Saturday, Feb 18th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Melayu, Bukan Cuma Sekedar Simbol...

Melayu, Bukan Cuma Sekedar Simbol...

Sekali lagi, Dewi (29) menatap kaca mobilnya. Dibenahi ujung baju kurung warna biru muda yang tampak melengkung terhimpit tali tas. Setelah merasa rapi, dia pun bergegas naik ke mobil, siap menuju tempat kerjanya di Kantor Walikota Batam, Jumat (10/2).

"Sudah ketentuan, setiap hari Jumat, seluruh pegawai di lingkungan Pemko Batam memakai busana Melayu. Kalau hari Kamis, kami pakai batik," kata perempuan yang mengaku lahir di Jakarta ini, pagi sebelum memacu mobilnya dari perumahan di kawasan Batam Centre.

Penerapan pemakaian busana Melayu di hari Jumat, bukan hanya monopoli kalangan PNS saja. Anak-anak sekolah, mulai dari SD, SMP sampai SMA/SMK juga diberi kebijakan untuk mengenakan atribut yang mencirikan budaya Melayu tersebut. Sementara instansi swasta, sebagian ada yang memilih batik sebagai busana wajib di hari Jumat.

Sebagai tanah Melayu, pantas rasanya jika pemerintah di Batam menerapkan kebijakan itu. Walaupun di Batam masyarakatnya sangat heterogen, namun setidaknya pemerintah ingin menunjukkan bahwasanya masyarakat kota industri ini masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Melayu. Itu sesuai pula dengan nasihat bijak: dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

"Kita memang tidak bisa menutup diri. Jumlah penduduk Batam yang banyak dan sangat heterogen membuat kebudayaan kita bertambah kaya. Tapi, sebaiknya budaya Melayu tetap menjadi payung dari budaya-budaya lain yang ada di sini," kata Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam Drs Nyat Kadir.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi, membuat Batam tidak bisa mengelak dari proses urbanisasi yang kemudian melahirkan heterogenitas penduduk. Di satu sisi, heterogennya warga Batam dapat membuat kebudayaan lokal (Melayu) terancam eksistensinya. Namun di sisi lain, aneka ragam kebudayaan tersebut sebenarnya bisa memperkaya sekaligus menjadi kekuatan besar guna menangkal gelombang kebudayaan asing yang berkonotasi negatif, yang berpotensi menyebabkan terjadinya dekadensi moral.

Sayangnya, kebudayan-kebudayaan lokal tersebut, seolah mengalami kekalahan. Dia (budaya Melayu) tergerus oleh pesatnya kemajuan tekonologi dan semakin suburnya hedonisme, yakni pandangan yang menganggap kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup. Sikap ini sangat mendukung lahirnya pribadi-pribadi individualistis.

Nyat Kadir mengaku sangat prihatin melihat perkembangan budaya Melayu di kota ini. Menurutnya, jika budaya setempat tidak dijadikan pegangan oleh pemerintahan dan masyarakatnya, maka Batam bisa tidak memiliki jati diri dan visi untuk menjadikan Batam sevagai Bandar Dunia Madani.

Kondisi sekarang, menurut mantan Walikota Batam ini, bisa dilihat, jangankan pada tata nilai, simbol budaya Melayu saja sangat kurang di Batam. Minimnya simbol, seakan menunjukkan kalau perkembangan budaya setempat (Melayu) jalan di tempat. Itu bisa dilihat dari pintu masuk Batam, baik bandara maupun pelabuhan. Ciri-ciri (simbol) budaya Melayu tidak ditemukan. Belum lagi masalah bangunan gedung, pemberian nama-nama jalan. Dan lain sebagainya.

Dari simbol lainya, seperti berpakaian, di luar pemerintah yang mem-fardhukannya di hari Jumat, sudah sangat jarang ditemukan. Bahkan, seakan berbanding terbalik dengan apa yang semestinya. Di tengah pusat kota, baju kurung seolah menjadi barang langka. Menurut Nyat Kadir, walaupun tidak ada kewajiban, namun pemakaian busana Melayu hendaknya terus dilestarikan karena itu merupakan identitas.

"Ini baru kita bercerita simbol. Jauh dari pada itu ada tata nilai yang harus dipegang. Kalau kita lihat negara yang jauh lebih modern dari pada kita, seperti Jepang. Namun masyarakatnya tetap memegang teguh budayanya. Sementara daerah kita, mulai luntur. Oleh karenanya jika agama dan budaya suatu bangsa sudah tidak dijaga, maka akan runtuhlah bangsa tersebut dan jauh lebih parah jika dibandingkang dengan kehancurang ekonomi," katanya.

"LAM, seringkali mendapat kritikan dan masukan dari berbagai pihak. Banyak simbol di kota ini tidak memakai simbol Melayu. Seperti tulisan 'well come,'. Itu memang baik, tapi paling tidak, semestinya ada tulisan Melayunya."

Seperti kata Syamsul Bahrum, pengamat sosial, ekonomi, politik dan budaya Kota Batam, Kota Madani adalah kota yang harmonis bagi heterogenitas penduduk dan pluralisme politik. Suatu kota yang mampu memadukan antara esensi kemajuan ekonomi di balik signifikansi mempertahankan adat dan tradisi. Suatu kota masa kini dan masa depan yang selalu mengedepankan sisi logika, estetika dan etika dalam pembangunan.

