Meski Natuna dikenal kaya, dengan RAPBD tahun 2012 mencapai Rp1,5 triliun, tidak berarti masyarakatnya hidup sejahtera. Saat ini, banyak masyarakat Natuna yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Salah satunya adalah Rumpawan (67), janda tua yang tinggal di pesisir Batu Kapal Kelurahan Ranai, Kecamatan Bunguran Timur.
Ibu dengan satu anak ini, tidak hanya miskin dari segi materi tetapi juga memiliki anggota tubuh yang tidak berfugsi normal. Tangannya cacat, sementara kedua kakinya lumpuh sejak lama. Kekurangan tersebut seakan melengkapi penderitaan yang dialaminya.
Nenek satu anak ini adalah orang yang luput dari pendataan pemerintah Kabupaten Natuna sebagai orang yang berhak menerima santunan dan bantuan lanjut usia.
Ini karena pejabat kelurahan setingkat RT dan RW tidak peka terhadap kondisi warga di sekelilingnya. Akhirnya disaat Dinas Sosial meminta data orang-orang janda jompo dan orang cacat, Rumpawan menjadi orang yang tersisihkan.
Sebelum divonis lumpuh, Rumpawan masih bisa berjalan dengan kedua kakinya. Tetapi pada tahun 2010 lalu, ia ditabrak sepeda motor. Akibat kecelakaan tersebut, lengan tangan kanannya yang sudah cacat itu patah.
" Kedua kakinya juga patah, namun bagaimana lagi, kami tidak memiliki biaya untuk berobat ketika itu," ujar Mustakim, anak pertama Rumpawan kepada wartawan yang menemuinya, Rabu (1/2).
Hidup sebagai orang yang tidak pernah duduk di bangku sekolah, membuat dirinya pasrah terhadap musibah yang menimpanya. Dia tidak pernah terpikir untuk mengajukan bantuan berobat kepada pemerintah.
" Waktu ibu saya membutuhkan biaya berobat, saya sudah mengajukan bantuan ke Dinas Kesehatan, tetapi tidak tembus," kata Mustakim sedih.
Akibatnya, kini Rumpawan harus menderita kelumpuhan pada kedua kakinya dan cacat pada tangan kanannya. Aktifitas sehari-sehari, Rumpawan berjalan menggunakan dua lutut kakinya. Sampai-sampai lututnya mengeras seperti telapak kaki.
"Berhubung tidak bisa keluar rumah, kalau buang air kecil dan air besar, ibu melakukan di dalam rumah, soalnya rumah kita kan di atas air laut, jadi tinggal melubangi saja salah satu papan lantainya," tutur Mustakim menceritakan.
Karena tidak ada yang menjaga, Mustakim tak berani meninggalkan ibunya seorang diri di rumah. Oleh karena itu, ia tidak bisa mencari pekerjaa yang lokasinya jauh dari rumah. "Saya bekerja di sekitar rumah saja, mau kerja di tempat yang jauh, kasian dengan ibu sendirian di rumah," paparnya.
Sementara itu, Rumpawan yang dilahirkan di desa Cemaga Kecamatan Bunguran Selatan tahun 60 an ini, ternyata memiliki kelebihan. Ia sering dimintai bantuan oleh warga sekitar untuk memberikan obat, obat yang diberikan adalah seperti air tawar (air yang sudah diberi jampi-jampi atau do'a). Rumpawan tidak pernah meninggalkan salat lima waktu.
" Ibu suka membantu orang yang meminta obat demam, penyakit kampung dengan memberikan air tawar kepada warga yang datang ke rumah. Biasanya warga yang sudah mendapatkan obat memberikan uang kepada ibu, dan besarnya tidak menentu, ada yang memberi Rp5 ribu, ada juga yang tidak memberikan apa-apa. Karena ibu saya niatnya membantu," terang Mustakim.
Mustakim berharap, pemerintah bisa segera membantu meringankan beban ibunya, setidaknya ibunya bisa mendapatkan uang santunan setiap bulan. Karena setiap bulan ibunya harus membayar uang rekening listrik dan rekening air.
"Ini yang menjadi beban berat kami sekeluarga. Jadi kami sangat berharap bantuan dari Pemkab Natuna," ujarnya. (leh)
- Kacang Botor, Sayuran dengan Gizi Tinggi
- Dilarang Mengemudi, Perempuan Arab Melawan
- Dikenal Hingga ke Mancanegara
- Jadi Buruh Cuci, Demi Pendidikan Ketiga Buah Hati
- Gibran Segera Dirujuk ke RSCM
- Melirik Peluang Investasi Bintan Buyu
- Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah
- Berharap Anak di Tahun Naga
- Penyalahgunaan Hotel Melati di Batam Jadi Tempat Esek-esek
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Berburu Ikan Dingkis, Jelang Imlek
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir
- Tradisi Perayaan Imlek
- Menunggu Prestasi dari Belajar di Lantai