Saturday, Feb 18th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Negeri Kaya Minyak tapi Miskin Energi

Negeri Kaya Minyak tapi Miskin Energi

BEBERAPA nelayan masih duduk bertafakur di atas kapal yang sudah disiapkan untuk berlayar. Mereka terus dirundung keraguan. Bukan ombak laut yang membuat para pria itu takut berlayar. Kendala besar yang menghadang mereka ialah stok solar yang sudah menipis.

Sudah seminggu pasokan bahan bakar minyak itu tidak kunjung tiba. Kondisi tersebut biasa dialami para nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tanpa solar, mereka tidak akan bisa melaut.

"Kalau kami tidak melaut, berarti tidak ada makanan untuk keluarga," kata Hasan, nelayan di Kecamatan Siantan.

Persoalan Hasan itu juga dialami semua petani di Siantan. Setiap saat mereka selalu kekurangan solar. Sering kali mereka harus menganggur hingga satu pekan jika pasokan solar terlambat datang.

Ironi itu sudah menjadi bagian kehidupan warga Anambas. Mereka kekurangan, padahal daerah ini merupakan penghasil minyak dan gas. Ada tiga perusahaan besar yang menyedot di lepas pantai, yakni Conoco Philips, Star Energy, dan Prima Oil.

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kepulauan Anambas mencatat kontribusi migas daerah ini untuk negara mencapai rata-rata Rp20 triliun per tahun. Kepulauan Anambas yang berumur kurang dari empat tahun mendapatkan dana bagi hasil migas sekitar Rp300 miliar.

Jumlah penduduk Kepulauan Anambas sekitar 42 ribu orang. Sekitar 70% di antaranya berprofesi sebagai nelayan. Namun, mereka masih hidup miskin. Salah satu penyebabnya ialah mereka sulit mendapatkan solar.

"Ya sampai mengemis istilahnya, agar bisa diberi jatah lebih. Kami juga sudah protes ke Pertamina dan BPH Migas tapi tidak diperhatikan," ujar Bupati Kepulauan Anambas Tengku Mukhtaruddin.

Saat ini, kebutuhan solar di Kepulauan Anambas mencapai 400 ton liter per bulan. Namun Pertamina hanya memasok 200 ton liter. Adapun kebutuhan bensin 300 ton liter dan hanya disediakan 160 ton liter.

"Jatah itu tidak pernah berubah saat Anambas masih menjadi kecamatan dan bergabung dengan Kepulauan Natuna, dengan kini sudah menjadi kabupaten sendiri. Sampai sekarang juga tidak ada SPBU di sini," keluh bupati.

Untuk memenuhi kebutuhan BBM, masyarakat harus membeli ke Natuna atau Batam. Padahal, waktu tempuh dengan angkutan laut bisa memakan waktu 15 jam.

Pemerintah kabupaten juga berusaha membantu warga dengan membeli ke Natuna dan Batam, melalui dana tidak terduga.

"Dana tak terduga memang diperuntukkan menangani bencana alam. Tapi, dana itu dibelikan BBM karena kalau nelayan tidak memiliki solar, bencana sosial akan terjadi. Tidak ada uang untuk membeli makan keluarga dan anak-anak bisa busung lapar," ujar Mukhtaruddin.

Listrik

Derita tidak sampai di situ. Listrik pun belum bisa dinikmati warga dengan maksimal. Dari 30 pulau yang kini dihuni, belum seluruhnya mendapatkan pasokan listrik.

Ironi lagi-lagi terjadi karena permukiman dan perkantoran perusahaan minyak selalu terang benderang. Listrik tidak pernah putus.

Beda halnya di luar wilayah perusahaan minyak, masyarakat hidup dalam kegelapan. Untuk sekadar penerangan, warga harus membeli genset sendiri. Karena itu, tidak terhitung jumlah pemilik genset di kepulauan ini.

"Beli gensetnya sekitar Rp3 juta,'' kata Udin, nelayan dari Pulau Nyamuk.

Namun, tidak semua warga bisa menikmati listrik selama 24 jam sehari. Untuk menyalakan genset dari pukul 17.00 WIB sampai 05.00 WIB, mereka harus merogoh kocek hingga Rp500 ribu guna membeli solar.

"Di wilayah lain, PLN menjamin listrik jalan terus. Tapi kami di sini sudah biasa tidak menikmati listrik secara penuh," imbuh Irfan, seorang pegawai negeri.

Bupati Anambas pun menempatkan listrik sebagai prioritas pembangunan. Ada tujuh kecamatan di kabupaten ini. Baru Kota Tarempa, ibu kota kabupaten yang dihuni 12 ribu jiwa, yang mendapat cukup pasokan listrik.

Ke depan listrik akan dialirkan ke kecamatan yang belum mendapatkan pasokan. Sumber energinya dari pembangkit listrik tenaga air dan genset.

Ide bupati diamini Wakil Ketua DPRD Anambas Sutomo. "Kalau tidak ada listrik, kami akan menderita malu di mata internasional. Kaya dengan sumber energi, tapi kami tidak bisa menikmatinya."

Persoalan besar lainnya ialah air bersih. Nyaris tidak ada sumber air tawar yang dimanfaatkan.

Meskipun Kepulauan Anambas memiliki tiga air terjun pegunungan, airnya justru langsung mengalir ke laut. Kelangkaan air tawar dan listrik ini juga menjadi kendala bagi Anambas untuk mengembangkan sektor pariwisata yang berbasis pada wisata lingkungan.

"Pantai di Anambas bersih. Kami punya garis pantai dengan hamparan pasir putih sepanjang 6,4 kilometer, yang jarang ada di pantai lain," kata pemimpin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kepulauan Anambas Faisal.

Sekalipun belum tergali maksimal, bukan berarti tidak ada pengunjung yang melirik Anambas. Dinas pariwisata mencatat sejumlah turis dari Malaysia, Singapura, Thailand, Myanmar, dan Kamboja sudah datang ke wilayah ini.

Karena itu, untuk masa depan Kepulauan Anambas, pemerintah kabupaten berencana menggelar banyak program, di antaranya pembangunan tiga waduk untuk mencukupi kebutuhan air tawar. Program lain yaitu pembangunan bandar udara, tiga jembatan, satu pelabuhan, dan jalan sepanjang 50 kilometer. Pembangunan itu akan dimulai pada 2012.

"Anambas berbatasan langsung dengan empat negara, dan dilintasi jalur laut internasional di Laut China Selatan. Karena itu, Anambas harus berbenah menjawab tantangan internasional," tegas Mukhtaruddin. (mio)