Sabtu07202013

Last update12:00:00 AM

Back Insert Mulyadi Lim, Pengusaha Furniture

Mulyadi Lim, Pengusaha Furniture

"Fokus, Jangan Sering Lihat ke Samping"

Banyak jalan menuju Roma. Ujar-ujar itu sering diucapkan kepada orang-orang yang kerap menemui jalan buntu dalam upayanya mewujudkan impian. Di saat jalan yang sedang dilalui mentok, sesungguhnya masih banyak jalan-jalan lain yang bisa ditempuh, demi satu tujuan: sukses dan bahagia!

Demikian pula yang berlaku dalam kehidupan Mulyadi Lim, pria kelahiran Desa Centeng, Daik, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri, 2 Mei 1977. Sebelum menjadi pengusaha sukses di Batam, Mulyadi sudah melewati tahapan-tahapan yang tidak ringan.

Pemegang nama asli Lim Ching Thing ini, sekarang termasuk salah satu pengusaha muda Batam yang mumpuni secara ekonomi. Usaha furniture yang digelutinya sejak tahun 2008, secara pasti memperlihatkan kemajuan luar biasa. Dari tidak punya apa-apa, kini dia bisa membeli apa-apa. Omsetnya perbulan mencapai miliaran rupiah.

Saat ini, ada lima toko furniture di bawah kendalinya, dengan jumlah karyawan sebanyak 49 orang. Tentu saja, bukan perkara gampang untuk meraih semua itu.

"Saya ini mulai dari nol, tanpa modal. Cuma ada keberanian dan semangat. Saya bangun usaha ini dengan kejujuran, kepercayaan. Kerja keras, itu sudah pasti," kata Mulyadi, mengawali pembicaraan dengan Haluan Kepri, Kamis (9/2) di Godiva Bistro, Mega Mall, Batam Centre.

Seperti kebanyakan pengusaha sukses, Mulyadi juga berasal dari keluarga kurang mampu. Karena itu, dia dituntut untuk berani memilih: tetap miskin sepanjang hayat atau menjadi kaya?

Dua pilihan itu menyadarkan Mulyadi. Kalau mau kaya, berarti dia harus berusaha. Menjadi pengusaha adalah impiannya. Maka impiannya itu musti terwujud. Menggapai kesuksesan itu memang tidak mudah. Orang yang pernah gagal jauh lebih baik daripada orang yang tidak pernah gagal hanya karena dia tidak berani mencoba untuk sukses. Kegagalan itu tidak enak, tapi di situlah kita dituntut untuk belajar, memperbaiki diri.

Menurut Mulyadi, orang kaya itu ada dua, kaya warisan dari orangtua dan kaya dengan merintis sendiri. Jika terlalu mengandalkan harta orangtua, bisa saja menyesal di kemudian hari lantaran harta itu bisa habis kalau tidak benar pengelolaannya. Jika banyak orang mengatakan bahwa waktu adalah uang, maka bagi Mulyadi Lim, waktu adalah nyawa. Waktu, sudah sepantasnya dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

"Pengalaman yang saya petik selama bergelut di dunia bisnis, kalau kita jalan, jangan terlalu sering lihat kiri kanan apalagi ke belakang. Fokuslah, tatap ke depan. Dalam bisnis pasti ada persaingan. Kalau kita terlalu memberi perhatian terhadap persaingan dari lawan bisnis, kita bisa habis. Orang sudah berlari dan sampai di tujuan, kita masih sibuk melihat ke kanan atau ke kiri."

"Ada dua pilihan kalau kita sering lihat ke samping, kita jadi lambat atau tertabrak. Kalau menjalankan usaha harus fokus, ke depan," katanya.

"Saya selalu memandang positif persaingan bisnis. Saya anggap itu adalah upaya membangun bersama perekonomian daerah atau negara. Dalam bisnis, adanya persaingan berarti menuntut kita untuk terus berinovasi, baik dari sisi pemasaran ataupun jenis produk yang kita jual. Saya sering kumpul dengan pengusaha furniture lain di Batam, membahas perkembangan bisnis ini, termasuk bisnis properti. Kalau (bisnis) properti bagus, maka (bisnis) furniture akan ikut bagus,".

Mulai dari Nol

Mulyadi Lim tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan perekonomian pas-pasan di desa kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota. Hidup serba kekurangan, telah membangun sifat pantang menyerah dalam dirinya. Menginjak usia 15 tahun, Mulyadi menempuh perjalanan laut sekitar 16 jam ke Pulau Moro (di Kabupaten Karimun), dengan tekad mengubah nasib. Di Moro, dia diterima bekerja di sebuah toko sembako. Dua tahun dia bekerja dengan giat. Tahun 1994, dia menginjakkan kaki di Pulau Batam.

