Monday, Feb 20th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Usaha Sagu Sejak Kerajaan Sultan Mahmud

Usaha Sagu Sejak Kerajaan Sultan Mahmud

LINGGA- Masyarakat di Daik, Lingga masih mempertahankan usaha pembuatan sagu tradisonal dan menjadi prioritas usaha untuk menghidupi keluarga. Cara berusaha sagu ini berlangsung secara turun menurun kepada keluarga, sehingga hingga sekarang tetap berjalan dan eksis.

Usaha sagu tradisional masih tersebar di berbagai desa yang ada di Kecamatan Lingga dan Lingga Utara, seperti di Panggak Laut, Nereke, Musai, Pekaka, Desa Keton, Desa Kudung, Desa Teluk dan Tanjung Bungsu. Dari keseluruhan pengolah sagu yang ada di desa itu dapat menghasilkan sagu satu kali panen sebanyak 400 ton lebih.

Bakri, salah seorang pengusaha sagu di Kampung Budus, Desa Merawang mengatakan, ia sudah hampir selama dua belas tahun menjalani usaha sagu. Usaha yang dilakoninya ini merupakan warisan dari orang tuanya. Begitu juga dengan orang tuanya juga warisan dari kakek dan neneknya.

"Usaha ini meneruskan apa yan telah menjadi usaha orang tua saya sebelumnya. Dan usaha ini sudah menjadi turun-temurun dari zaman Kerajaan Sultan Mahmud pada abad 18 dulu. Karena, nenek moyang orang di sini, makanan pokoknya dulu adalah sagu," tutur Bakri.

Dikatakan, untuk mengolah sagu, pertama-tama ia terlebih dulu pergi ke hutan untuk mengambil pohon sagu yang telah tua dan dipotong-potong sepanjang lebih kurang satu meter. Lalu dengan menggunakan alat pendorong ia dapat membawa pohon tersebut ke tepi hutan atau sungai-sungai kecil untuk di bawa ketempat pengolahan sagu (kebu).

"Sampai di sini, kita kupas dulu semua kulitnya, lalu kita belah dan diparut dengan mesin yang mempunyai gerigi dari besi. Setelah itu, hasil parutannya kita tampung dalam bak yang terbuat kayu, proses pengolahan sagu ini lumayan cerewet dan membutuhkan waktu yang cukup lama," ujar Bakri.

Proses pembuatan sagu, tambah Bakri, setelah ditampung dalam bak yang diisikan air, lalu disaring untuk memisahkan ampas dengan airnya. Setelah itu baru ditampung lagi menggunakan bak kecil (uba). Dari sini, air tersebut akan mengendap dan menghasilkan sagu basah.

"Setelah sagu basah masih ada lagi satu proses penyaringan untuk menghasilkan sagu putih," ujarnya.

Buang, salah seorang pengolah sagu lain mengaku dari hasil panennya dapat menghasilkan sagu putih hampir mencapai 6 ton sagu. Di mana sagu tersebut dijual dengan harga Rp1.400 per kilogram yang akan dikirim ke Kota Cirebon, Tanjungpinang dan dan Tanjung Balai Karimun.

"Untuk sagu basah, atau sagu nomor dua kita jual dengan harga Rp1.000, di mana hasilnya cukuplah untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,"ujarnya.

Syahrul, pengelolah sagu di Kampung Merawang juga mengakui usaha ini masih menjadi mata pencaharian bagi masyarakat di Lingga, khususnya di Daik. Karena sudah menjadi semacam tradisi dan dapat dikirim ke kota-kota yang lain. Sagu dijadikan bahan baku makanan seperti laksa, kue bangkit, keripik sagu dan juga kerupuk.

"Harapan kita, untuk ke depan pemerintah dapat memberikan perhatian dengan memberikan pelatihan-pelatihan pengelolahan sagu yang lebih baik kepada kita-kita ini," tutur Syahrul.(nofriadi putra)