Sebulan Bisa Kumpulkan Rp70 Juta
Sebagai kota industri, Batam memiliki banyak potensi yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah, bagi siapa saja yang mau berusaha. Tak harus bekerja formal atau di perkantoran, dengan mengumpulkan barang bekas pun, seseorang bisa menjadi mapan secara ekonomi.
Walaupun, setiap harinya para pengumpul barang bekas atau pemulung itu harus bertungkus lumus, tersaput debu dibasah hujan, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan barang-barang seperti besi, kardus, kaleng bekas atau plastik.
Salah satunya Sarifudin (40) pria asal Padang Sumatera Barat ini. Pria yang akrab dipanggil Ajo ini sudah menjadi pengumpul barang-barang bekas di Batam selama tujuh tahun. Sekarang, kehidupan Ajo di mata sebagian orang mungkin sudah terbilang "wah" kendati dia dikelilingi beronggok-onggok barang bekas.
Setiap hari, Ajo mengumpulkan barang-barang bekas seperti kaleng minuman, botol, kardus, koran, buku, besi, tembaga dan lain sebagainya yang dibawa oleh para pemulung lain. Dalam sehari, Ajo bisa mendapatkan minimal satu ton barang bekas berbagai macam bentuk dari para pemulungnya. Dia mengaku, saat ini, omset yang diperolehnya dalam sebulan bisa mencapai Rp70 juta.
"Sesuai dengan kondisi harga, biasanya omset saya sebulannya bisa mencapai Rp70 juta. Dan jika dihitung per hari, omset yang saya terima satu hari sebesar Rp5 juta," kata Ajo ditemui di kediamannya di Bengkong Laut, Senin (20/2).
Ajo mengatakan, harga barang-barang bekas yang dibawa oleh pemulung ke tempatnya bervariasi. Besi misalnya, satu kilonya Rp3000, kardus Rp800 dan plastik perkilonya Rp15 ribu.
Setiap tiga hari sekali, Ajo akan menjual semua barang-barang bekas yang dikumpulkan ke tempat penampungan yang lebih besar. Katanya, setiap barang-barang bekas yang akan dijual, tempat penampungannya berbeda-beda. Kalau plastik, dijual ke penampungan di Simpang Jam, besi di Batuampar.
"Penampungan yang ada di Batam berbeda-beda. Nanti, penampungan itu yang akan mengekspornya ke Simgapura dan Malaysia, "tutur Ajo.
Lain halnya dengan Lahanafi (49) pria asal Sulawesi yang memiliki tempat penampungan kecil di Jalan Prambanan, Bukit Senyum. Dia mengaku, omset yang didapatnya sebulan hanya Rp4 juta. Setiap barang yang akan dijualnya ke tempat penampungan yang lebih besar, hanya mengambil keuntungan sebesar Rp300 perkilonya.
"Omset saya hanya empat juta rupiah dalam sebulan dan kalau dihitung perharinya saya bisa mendapatkan minimal Rp150 ribu. Semua barang yang saya jual, saya cuma mengambil keuntungan sekitar Rp300 saja," kata Lahafi.
Pria yang sudah 10 tahun berprofesi menjual barang-barang bekas ini menuturkan, setiap harinya, ia menerima barang-barang bekas dari pemulung yang datang ke tempatnya. Untuk harga, plastik sekilonya hanya Rp1.200, besi perkilonya hanya Rp3000, kardus atau sejenisnya harganya perkilo hanya Rp 700, botol mineral perkilonya hanya Rp2.000 dan yang paling mahal ialah kaleng minuman yang perkilonya Rp11 ribu.
Selain dari pemulung, ungkap Lahanafi, dia mendapatkan barang-barang bekas dari hasil pelelangan perusahaan yang ada kota ini.
"Kalau itu, keuntungannya lumayan besar. Dulu saya pernah mendapatkannya," katanya.
Hikman (70), pria dari Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB) punya cerita lain. Dia mengaku datang ke Batam 21 tahun silam dan sejak saat itu langsung menggeluti profesi pengumpul barang bekas. Dengan bermodalkan gerobak sorong yang sudah usang, Hikman bisa menghasilkan uang minimal Rp30 ribu sehari.
"Alhamdulillah, saya bisa menghasilkan uang paling sedikit Rp30 ribu dari barang-barang bekas yang saya dapatkan. Semua barang-barang bekas itu berupa, kaleng, seng, karton, kardus dan lain-lainnya," kata Hikman ditemui di rumahnya di Bengkong Kodim.
Hikman menuturkan, setiap harinya dia menjalankan pekerjaan dengan berjalan kaki, mulai dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 17.00 WIb. Setiap harinya, beban yang selalu dibawanya bisa mencapai 10 kilogram lebih. Walaupun begitu, ia selalu bersyukur dengan apa yang dilakukannya.
"Rasa bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa, membuat saya tetap bertahan menjalankan pekerjaan ini sampai sekarang," paparnya.
Semua barang-barang hasil jerih payahnya itu dikumpulkan di rumahnya. Satu bulan sekali, Hikman akan memanggil pengumpul yang lebih besar di Bengkong Laut untuk mengambil barang-barang bekas yang ada di rumahnya.
"Barang-barang ini saya kumpulkan selama satu bulan, nantinya akan ada orang yang menjemputnya dengan lori. Barang-barang ini akan ditimbang untuk dijual," ucap Hikman sembari menghisap rokoknya.
Meski tidak memiliki pendidikan formal, namun Hikman mengaku dari hasil pengumpulan barang bekas itu, dia sanggup menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang SMA. "Semua ini saya lakukan hanya untuk anak-anak saya. Biarlah saya tidak sekolah, yang penting anak-anak saya sekolah semuanya," kata kakek dari enam cucu ini. (tengku bayu)
Meraup Rupiah dari Barang Bekas
- Selasa, 21 February 2012 00:00