Di Batam, nama Davisco Taylor sudah tidak asing lagi. Terutama di kalangan aparat baik TNI, Polri maupun PNS. Itu karena Davisco Taylor selalu menjadi rujukan bagi mereka yang membutuhkan baju seragam (uniform) berserta atributnya.
Pelanggan Davisco Taylor tidak hanya berasal Kota Batam sekitarnya tetapi juga dari Tanjungpinang, Natuna, Anambas, Karimun dan Lingga. Bahkan, ada yang dari manca negara seperti Singapura dan Malaysia.
Selain aparat, pelanggan Davisco Taylor juga ada dari kalangan perbankan, rumah sakit, perusahaan perakitan elektronik, shipyard dan hotel.
" Kita pernah mengerjakan order baju seragam dalam jumlah besar untuk Kerajaan Malaysia. Begitu juga Singapura, aparatnya banyak juga yang memesan seragam ke kita" kata pemilik Davisco Taylor, H. Elfis Yasri, yang ditemui akhir pekan lalu.
Elfis Yasri atau yang akrab disapa Uda Fis ini, bersyukur usaha Taylor yang digelutinya sejak tahun 1988 lalu banyak diminati para pejabat dan masyarakat di Kepulauan Riau. Itu karena ia betul-betul memperhatikan mutu dan kualitas seragam yang dikerjakan. Kemudian, yang tak kalah pentingnya adalah komitmen yang dibuatnya bersama pelanggan.
" Kita tidak pernah mengulur-ngulur pekerjaan. Jika waktu yang kita janjikan seminggu maka kita akan menyelesaikannya dalam waktu seminggu. Ini menjadi perhatian kita, karena kita tidak ingin pelanggan kecewa gara-gara kita tidak komitmen," katanya.
Sebelum diserahkan ke pelanggan, Elfis Yasri terlebih dahulu mengecek baju-baju yang dikerjakan anak buanya. Bahkan, ia tidak sungkan untuk turun langsung mengerjakan proses produksi, seperti menggunting, mengobras, menjahit sampai memasang kancing. Ini dilakukan demi menjaga mutu dan kualitas. " Mungkin ini yang membedakan saya dengan Taylor lain," ujar pria kelahiran Payakumbuh tahun 1964 silam ini.
Mengenai nama Davisco yang kini digunakannya berasal dari namanya sendiri yang sering dipanggil " Da Fis ". ( Uda Elfis). Sedangkan kata "ko" berasal dari bahasa Minang yang berarti "ini". Uda Fis Ko yang artinya Abang Elfis Ini.
Nama itu resmi digunakannya ketia ia mulai mandiri.
Setelah merasa cocok dengan nama itu, Elfis Yasri kemudian memikirkan motto. Motto yang dipilih adalah " Disuka Karena Gaya, Dirindu Karena Mutu". Ia merasa cocok dengan motto itu karena ia yakin motto itu pas sekali dengan usaha yang digelutinya.
" Menjahit bagi saya sudah mendarah daging, sehingga tidak terlalu sulit mencari motto yang pas," ujarnya mantap.
Untuk menjadi seperti sekarang, tidak dicapai dalam waktu yang singkat. Banyak suka duka yang dilaluinya. Sebelum membuka sendiri, Elfis Yasri menjadi anak buah di King Taylor.
Saat itu ia digaji berdasarkan jumlah baju yang selesai dijahitnya. Untuk satu baju ketika itu upahnya Rp15 ribu satu stel. Sehari ia bisa menyelesaikan 1-2 stel baju. Itu artinya gaji bersih yang diterimanya sehari hanya Rp30 ribu.
" Sebelumnya saya bekerja menjahit di Padang lalu pindah ke Pekanbaru. Dari Pekanbaru saya merantau ke Batam, karena tergiur omongan orang tentang Batam. Dalam pikiran saya ketika itu, di Batam lebih gampang mencari uang. Karena selain sebagai kota industri, Batam juga dekat dengan Singapura," kenangnya.
Tapi setelah tiba di Batam, ternyata tidak seperti yang ia duga. Batam yang dibayangkannya seperti kota Metropolitan, ternyata hanya hutan belantara yang dikelilingi rawa. Kalau pun ada jalan protokol kondisinya masih tanah merah.
" Saat itu, pernah terlintas dipikiran saya untuk meninggalkan Batam, dan pindah ke Jakarta. Tapi setelah saya pikir-pikir, niat untuk pindah ke Jakarta saya urungkan. Karena kalau saya pindah ke tempat baru, saya akan mulai dari nol lagi, sementara di sini sudah berjalan, walaupun hasilnya belum sesuai keinginan," jelas,
Dalam membesarkan Davisco Taylor hingga memiliki aset miliaran rupiah, Elfis Yasri benar-benar menapaki usahanya dari nol. Keahlian menjahit yang dimilikinya sejak SD, merupakan modal dasar baginya dalam mengarungi hidup di Batam. Kemudian, didorong keinginan dan semangatnya untuk berubah.
" Saya ini berasal dari keluarga tukang jahit. Mulai dari kakek, ayah, paman dan saudara saya semua bekerja menjahit. Jadi, wajar kalau sejak SD saya sudah kenal dengan jahit menjahit ini," katanya.
Elfis Yasri merupakan tulang punggung keluarga. Ia rela tidak melanjutkan kuliahnya di IKIP Padang demi untuk mendahulukan kebutuhan enam adiknya yang masih kecil-kecil. Setelah berhenti kuliah ia merantau ke Pekanbaru. Dua tahun di Pekanbaru, ia pindah ke Batam.
"Agar bisa mengumpulkan uang untuk modal, saya pernah makan sekali sehari. Tinggal di rumah liar. Juga pernah kos satu kamar hingga menikah dan sampai punya anak dua. Semua itu saya jalani dengan tabah dan ikhlas," kenangnya.
Kini setelah sukses di Batam, Davisco sedang menjajaki untuk membuka cabang di Tanjungpinang dan Natuna. Keinginannya untuk ekspansi didorong oleh permintaan masyarakat setempat.
Kedepan tidak hanya Taylor, Davisco juga sedang melirik bisnis lain yakni property melalui bendera Davisco Karya Mandiri. Meski tidak ahli dbidang property, ia akan menunjuk orang yang ahli dibidang property duduk di perusahaan tersebut.
Meski sudah memiliki semuanya, Elfis Yasri berusaha untuk tidak sombong. Ia bahkan berobsesi kiat dan caranya mengembangkan Taylor bisa ditiru generasi muda. Ia siap berbagi ilmu dan bertukar pikiran jika diminta. (sfn)
- Rumpawan Hidup Miskin di Daerah Kaya
- Pencuri Piring Divonis 4 Bulan
- Gibran Segera Dirujuk ke RSCM
- Melirik Peluang Investasi Bintan Buyu
- Kemiskinan, Membuat Agus Tidak Sekolah
- Berharap Anak di Tahun Naga
- Penyalahgunaan Hotel Melati di Batam Jadi Tempat Esek-esek
- Pagi Sebelum Sekolah, Cahya Jualan Sayur
- Berburu Ikan Dingkis, Jelang Imlek
- Gibran, Mengidap Tumor Sejak Lahir