SAGULUNG -- Menyekolahkan anak, sudah menjadi sebuah tanggung jawab bagi setiap orang tua. Pendidikan bagi anak, seperti sudah menjadi kebutuhan, sebagaimana kebutuhan lainnya seperti pangan, sandang dan papan. Apapun akan diupayakan orang tua, agar si buah hati bisa mengenyam pendidikan dan bersekolah, sebagai bekal sang anak kelak agar mampu menggapai hidup yang lebih baik.
Demikian juga bagi Siti Zainab (47) yang telah dikaruniai 5 anak, Bayu Nanda Saputra (13), Sinta Putri (12), Milarani (8), Yuniarti (5) dan Doli Nanda Saputra (4). Dari ke 5 anaknya itu, 3 anaknya bersekolah di SDN 002 Sagulung, yakni Bayu Nanda Saputra yang duduk di kelas VI, Sinta Putri kelas V dan Milarani kelas II.
Untuk membiayai sekolah ketiga anaknya dan mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, Siti Zainab pun rela menjadi buruh cuci. Yang penghasilannya didapatkan hanya berdasarkan kemurahan hati, bukan gaji pasti layaknya pegawai negeri. Berapapun uang diberi dari jasa buruh cuci, ia nilai sebagai rezeki yang selalu patut disyukuri.
"Syukurlah masih ada pekerjaan yang dapat saya jalani, untuk biaya hidup sehari-hari," ujarnya.
Pekerjaan buruh cuci dilakukan Siti Zainab mulai tiga tahun lalu, sejak berpisah dengan suaminya. Otomatis, ia harus menanggung biaya anaknya bersekolah dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ibu dan kelima anaknya ini tinggal di kawasan rumah liar Simpang Dam, Mukakuning. Menempati rumah berukuran sekitar 6x8 meter yang berdindingkan papan kayu, beratapkan seng dan berlantaikan tanah.
"Dulu pernah tinggal agak depan, lalu pindah kesini karena rumah yang lama selalu terkena banjir," ungkapnya.
Rutinitas pekerjaan ia lalui mulai pagi hari, setelah memastikan ketiga anaknya siap berangkat ke sekolah. Ia pun mulai keliling ke tetangga sekitar, menanyakan apakah ada pakaian yang bisa dicucikannya.
Karena sudah langganan, tetangga sekitar biasanya sudah menyiapkan beberapa potong pakaian untuk dicuci Zainab. Pakaian ini dicuci di salah satu sumur yang jaraknya sekitar puluhan meter dari rumahnya, sekaligus mengawasi dua anaknya yang belum bersekolah.
Saat ketiga anaknya pulang dari sekolah, gantian ketiga anaknya yang menjaga rumah dan dua adiknya. Sekaligus membantu menggosok baju yang telah kering setelah dijemur. Ataupun menjaga jika sewaktu-waktu hujan turun, memasukkan baju dari jemuran ke dalam rumah.
Selanjutnya, Siti Zainab berangkat menuju warung-warung makan yang ada di Simpang Dam. Membantu mencuci piring dari warung satu ke warung lainnya yang biasa ia lakoni dari siang hingga malam hari dan baru pulang saat warung mulai sepi.
Hasil cuci baju dan cuci piring tersebut, ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Begitupun dengan biaya anaknya sekolah, mulai dari uang transport serta kebutuhan yang harus dibayar untuk sekolah, seperti untuk membayar uang try out, perpisahan dan persiapan UN Bayu, anaknya tertua.
Namun akhirnya, uang try out yang sudah sempat dibayarkan, akhirnya dikembalikan pihak sekolah melalui anaknya. Pengembalian uang try out ini sangat berarti baginya, yang tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup jauh dari kecukupan.
"Syukurlah uang try out dikembalikan oleh sekolah, lumayan untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari," ujarnya, Sabtu (4/2).(wan)
- Rumpawan Hidup Miskin di Daerah Kaya
- Pencuri Piring Divonis 4 Bulan
- Gibran Segera Dirujuk ke RSCM
- Melirik Peluang Investasi Bintan Buyu
- Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah
- Berharap Anak di Tahun Naga
- Penyalahgunaan Hotel Melati di Batam Jadi Tempat Esek-esek
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Berburu Ikan Dingkis, Jelang Imlek
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir