rp10-15 ribu perkg. Dan sepekan menjelang Imlek harganya sedikit naik, mencapai Rp25-30 ribu per kg.
Namun H-2 jelang imlek harganya akan melonjak, mencapai Rp100-150 ribu per kg. Pada H-1 dan hari imlek sendiri, harga ikan dingkis bisa mencapai Rp200 ribu per kg. Bahkan untuk yang bertelur harganya bisa sampai Rp300-400 ribu per kg. Memang inilah yang paling dicari. Ikan dingkis yang bertelur saat Imlek, diyakini masyarakat Tionghoa sebagai hoki atau membawa keberuntungan.
Hari Raya Imlek 2563 tahun ini jatuh pada tanggal 23 Januari 2011 tahun masehi. Salah seorang tokoh masyarakat Tionghoa Batam, Andi Kusuma beberapa waktu lalu mengatakan, satu keluarga masyarakat Tionghoa, terkadang sampai membeli ikan dingkis puluhan kilogram. Sebuah kebanggaan bagi masyarakat Tionghoa menyuguhkan ikan dingkis kepada para tamunya di Hari Raya Imlek.
Menurut Andi, musim ikan dingkis bertelur selalu bersamaan dengan tahun Imlek setiap tahunnya. Ikan dingkis yang bertelur rasanya sangat enak. Sedangkan yang tidak bertelur rasanya amis. "Makanya orang selalu mencari dingkis yang bertelur," kata Andi Kusuma beberapa waktu lalu.
Sementara Abi, owner Restoran Sea Food Golden Prawn mengatakan menu ikan dingkis yang tengah bertelur menjadi menu atau hidangan khusus bagi restoran ini di saat tahun barui Imlek. "Ya, kalau tahun baru Imlek, dingkis paling dicari," kata Abi beberapa waktu lalu.
Di perairan Kepri, ikan dingkis termasuk banyak. Karena itu pulalah menyangtap ikan dingkis telah menjadi sebuah tradisi turun temurun bagi masyarakat Tionghoa Kepri sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Menjelang Imlek, di pasar-pasar, kini makin banyak pedagang yang menjual ikan dingkis.
Salah seorang pedagang ikan Dingkis yang ditemui kemarin di Pasar Bengkong Shopping Centre Agus mengatakan, ikan dingkis dijualnya tergantung dari ukuran besar dan kecil. Kalau ukuran kecil dijual seharga Rp30 ribu per kg dan ukuran besar Rp50 ribu per kg.
"Ikan ini musiman dan biasanya kami mulai jual satu bulan menjelang hari Raya Imlek," ujar Agus seraya mengatakan ikan dingkis yang dijual setiap harinya selalu habis.
Menurut Agus, orang Tionghoa menganggap ikan dingkis sebagai pembawa rezeki dan kebahagiaan di masa yang akan datang. Jadi ikan tersebut sangat diminati, terutama bagi warga Tinghoa yang ingin mendapat kekayaan serta keberuntungan hidup.
"Biasanya, kalau menjelang Imlek, banyak yang mencari ikan dingkis. Ikan dingkis yang berharga mahal adalah ikan dingkis yang sedang bertelor," kata Acai, penjual ikan dingkis di Pasar Nagoya saat ditemui di kiosnya kemarin.
Menurut dia, sebenarnya ikan dingkis tidak memiliki khasiat tertentu. Hanya saja, ikan ini konon dipercaya bisa mendatangkan rezeki bagi siapa saja yang menghidangkan maupun mengkonsumsinya pada saat perayaan Imlek.
"Biasanya pembeli mencari telur dan ikan dingkisnya untuk kita makan sama-sama pas Imlek, biar semua kebagian hokinya," ujar Acai.
Kata orang Tinghoa juga, ikan Dingkis sangat tepat bila dikaitkan dengan hari Raya Imlek dengan tujuan tak lain dan bukan mendapat kebahagiaan dan keberuntungan di masa yang akan datang. (reza)
- Dikenal Hingga ke Mancanegara
- Jadi Buruh Cuci, Demi Pendidikan Ketiga Buah Hati
- Pencuri Piring Divonis 4 Bulan
- Rumpawan Hidup Miskin di Daerah Kaya
- Gibran Segera Dirujuk ke RSCM
- Melirik Peluang Investasi Bintan Buyu
- Berharap Anak di Tahun Naga
- Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah
- Penyalahgunaan Hotel Melati di Batam Jadi Tempat Esek-esek
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir
- Tradisi Perayaan Imlek
- Menunggu Prestasi dari Belajar di Lantai
- Hengki Suryawan, Anak Nelayan Miskin, Kini Punya 100 Kapal
- Wanitapun Perkasa Pengangkut pasir
- Rutan Tpi Jadi Objek Wisata
- Malam Tahun Baru di Mata Pemulung
- Ocarina Berbenah Sambut 2012
- Rugi Bukan Alasan untuk Berhenti
- Semoga Malam Tahun Baru Tak Hujan...