Friday, Mar 09th

Last update10:06:19 AM GMT

You are here: Insert Edi Utomo, Potret Pedagang Kaki Lima Batam

Edi Utomo, Potret Pedagang Kaki Lima Batam

Jual Es Dawet Bisa Beli Rumah

Siapa menyangka, dengan berjualan ES Dawet Ayu di pinggir jalan di kawasan Batam Centre, Edi Utomo bisa membeli sebidang tanah dan membangun sebuah rumah sederhana, sekaligus menyekolahkan empat orang anaknya.

Berjualan es dawet ayu tampak sangat sederhana, tapi jangan ditanya. Pendapatan Edi per hari mencapai Rp180-200 ribu, atau Rp9 jutaan per bulan.

Berjualan es dawet ayu dilakoni Edi sejak 2002 silam. Awal-awal usahanya, ia berjualan di depan Matahari lama (Ikan Daun). Kini, Ia telah pindah ke sebelah Plaza Batara yang telah terbakar.

Ia masih ingat, di awal usahanya dulu, ia mampu menjual 100-120 gelas per hari. Waktu itu, harga es dawet masih Rp2 ribu per gelasnya. Pendapatan kotornya Rp200 ribu per hari atau Rp6 juta per bulan, Rp2-3 juta merupakan pendapatan bersihnya.

Edi mengaku sangat senang menjalani pekerjaan menjadi pedagang es dawet keliling dibandingkan menjadi buruh di perusahaan elektronik. Di samping itu, pendapatannya dengan berjualan es dawet juga lebih besar dibandingkan bekerja di pabrik.

"Tahun 2002 dulu, UMK (Upah Minimum Kota) masih Rp600 ribuan. Sedangkan pendapatan bersih saya sudah Rp2-3 jutaan. Lebih enakan jadi pedaganglah mas. Memang kelihatannya lebih enak kerja di pabrik ketimbang kayak begini. Tetapi menurut saya, jauh lebih bagus saya bekerja seperti ini. Saya juga serius menjalaninya," ujar Edi.

Tiga tahun pertama, Edi dapat membeli sebidang tanah dan membangun rumah di kampung halamnya, Banjar Negara-Jawa Tengah. Ia juga mampu menyekolahkan empat orang anaknya.

Seiring berjalannya waktu, harga kebutuhan pokok juga semakin tinggi, begitu juga bahan baku es dawet ayu. Mau tak mau, Edi juga harus menaikan harga jual produknya. Ia menaikan harga dari Rp2.000 menjadi Rp5.000. Penjualanpun semakin menurun, namun masih mampu menjual 60-70 gelas dalam sehari.

Edi tak mudah putus asa. Meski penjualannya mulai menurun, ia mencari alternatif untuk mengais rezeki dari usaha yang lain. Bila pagi hingga siang hari berjualan es dawet, sore hari ia berjualan tahu Sumedang di kawasan Perumahan Citra Batam. Usaha gorengan itu dilakoninya hingga pukul 23.00 WIB.

Edi juga mendirikan usaha klinik herbal, therapi bekam, dan warung sembako di kampung halamannya. Usaha tersebut diserahkan ke istrinya.

Dalam waktu dekat, Edi juga akan membuka usaha jualan bandrek di salah satu kawasan di Batam. Edi tidak sendirian, ia telah mempekerjakan beberapa pekerja untuk membantunya.

"Yang terpenting kita perlu istikomah. Tidak perlu malu berjualan di pinggir jalan, yang penting halal," ujar Edi.(armat juang)