Saturday, Mar 24th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah

Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah

Kemiskinan membuat Agus Mustofa (14) tidak mengenyam pendidikan. Terlahir dari keluarga tidak mampu, Agus dan saudaranya harus bekerja membanting tulang untuk mengumpulkan rupiah. Setiap hari ia bekerja banting tulang untuk mendapatkan uang guna membeli kebutuhan keluarga. "Cari uang buat makan,"katanya saat ditemui Haluan Kepri di Pembakaran Sampah, Tarempa, Siantan, Anambas, Jumat (20/1).
Agus adalah anak ketiga dari pasangan almarhum Buyung dengan Maznun. Alm Buyung meninggalkan delapan orang anak. Pekerjaan sang ayah dulunya sebagai buruh angkat pasir, menyebabkan ia muntah darah dan akhirnya pergi untuk selamanya. Kakak Agus yang sulung dan nomor dua juga bekerja sebagai buruh. Sementara Agus bekerja sana-sini untuk membantu perekonomian keluarga, karena ibu tidak punya kerja tetap. Sedang lima orang adiknya masih kecil. Hal ini lah membuat Agus semakin jauh dari pendidikan. "Bagaimana bisa sekolah, makan saja kami dapat sudah syukur,"ujarnya sambil menunduk.

Pada bakti sosial bakar sampah Gebrak, 17 Januari lalu, Agus juga ikut. Honor yang diberikan panitia cukup baginya untuk dibawa pulang sore harinya. Salah seorang petugas pengangkut sampah, Idris menuturkan, Agus memang sering ikut memungut sampah. Tapi dia bukanlah petugas seperti yang lain. Namun dia tetap rajin membantu. "Dia anak yang rajin bekerja, sering ikut mengangkat sampah juga. Tapi dia bukan petugas sampah seperti kami,"katanya.

Saat ditanya tentang keinginannya sekolah, Agus tidak mau lagi. Dirinya yang sudah menginjak remaja, merasa malu untuk memulai sekolah. Namun bukan berarti hatinya mati untuk pendidikan. Pekerjaan yang ia lakukan juga untuk membiayai adik-adiknya yang kini sekolah di SD 002 Tarempa, Siantan.
"Buat beli buku adik yang masih sekolah,"katanya saat menerima uang honorer dari panitia bakti.

Sepeninggal sang ayah, malang tak dapat ditolak. Rumah satu-satunya tempat ia tinggal digusur oleh pemilik tanah. Karena pemilik tanah ingin membagi kepada ahliwarisnya. Rumahnya yang sudah reot harus dirubuhkan oleh tangan mereka sendiri. Kini Agus tinggal di rumah saudara ayah di Tanjung, Tarempa Barat. Adiknya si bungsu dipungut sebagai anak angkat oleh tetangganya. Sedangkan sang ibu berusaha mencari pekerjaan yang ia mampu. "Tinggal d itempat saudara ayah. Rumah lah kami ghobohkan. Karena sudah lapuk dan pemilik tanah juga suruh pindah,"tuturnya lirih.

Agus adalah bagian dari anak Anambas yang tidak terjangkau pendidikan. Meski setiap hari ia melewati tiga sekolah dasar untuk pergi bekerja, tapi ia hanya bisa melihat. Dihatinya yang paling dalam tersimpan harapan pada adik-adiknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kemiskinan telah menjeratnya sampai tidak mampu lagi sekolah. Tinggal di dalam Kota Tarempa tidak membuatnya menjadi bagian dari kesejahteraan warga kota. Himpitan ekonomi yang terus mendera,
menambah daftar panjang kemiskinan di pusat ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas ini. (yul)


Newer news items:
Older news items: