Sunday, Feb 12th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Dilarang Mengemudi, Perempuan Arab Melawan

Dilarang Mengemudi, Perempuan Arab Melawan

RIYADH –– Andai ketentuan ini diberlakukan di Indonesia, tentulah kaum perempuan akan berdemo ke kantor Presiden, maklum perempuan mengemudikan mobil adalah hal yang lumrah di sini.

Tapi tidak demikian dengan di Arab Saudi, perempuan dilarang mengemudi. Bagi yang melanggaran aturan ini dikenakan sanksi. Lho?
Karena itulah belakangan muncul gerakan perempuan menuntut hak pegang setir mobil. Sebuah kampanye diluncurkan di Arab Saudi untuk mendesak para perempuan menggugat secara hukum larangan perempuan untuk mengemudi.

Pemimpin kampanye, Manal al-Sharif, mengatakan bahwa dia akan tampil di stasiun TV untuk mengumumkan kampanye tersebut. Manal al-Sharif selama ini dikenal sebagai tokoh yang secara terbuka menentang larangan mengemudi bagi perempuan Arab Saudi. Tahun lalu muncul video yang merekam perempuan berusia 30-an tahun tersebut sedang menyetir mobil dan video itu menjadi salah satu yang populer di Youtube.

Dia kemudian ditangkap dan ditahan selama beberapa hari, akan tetapi penangkapannya mendapat perhatian media di Arab Saudi maupun di dunia internasional.

Belakangan dia mengajukan gugatan hukum atas pihak berwenang Arab Saudi setelah permohonannya untuk mendapatkan surat izin mengemudi ditolak.

Ditentang pemuka agama

Gugatan hukum tersebut merupakan hal yang amat jarang dilakukan oleh perempuan di Arab Saudi. Namun Manal kini malah melangkah lebih jauh dengan meminta agar perempuan Arab Saudi lain melakukan hal yang sama.

Sebenarnya tidak ada undang-undang yang tegas di Arab Saudi yang melarang perempuan menyetir. Bagaimanapun para pemuka agama menentang dengan alasan bisa menghancurkan dasar-dasar masyarakat Arab Saudi, khususnya pemisahan laki-laki dan perempuan.
Mereka juga menuding pengaruh asing, antara lain Iran, yang mempermasalahkan larangan mengemudi untuk wanita.

Namun belakangan, suara-suara yang tidak setuju di dalam negeri atas larangan tersebut semakin meningkat karena dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi.

Larangan juga dinilai justru membuat perempuan menjadi terbuka atas serangan seksual dari para supir pria yang mereka pekerjakan.
“Larangan mengemudi untuk wanita merupakan salah satu dari tiga masalah dalam persamaan hak di Arab Saudi,” ujar Manal.
Dua hal lain adalah perubahan hukum untuk memberikan hak yang lebih beasr bagi perempuan di dalam keluarga dan sistem perlindungan oleh kaum pria, yang menurutnya menghalangi kemandirian perempuan.

Picu perlawanan kaum perempuan Saudi ini dimulai ketika ulama konservatif Kamal Subhi, memperingatkan jika perempuan Saudi diberikan hak untuk menyetir, akan dapat menjadi akhir bagi keperawanan di negara itu.

Ia menulis laporan yang secara resmi disampaikan oleh majelis legislatif Arab Saudi, Dewan Shura, yang dikenal sebagai kalangan konservatif. Tujuannya adalah membatalkan rencana untuk mempertimbangkan larangan itu.

Dalam laporan itu dilengkapi grafik yang menunjukan jika perempuan diizinkan mengemudi akan meningkatkan prostitusi, pornografi, homoseksualitas dan perceraian.

Meskipun tidak ada peraturan yang secara resmi melarang perempuan mengemudi di Arab Saudi, tetapi mereka akan ditangkap jika diketahui tengah mengendarai mobil.

Mereka juga mengatakan tidak logis jika memperlakukan perempuan dalam kontrol keluarga dan menjauhkannya dari laki-laki, tapi menggunakan supir laki-laki ketika keluar rumah.

Isu hak perempuan untuk mengemudi di Saudi ini menjadi perhatian internasional.
Sementara itu, Raja Abdullah telah mengijinkan jika kemungkinan larangan itu ditinjau kembali, sebagai bagian dari reformasi yang dilakukannya.

Tetapi, para elit dari kalangan konservatif yang banyak berkuasa di Saudi bereaksi keras.
Seorang perempuan Saudi yang berkampanye tentang hak perempuan mengemudi, mengatakan bahwa laporan tersebut benar-benar gila.
Dia mengatakan pimpinan Shura telah menjamin para aktivis perempuan bahwa dia masih membuka diri untuk mendengarkan kasus itu untuk menghapuskan larangan. (h/bbc)