LINGGA- Setiap tahun benda-benda peninggalan di Museum Linggam Cahaya, Lingga dibersihkan menggunakan air panas dicampur sagu, asam dan cuka agar benda itu tetap terjaga dan hilangnya zat asam. Benda-benda museum yang rata-rata terbuat dari kuningan dan tembaga itu di antaranya talam atau tempat nasi kuningan, guci, badik, tombak dan sebagainya.
Staf Bidang Sejarah Disbudpar Lingga Lazuardi menuturkan, benda etnografika atau benda peninggalan sejarah yang dicuci atau dibersihkan ini merupakan hasil kerajinan dari masyarakat dulunya dan mengandung unsur budaya.
"Benda peninggalan seperti keris yang dulunya itu milik Sultan pada zaman kerajaan yang diwariskan secara turun-temurun dan akhirnya tersimpan di museum. Tapi benda itu tidak boleh dicuci," tuturnya, Jumat (24/2).
Benda-benda yang mengandung unsur etnografika sengaja dibersihkan untuk menjaga kualitas kuningan dan tembaga agar kadar asamnya tidak mengakibatkan kerusakan pada benda tersebut.
Sulaiman Bin Atan, seorang penjaga museum mengaku untuk membersihkan benda seperi talam, guci, atau yang berbahan tembaga harus eksra hati-hati agar benda yang dicuci tidak rusak.
"Bahan perendaman terdiri dari campuran sagu, air asam, asam jawa, termasuk buah belimbing, serta kit campur juga dengan cuka. Tujuannya agar unsur kuningannya semakin kuat, dan jamur-jamur yang menempel mudah hilang," akunya.
Untuk mencuci atau membersihkan barang-barang tersebut, Sulaiman, tetap memperhatikan setiap ukiran dan nilai artistik yang melekat pada benda-benda museum. Karena, setiap ukiran yang ada pada benda tersebut memiliki nilaI estetika yang musti tetap dijaga.
"Kerjanya lebih baik sendiri, karena benda-benda ini mesti tetap terjaga keutuhannya. Karena benda-benda tersebut memiliki nilai yang mesti terjaga juga kesakralannya," ujarnya.
Mengenai kesakralannya, untuk menegerjakan pencucian atau pembersihan benda-benda museum, Sulaiman mengatakan cukup dengan membaca Al-Fatihah dan tidak memerlukan seremonial dengan pembacaan mantra-mantra lainnya.
Di tempat yang berbeda, Kadisbudpar Kabupaten Lingga Junaidi Adjam mengakui pembersihan dilakukan untuk perawatan terhadap benda-benda yang boleh dicuci.
"Sebagian benda-benda yang ada dalam museum ini ada yang boleh disentuh dan yang tidak boleh disentuh, untuk menjaga kutuhan nilai-nilanya, ujarnya.(nofriadi putra)
- Satu Persatu Guru Kami Pergi...
- Siapa Bisa Selamatkan Hasan?
- Penderita Tumor Ganas Butuh Uluran Tangan
- Mbak, Senyumnya Mana?...
- Di Dunia Sengsara, Apalagi di Akhirat
- Meraup Rupiah dari Barang Bekas
- Wisata Air Panas Makin Ramai
- Sehari Terkumpul Batu Granit Satu Pompong
- Usaha Sagu Sejak Kerajaan Sultan Mahmud
- Melayu, Bukan Cuma Sekedar Simbol...