Saturday, Jan 21st

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur

Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur

Jejak Sukses Alumni SMAN 1 Karimun

KARIMUN- Alumni angkatan 83 SMAN 1 Karimun mengadakan acara temu kangen dan tatap muka di aula SMAN 1 Karimun, Selasa (17/1). Hadir dalam acara itu, alumni SMAN 1 Karimun yang sudah sukses dalam berbagai bidang usaha, pejabat pemerintahan, pejabat kepolisian dan orang-orang sukses lainnya.

Di antara orang-orang sukses yang berasal dari SMAN 1 Karimun itu adalah Ketua Apindo Kepri, Ir.Cahya, Wakil Bupati Karimun, Aunur Rafiq, Abuzar Bakri, pengusaha sukses di Palembang dan Amrion dari kepolisian yang sedang menyelesaikan S3 di Palembang. Satu-satu dari mereka memaparkan jejak langkah meraka, hingga bisa sukses dalam berbagai bidang.

Seperti yang disampaikan Ir. Cahya yang menceritakan berbagai pengalaman waktu sekolah. "Sebelum berangkat sekolah, pagi-pagi sekali saya jualan sayur di Pasar Tanjung Balai Karimun. Kalau malam jualan telur di pasar malam," ujar Cahya yang juga sebagai Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Provinsi Kepri ini.

Dikatakannya, masa SMA merupakan masa pembentukan karakter diri, sehingga merupakan modal awal untuk berkembang. Dulu, dirinya juga sebagai ketua osis di SMAN 1 Karimun dan Pak Rafiq adalag gengnya di sekolah.

"Saat ini banyak yang jadi orang sukses. Kalau kami bisa, adik-adik pasti bisa. Itu yang duduk dipojok sana mudah-mudahan nanti jadi Wakil Bupati. Karena dulu saya sama Pak Rafiq sukanya duduk di pojokan," ucap Cahya, sembari tertawa kecil.

Kalau adik-adik mau sukses dan mau betul-betul menjadi pengusaha kata Cahya, maka dirinya siap membimbing dan memberikan motivasi bisnis. Dan untuk menjadi seorang pengusaha dibutuhkan mental yang kuat.

"Majunya suatu daerah ikut ditentukan oleh banyaknya jumlah pengusaha. Minimal ada tiga persen dari jumlah penduduk itu merupakan pengusaha. Kalau di Indonesia saat ini saja baru 1,5 persen. Dan di Batam juga sama yakni 1,5 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan di Karimun diprediksi hanya berjumlah sekitar satu persen saja," ucap Cahya.

Sementara, Wakil Bupati Karimun Aunur Rafiq menjelaskan, sejarah kehidupannya semasa SMA. Setelah lulus sekolah, ia menganggur selama enam bulan, dan menjadi tukang kebun di lahan milik pamannya.

Setelah ada pembukaan lamaran Calon Pegawan Negeri Sipil (CPNS), ia memberanikan diri untuk ikut mendaftar. Ada 1.000 lebih saingan dalam kesempatan itu dan formasi yang diterima hanya sekitar 40 orang. Sebanyak 40 orang yang diterima, termasuk dirinya yang beruntung pada saat itu.

"Tahun 1995 saya diangkat jadi PNS, kemudian disekolahkan di APDN Pekanbaru. Kemudian setelah lulus saya jadi Lurah di Lingga. Singkat cerita, saya ditunjuk jadi camat persiapan di Kundur Utara, waktu itu dikenal sebagai Urung. Kemudian pada 2006 saya diminta dampingi Pak Nurdin dalam Pilbub Karimun, dan Alhamdulillah, ini periode kedua saya jadi Wakil Bupati Karimun," ucap Rafiq.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai staf kelurahan di salah satu wilayah Kota Batam ini mengaku, tidak pernah mendapatkan prestasi selama mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Hanya saja ia rajin dalam belajar.

"Saya dulu bukan orang yang berprestasi. Memang betul dikatakan Pak Cahya, saya suka duduk dipojokan seperti adik-adik yang di sana itu," ucap Rafiq, seraya menunjuk beberapa siswa SMAN 1 Karimun yang duduk di pojok aula.

Para siswa sangat bersemangat dalam mendengarkan pemaparan kedua orang yang sudah tak asing lagi di wilayah Kepri saat ini. Bahkan para siswa tak jarang bersorak bangga, ketika para alumni angkatan 83 itu mengajak mereka untuk memajukan sekolah dan majukan daerah mereka.

"Kami berharap 30 tahun lagi adik-adik bisa seperti kami-kami. Bisa sukses jadi Wakil Bupati dan bisa jadi pengusaha seperti Pak Cahya," harap Rafik yang diaminkan oleh seluruh siswa.

Acara diakhiri dengan makan nasi kotak bersama para guru, kepala sekolah dan staf. Dalam kesempatan itu, para anak didik angkatan 83 yang sukses tersebut juga menyempatkan diri bersalaman dengan satu-satunya guru mereka yang masih tetap bertahan di SMAN 1 sebagai tim pengajar, yakni Nur Laili sebagai guru Bahasa Indonesia (gan)