Friday, Mar 02nd

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Satu Persatu Guru Kami Pergi...

Satu Persatu Guru Kami Pergi...

Kondisi memprihatinkan SD Tribuana yang menempati gedung bekas di jalan Ir Sutami, Sekupang, sejalan dengan nasib tenaga pengajarnya. Sejak berdiri tahun 2004 silam, entah sudah berapa kali guru di sekolah ini berganti.

Kepergian guru dari SD Tribuana untuk mengajar di sekolah lain, memang tak bisa pula dipersalahkan. Adalah sesuatu yang wajar jika seseorang mencari penghidupan yang lebih baik dari apa yang didapatnya sekarang.

Pada tahun 2011 lalu, misalnya, setidaknya ada 6 guru honorer yang mengabdikan diri di sekolah milik Yayasan Reuni Batam - Kepri ini. Tapi sekarang, hanya dua orang guru saja yang tersisa di sekolah yang memiliki 48 murid ini. Selain itu, ada kepala sekolah yang terpaksa merangkap tugas sebagai pengajar karena minimnya guru.

"Iya, om, guru-guru kami sudah ada yang keluar. Tak tahulah kenapa pula keluar," kata Rinto, murid kelas VI yang ditemui saat jam istirahat, Rabu (22/2).

Selama mengajar di SD tersebut, setiap guru hanya mendapatkan rata-rata Rp500 ribu setiap bulannya. Itu pun terkadang pembayaran honor mereka telat diterima karena ada sebagian wali murid menunggak pembayaran SPP yang nilainya Rp85 ribu setiap murid perbulannya.

Sementara bantuan dari pemerintah pusat dan daerah, berupa tunjangan insentif untuk guru honorer, sama sekali tidak pernah mereka nikmati. Pasalnya, hingga saat ini keberadaan sekolah tersebut belum memiliki Ijin Operasional, hal tersebut dikarenakan sekolah tersebut belum mendapatkan tempat untuk melakukan proses belajar-mengajar yang jelas.

Padahal, untuk memperoleh tunjangan insentif untuk guru-guru dan juga dana BOS dari pemerintah, setiap sekolah wajib memiliki ijin operasional. Sementara untuk mendapatkan ijin operasional diwajibkan memiliki tempat domisili, sedangkan hingga kini keberadaan SD Tribuana belum memiliki tempat menjalankan aktivitas yang jelas, karena tempat yang dipergunakan saat ini merupakan bekas gedung workshop Otorita Batam lama yang telah ditinggalkan karena tidak layak pakai lagi.

Tapi, meski bekas dan tidak terpakai lagi, tapi ternyata pihak OB atau yang saat ini dikenal dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam hingga saat ini enggan mengeluarkan ijin peminjaman kepada pihak yayasan untuk digunakan sebagai tempat melaksanakan proses belajar-mengajar. Padahal, ijin peminjaman sudah disampaikan sejak 3 November 2010 silam, dan hingga kini belum ada jawaban.

Menurut Kepala Sekolah SD Tribuana, Musa Kasim SPd, setiap ditanya perihal ijin tersebut, selalu dipimpong dari pejabat satu ke pejabat lainnya di gedung BP Batam.

Mahmuda, seorang guru yang telah mengabdikan diri di SD Tribuna sejak sekolah tersebut berdiri mengatakan, bahwa kalau untuk mengejar materi, maka janganlah memilih sekolah tersebut untuk mengajar. Karena memang pada kenyataannya apa yang diterima selama ini, sangat jauh dari cukup.

"Di sini memang hanya demi pengabdian, bukan untuk mencari materi yang selama ini bisa didapatkan dari sekolah lainnya," katanya dengan nada semangat.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, selama ini dia mengandalkan gaji dari suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan. Dan untungnya selama ini, suaminya tidak banyak protes atas honor yang isterinya terima sebesar Rp500 ribu setiap bulannya. Padahal di tempat lain, Mahmuda bisa saja mendapat honor yang lebih besar.

Meski besaran yang diterimanya sangat jauh dari cukup, tapi Mahmuda tetap semangat, ia memegang prinsip; kalau bukan saya, siapa lagi yang mau mengabdikan diri seperti ini. Tapi tentu semua ini dilakukan karena ada optimisme bahwa kondisi tersebut nantinya akan berubah dan pihak BP Batam mau meminjamkan gedung bekas tersebut sebagai persyaratan untuk mendapatkan ijin operasional sekolahnya.

Tahun 2011 lalu, ada seorang guru yang bernama Vichi mengatakan, bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia terpaksa bekerja sampingan di sebuah perusahaan di bilangan Sekupang pada malam harinya. Sebuah itu dilakukan, karena memang honor yang diterimanya di SD Tribuana sangat jauh dari cukup.

"Selesai mengajar disini Mas, saya bekerja di tempat lain, maklum demi keberlangsungan kehidupan dan cita-cita saya untuk kuliah lagi," ujarnya sambi tersenyum.

Guru yang sudah beberapa bulan mengabdi ini menambahkan, bahwa sebenarnya pernah juga terbesit niat untuk mencari sekolah yang lebih menjamin kesejahteraan, tapi setelah dipikir-pikir dia akhirnya mengurungkan niatnya karena merasa tidak etis meninggalkan sekolah dalam kondisi sedang berjuang untuk mendapatkan ijin operasional, ditambahkan semangat anak-anaknya yang luar biasa.

Tapi ternyata sejak dua bulan lalu, idealisme Vichi juga terkalahkan oleh kondisi kebutuhan ekonomi yang terus meningkatkan. Dan akhirnya sejak tahun 2012 dia memutuskan untuk berhenti bekerja di SD tersebut dan pindah kerja di tempat lain yang honornya lebih manuasiawi.

Pertanyaan singkatnya, apakah tenaga pendidik di SD Tribuana ini mampu bertahan dengan kondisi yang serba terbatas, apalagi perhatian dari pihak yayasan selama tiga bulan terakhir dirasa mulai luntur. Apakah pengabdian mereka akan luntur karena desakan ekonomi mereka, pertanyaan ini tentu patut menjadi renungan kita semua, terutama Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam. (amir)