Karena itu, guna mempertahankan budaya setempat, pihak LAM mengajak semua kalangan untuk bahu membahu. Namun, dia mengingatkan, menjaga budaya Melayu jangan terpaku cuma pada simbol saja, sebab Melayu bukan cuma sekadar simbol namun lebih pada prilaku atau tata nilai yang dimiliki.

"Sekarang generasi penerus kita seakan hilang pegangan. Namun demikian, sebagai orangtua tidak harus menyalahkan mereka. Harus ada tanggung jawab bersama dalam membentuk kepribadian anak dalam mencintai budaya Melayu. Oleh karenanya orangtua memiliki peranan penting," terang Nyat Kadir.

Ke depan, LAM berencana akan mewajibkan setiap sekolah mempelajari kebudayaan Melayu melalui muatan lokalnya. Hal ini bertujuan, agar pelajar dari usia dini sudah mengenal apa itu budaya melayu. Mulai tulisan Arab Melayu, belajar berpantun, gurindam dan lain sebagainya yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

"Jangan bilang kalau mencintai budaya kita akan ketinggalan zaman. Padahal tidak, kita harus berbangga jika nilainya tetap kita jaga," katanya.


Kawasan Berbusana Sopan
Apa yang dikatakan Nyat Kadir, soal jarangnya melihat busana Melayu dipakai di Batam, memang patut direnungkan. Terlebih, jika itu menyangkut kepentingan pariwisata yang berkaitan erat dengan dunia hiburan.

Sebagai kota persinggahan yang ramai, Batam tidak bisa melepaskan diri dari dinamika gaya hidup masyarakat urban. Di sini, tumbuh subur tempat-tempat hiburan, mulai dari pusat perbelanjaan, kafe, pub, massage dan lainnya. Kondisi itu berdampak pula pada gaya berbusana. Apakah perlu membatasi gaya berbusana seseorang, entah itu warga Batam, pendatang atau wisatawan mancanagera?

Jika anda berada di kawasan Nagoya, jangan heran jika melihat banyak orang lalu-lalang dengan pakaian seksi, super mini. Dan jangan takjub pula jika di satu titik anda menemukan plang yang berisi imbauan tentang berpakaian sopan.

Imbauan tersebut dibuat gerakan perempuan peduli Batam pada April 2003 lalu. Dipasang di wilayah persisnya di pusat keramaian Centre Point Nagoya. Ketika itu, pemerintah juga menggaungkan semangat pelestarian budaya Melayu, yang salah satunya mengimbau agar warga Batam khususnya perempuan untuk tidak mengumbar aurat di tempat umum.

Selain sebagai upaya melestarikan budaya Melayu yang bernuansa Islami, imbauan tersebut juga dimaksudkan untuk meminimalisir angka kejahatan tentang pelecehan seksual yang dapat merugikan kaum perempuan sendiri.

Sayang, dalam perjalanan waktu, imbauan itu tidak ditanggapi. Mungkin, banyak warga (perempuan) yang merasa aneh dengan imbauan tersebut. Terlebih lagi para pengusaha tempat-tempat hiburan. Perlu diketahui, di kawasan tersebut merupakan salah satu kawasan di Batam yang dipenuhi oleh berbagai tempat hiburan seperti, karoke, panti pijat (massage) dan hotel.

"Pengumuman itu, sudah lama ada, tapi tidak pernah diikuti oleh cewek-cewek di sini. Bagaimana mau diikuti, rata-rata perempuan yang ada di sekitar sini, kebanyakan pekerjaannya di dunia hiburan seperti di karoke, tempat pijat dan pelayan tamu," kata Rinaldi, salah satu supir taksi yang biasa mangkal di kawasan tersebut.

Biasanya, kata Rinaldi, kawasan itu dipenuhi kaum hawa mulai pukul 16.00 WIB. Soal ukuran berpakaian sopan, menurutnya juga perlu diperjelas. Pasalnya, bagi sebagian perempuan atau golongan masyarakat tertentu, memakai celana pendek atau rok mini serta baju yang agak terbuka, sudah menjadi kebiasaan, bukan hal yang tabu lagi.

"Lihat saja sekeliling sini, mulai dari hotel, karoke dan tempat pijit, semuanya ada. Kalau siang-siang memang terlihat sepi tidak banyak cewek-cewek yang keluar, tapi, kalau sudah menjelang sore, maka baru nampak cewek-cewek yang berpakaian seksi. Kalau menurut plang itu, ya jelas mereka tidak sopan," tambah Ipet, supir taksi lainnya.

Satu cerita disampaikan Ipet. Beberapa waktu lalu, dia membawa penumpang yang baru datang dari Jakarta. Saat melintas di kawasan ini, penumpang itu melihat plang imbauan tentang berpakaian sopan. Penumpang itu tertawa karena apa yang tertulis di plang imbauan itu sangat jauh bertolak belakang dengan pemandangan yang ada di depan matanya.

"Aneh, siapa yang buat imbauan itu? Percuma saja dibuat tapi banyak cewek yang pamer paha," kata orang dari Jakarta itu seperti ditirukan Ipet. (yuri/taslim/bayu)