Jantungnya Bocor Selebar 5,24 mm
BATAM – Siapa bilang sakit jantung hanya milik orang-orang kaya dan kalangan atas belaka? Jantung tak pilih status orang, bocah berusia 5 tahun pun sudah divonis oleh dokter mengalami kebocoran jantung.
Bedanya kalau orang kaya segera menerbangkan anaknya ke rumah sakit jantung semacam RS Harapan Kita di Jakarta atau ke Mount Elizabeth di Singapura, sedang orang tua dari bocah Hasan Basri merasa itu hanya ada dalam mimpi belaka.
Pasangan Rohani Sibarani dan Masjiono warga Tibam V Kaveling Cendrawasih Blok D, akhirnya harus pasrah menerima nasib ketika anak bungsunya divonis dokter di RS Awal Bross mengalami kelainan jantung belum lama ini.
“Bahkan dokter menerangkan kepada kami bahwa jantung Hasan sudah bocor sampai 5,24 mm. Kami benar-benar panik dibuatnya,” kata Rohani yang ditemui Haluan Kepri di rumahnya kemarin. Ia bersama suaminya tak bisa berkata apa-apa ketika dokter RSAB menyarankan agar anaknya dioperasi.
Hasan, bocar itu dari luar terlihat biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda ia sudah berada pada status siaga-2 untuk kasus kebocoran jantung. Siang kemarin saat teman-temannya bermain di depan rumahnya, Hasan hanya duduk dan melihat dari teras rumahnya.
Rohani Sibarani menceritakan saat ia melahirkan Hasan lima tahun lalu dokter di RS Elisabeth Batam tidak ada menyatakan bahwa bayinya mengalami kelainan jantung. "Saya kaget waktu dokter di RS Otorita Batam mengatakan bahwa anak saya memiliki kelainan jantung atau kebocoran jantung setelah umur 6 bulan," kata Rohani.
Gejala awal yang pertama kalinya dirasakan Hasan ialah saat sakit demam tinggi yang disertai batuk, sesak nafas, dan pilek. Waktu itu, Rohani hanya memberikannya obat generik untuk menghilangkan semua penyakit pada hasan. Tapi, tidak lama berselang, Hasan kembali diserang sakit yang sama.
"Pertama-tama saya tidak tahu, kalau semua sakit yang menyerang Hasan itu merupakan sakit akibat kalainan jantungnya, setelah saya bawa berobat ke RSOB, baru saya tahu dari dokter bahwa ia memiliki kelainan jantung," tutur Rohani dengan wajah yang sedih.
Di situlah harapan Rohani seakan habis sama sekali. Karena sekalipun dia tidak tanyakan biaya operasi itu, tapi ia sudah yakin bahwa ia bersama suaminya tidak akan sanggup membayar biaya operasi anaknya. “Sakit jantung, kan sakitnya orang-orang kaya,” katanya dengan tatapan kosong.
Tapi cinta ibu kepada anaknya tak membuat dia putus asa. Ia terus mencoba mengatasi dan menyelamatkan buah hatinya. Pengobatan alternatif yang disarankan beberapa kenalannya dia tempuh. Rohani memberikan pengobatan alternatif seperti memberikan binatang laut yakni Gamat untuk meredakan sakit yang dialami Hasan.
Dan sepanjang hari ia dan suaminya dibayangi pesan dokter di RSAB itu yang menyatakan bahwa saat ini status kebocoran jantung itu masih pada siaga-2. Artinya masih bisa diatasi dengan operasi. Tapi kalau tidak jua dioperasi, dan kebocoran makin besar maka tipis kemungkinan Hasan akan sehat.
"6 bulan yang lalu, waktu itu kebocoran jantung Hasan sudah mencapai 3.39 mm dan saat ini jantungnya yang bocor sudah selebar 5.24 mm kata dokter statusnya sudah siaga- 2, dan ini harus segera dioperasi," ungkap Rohani.
Nasib Rohani dan keluarganya memang tidak beruntung. Jangankan untuk menjalani operasi jantung anaknya di Jakarta misalnya, kartu Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) pun ia tak punya. Bukan tak diusahakannya untuk mendapatkan, sudah berkali-kali ia mengurus kartu kepersertaan Jamkesda untuk membantu pengobatan anaknya. Tapi, Jamkesda saat ini belum memiliki biaya untuk membantu pengobatan anaknya.
"Saya sudah berkali-kali mengurus Jamkesda, tapi, menurut orang di Dinas Kesehatan Batam, saat ini, pemerintah belum memiliki biaya," ucap Rohani dengan mata berkaca-kaca.
Rohani saat ini sangat berharap bentuk bantuan dari pemerintah dan para dermawan untuk biaya pengobatan anaknya. Menurut dokter RS Awal Bross, biaya bedah jantung bisa mencapai Rp150juta. Nantinya, operasi dilakukan di Jakarta karena di Batam belum ada layanan seperti itu.
"Saya sangat berharap sekali ada yang mau membantu menolong pengobatan Hasan, kami tidak akan sanggup mencarikan uang sebanyak itu. Rumah ini saja kalau dijual tidak cukup untuk mengobati penyakit anak saya,” kata Rohani.
Suaminya Masjiono hanya buruh kecil di sebuah perusahaan galangan kapal di Tanjung Uncang. Pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Nah, siapa yang akan membantu Hasan? (tengku bayu)
- Mbak, Senyumnya Mana?...
- Di Dunia Sengsara, Apalagi di Akhirat
- Meraup Rupiah dari Barang Bekas
- Wisata Air Panas Makin Ramai
- Sehari Terkumpul Batu Granit Satu Pompong
- Usaha Sagu Sejak Kerajaan Sultan Mahmud
- Melayu, Bukan Cuma Sekedar Simbol...
- "Jaga Selalu Hatimu", Senandung Isteri Sang Panglima
- khasanah, Turun Kapal, Tepung Tawar Wajib dilaksanakan
- Negeri Kaya Minyak tapi Miskin Energi