Joged Dangkung di Kabupaten Lingga, sama dengan Joged Dangkung di daerah rumpun Melayu lainnya seperti Tanjung Balai Karimun dan Moro. Namun, di Kabupaten Lingga Joged Dangkung tidak dimainkan di Istana Kerajaan, karena pada masanya kerajaan mempunyai kesenian yang dinamakan dengan kesenian "Bangsawan".
Joged Dangkung di Kabupaten Lingga berkembang di masyarakat pulau-pulau seperti di Senayang, Duara, Pancur. Dalam menghibur warga, para penari dan pemain musiknya berjalan dari daerah satu ke daerah lain.
Joged Dangkung terkenal dengan joged yang digelar di atas tanah dengan beberapa jumlah penari yang terdiri dari kaum perempuan yang menggunakan baju kebaya dan selendang. Lalu, ada beberapa penonton yang kemudian ikut berjoged bersama penari tersebut mengikuti irama musik Dangkung yang dimainkan. Lagu yang dinyanyikan seperti Mak Inang Kapalo Kampai, Seringgit Dua Kupang, Seri Mersing serta Serampang Laut. Saat tampil, penari berpasang-pasangan.
Seorang pemerhati seni dari Daik Lingga, Sulaiman bin Atan alias Pak Long menjelaskan asal kata Dangkung bermula dari bunyi gendang yang kemudian diambil menjadi kata "Dang". Begitu juga dengan kata "Kung", di ambil dari bunyi gong yang dipukul menghasilkan bunyi "Kung". Maka dua bunyi itulah yang digabung menjadi kata Dangkung.
Alat musik yang digunakan dalam kesenian Joged Dangkung, kata Pak Long, alat musik tradisional seperti biola, tambor atau gendang, gong dan tabla. Untuk alat musik tersebut, tidak dipakai oleh sembarang orang, karena alat musik tersebut mempunyai unsur majis yang tetap dijaga oleh para pemusik, terangnya. Tidak anya itu, dahulunya Joged Dangkung di Lingga belum ada pada masa Kesultanan.
" Dulu, tarian ini pakai uang, dikasih kepada penari, dimasukan di belah dada penari. Namun kalau ada penari yang ikut berjoged malu melakukan itu maka ada tempat yang disediakan di depan para pemain musik, bisa dimasukkan ke dalam tempat itu," tuturnya.
Secara kesenian, terang Pak Long, Joged Dangkung semata-mata untuk hiburan rakyat. Di mana para penari dan pemusik yang dipimpin oleh Panjak (pemimpin grup Dangkung yang bersuami istri), benar-benar bertanggung jawab terhadap seluruh penari perempuan yang ikut dalam tarian tersebut. Serta, masing-masing penari tersebut juga memakai pemanis untuk menarik perhatian penonton untuk ikut bergoyang.
Untuk menandakan Joged Dangkung akan bermain di suatu negeri, pada zaman dahulu, Pak Long mengatakan bahwa diadakan dulu pembukaan yakni yang pertama, gendang "Pembuka Tanah", yakni, gendang dan gong di pukul pada waktu subuh untuk memberi tahu warga serta artinya juga untuk membuka izin kepada makhluk yang tidak nampak.
"Yang kedua, sebelum menari ada tari pembukaan, yakni tari Tabek Tuan, baru Dondang Sayang. Setelah lagu yang dua itu dimainkan, baru boleh lagu lain dimainkan serta ditarikan oleh penari dan para peserta yang ikut," ujarnya.
Ada hal-hal yang musti di jaga oleh peserta tari pada Joged Dangkung, Pak Long, mengungkapkan bahwa hal itu adalah peraturan, apa bila penari menjatuhkan penari Dangkung akan kena denda. Namun berapa bayarannya, Pak Long sendiri tidak tahu persis. Yang jelas penari yang menjatuhkan penari Dangkung kena denda.
Uniknya, saat sekarang permainan atau Joged Dangkung tersebut adalah Joged yang diadakan dari kalangan warga ketika musim durian serta musim 17 Agustusan, bahkan pada pesta pernikahan, banyak pihak tuan rumah yang mngundang grup dangkung menghibur pada malam pesta tersebut.
" Bahkan, kalau ada suami yang ikut joged, istrinya akan senang kalau suaminya joged bersama penari Dangkung," ujar Pak Long sambil tersenyum memperbaiki rambutnya yang terlihat putih dan panjang itu.
"Secara nilai, kesenian ini mungkin bisa menumbuhkan rasa silaturahmi bagi warga, karena pada kesenian tersebut, semua bisa saling kenal," tambahnya.
Dengan demikian, sebagai seorang pencinta kesenian rakyat, Pak Long berharap kesenian tersebut bisa hidup dan selalu hidup dalam masyarakat baik di Daik, Dabo, maupun di pulau-pulau tersebut. Namun, kalau dahulu penari senagaja berkeliling kampung, mungkin untuk saat sekarang dan kedepannya, Joged Dangkung bisa diundang untuk acara-acara seremonial untuk menyambut pengunjung wisata dan menarik minat wisatawan datang ke Daik atau Kabupaten Lingga. (Nofriadi Putra)
- Bulan Purnama dan Hari Kebangkitan Kristus
- Guru Honor 'Nyambi' Jual Air Tebu
- Alhamdulillah, Rumah Kami Jadi Cantik
- Dinkes Beri Kursi Roda
- Minta UMK Naik, Diberi Penjara
- Deddy Bingung Bayar Biaya Operasi Anaknya
- Menengok Pusat Bisnis Pertama di Batam (2-Habis)
- Menengok Pusat Bisnis Pertama di Batam (1)
- "Lebih Anggun Ya..."
- Edi Utomo, Potret Pedagang Kaki Lima Batam