Wednesday, Feb 15th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Kelenteng Be Wang Bio Tertua di Lingga

Kelenteng Be Wang Bio Tertua di Lingga

LINGGA- Selama ini Anda mungkin belum mengenal Kelenteng Be Wang Bio di Centeng, Desa Limbung, Lingga. Kelenteng Wang Bio dibangun pada tahun 70-an dan wakti itu masih beratap rumbia, berlantaikan tanah dan dibangun dengan menggunakan kayu.

Namun, kini kelentang tua yang terdiri Kelenteng Be Wang Bio, Kelenteng Sia Pi Kung dan Kelenteng Datok yang dibangun di atas lahan swadaya seluas 1 hektar sudah dimulai dibangun dengan bangunan tembok permanen.

Ketiga kelenteng tua berderet ke arah jalan dengan warna dinding perpaduan merah dan biru tua. Di depan deretan ketiga kelenteng tersebut terdapat tempat sembahyang yang terpisah, tepatnya di menghadap ke jalan.

Kepala Kelenteng Be Wang Bio, Lek Huak, Senin (13/2) mengemukakan, bangunan tersebut digunakan untuk tempat sembahyang bagi warga Tionghoa Centeng. Di sekitar kelenteng terdapat 200 kepala keluarga yang hidup sebagai nelayan dan beribadah di kelenteng tua itu.

"Bangunan yang ada saat ini dulunya merupakan kayu, atapnya itu rumbia dan tiak punya lantai permanen," katanya.

Lek Huak menjelaskan, sejarah awalnya dibangun hanya timbul niat dari masyarakat untuk mendirikan kelenteng walau biaya dan dananya belum ada. "Dengan semangat dan rasa sosial warga pada masa itu, akhirnya dibangunlah kelenteng dengan seadanya. Namun, pada masa-masa perkembangan ada PT Pulau Lingga menyalurkan dana untuk merehap kelenteng," katanya.

Joni, warga Centeng menuturkan, awalnya kelenteng tersebut merupakan kelenteng tertua yang ada sampai sekarang dan sering dikunjungi warga Tionghoa sekitarnya. Namun, berkat adanya PT Pulau Lingga, bangunan kelenteng dapat diganti secara permanen dengan semen.

"Mulai dari tempat sembahyang yang ada di kelentang sampai ke halaman sudah di semen,"ungkapnya.

Kelenteng Be Wang Bio dapat dijadikan sebagai salah satu aset Pemerintahan Kabupaten Lingga untuk dilestarikan sebagai tempat wisata religi bagi warga Tionghoa dan juga masyarakat lainnya, karena sejarah yang dimiliki oleh kelenteng itu.

"Harapan saya, pemerintah dapat memperhatikan dan menjadikan Be Wang Bio sebagai pusat dan kunjungan wisata religi,"tambah Mulyadi Lim. (nofriadi putra)