Di Batam, Mulyadi bekerja di toko elektrik di kawasan Jodoh. Sadar dirinya tak memiliki keahlian khusus, Mulyadi menerima dengan senang hati saat ditempatkan sebagai tenaga pikul di toko tersebut. Sambil bekerja, dia pun mempelajari tatacara menjalankan usaha. Karirnya terbilang cepat. Setelah melewati posisi di gudang, sales dan kolektor, di tahun 1998 dia dipercaya menjadi manajer toko.

Tahun 2004 menikah dengan Licu, perempuan yang di kemudian hari memberinya tiga orang anak yakni Fernandoz, Fernanda dan Fernandez. Setelah mengarungi bahterai rumah tangga, Mulyadi mulai berfikir. Dengan posisinya saat itu, waktu untuk keluarga sangat minim.

Di periode inilah jiwa bisnisnya mendapat tantangan. Mulyadi mulai ingin membangun usaha sendiri. Mulyadi pun semakin rajin mengikuti seminar-seminar pengembangan diri.
Tahun 2006, Mulyadi memutuskan keluar dari tempatnya bekerja. Dia membuka toko elektrik sendiri bernama "Theng Elektrik" di daerah Telaga Punggur dengan menempati satu ruko (rumah toko). Tapi bisnisnya gagal.

Setelah dua tahun mencoba bertahan, Mulyadi akhirnya menutup Theng Elektrik. "Tapi barang-barang yang belum laku tidak saya jual. Semua saya simpan, sampai sekarang masih ada. Itu saya jadikan kenang-kenangan," katanya.

Lirik Bisnis Furniture

Tak mau larut dalam kegagalan, Mulyadi lantas melirik usaha lain. Pilihannya jatuh pada bisnis furniture. Berbekal pengalaman menjadi marketing, dia percaya, bisnis ini akan booming. Terlebih, industri properti di Batam sedang melejit. Hampir di setiap kawasan di Batam, ada proyek pembangunan baik itu perumahan, ruko ataupun perkantoran.

Awal-awal menjalankan bisnis ini, dia sempat ditertawakan oleh orang-orang terdekatnya.
"Kamu jual barang di hutan, yang beli kera," kata saudaranya seperti yang ditirukan Mulyadi.

Mulyadi cuek. Dia tetap pasang kuda-kuda. Walaupun, sama sekali tak punya modal uang, dia tetap yakin, kali ini usahanya bisa sukses.

"Waktu itu, modal pertama saya adalah satu sofa, satu kulkas dan satu televisi," kata Mulyadi. Dia menghabisnya tawanya yang singkat. Ada sedikit genangan air mata di sudut matanya.

"Kita pesan kopi dulu, ya," katanya tiba-tiba. Pramusaji Godiva yang standby di dekat situ, mendekat. "Saya kalau sudah ngobrol, bisa ngopi bergelas-gelas. Tapi kalau sendiri, setiap harinya minimal tiga gelas kopi," kata Mulyadi.

Periode 2009-2010 termasuk masa keemasan dalam perjalanan bisnis Mulyadi Lim. Setelah mendapat kepercayaan dari berbagai pihak, dia lantas mengembangkan sayap usaha. Tiga toko cabang dibukanya yakni Toko Mandalai di Batuaji, Toko Diamond di Batubesar, Toko Berlian di Bengkong. Di tahun 2010 akhir, dia membuka Toko Scret Home di Pasar Mega Legenda, Batam Centre.

Tiga tahun berjalan, bisnis Mulyadi booming. Kata dia, resep utamanya memang kerja keras. Walau sekarang sudah berhasil, tapi Mulyadi tak pernah lupa asal-usulnya. Berbagi kebahagiaan kepada orang lain, selalu dikedepankannya.

Pesan sang papa (Alm) Suryanto selalu terngiang-iang di kepalanya: "Kalau papa tak makan, biarlah. Asal jangan sampai ada orang lain yang kelaparan." Karena itu, Mulyadi sangat membenci orang-orang kaya yang sombong. Semua harta, apalagi nyawa manusia, sejatinya adalah milik Tuhan.

Untuk memotivasi dirinya, Mulyadi juga memiliki dream book atau buku impian. Apa yang diinginkannya dalam hidup ini, selalu dituliskannya di buku itu, termasuk apa yang sudah dicapainya saat ini: rumah, mobil, toko dan sebagainya. Buku impian ini juga tak lepas dari pesan sang papa: "Nak, kalau kau punya impian, kejarlah. Papa tak bisa memberi apa-apa."

"Buku itu berisi impian-impian saya. Dan saya juga tuliskan target, kapan impian itu harus tercapai. Sekarang ini, saya sudah masukkan dalam dream book tersebut, saya ingin punya villa yang di dalammnya ada kolam renang dan juga lapangan golf. Lalu, anak-anak, saya inginnya semua kuliah di luar negeri, di universitas yang kualitasnya memang diakui dunia," katanya.

Sukses memang tidak gampang, tapi juga bukan pula hal yang mustahil diraih. Diperlukan keberanian, kejujuran dan yang penting adalah kerja keras. (yuri b trisna)

Share