Kita sulit membayangkan bagaimana sebuah pesawat jet melaju menabrak gunung. Dan kita pun terlalu sulit untuk melukiskan betapa memilukan akhir terbang gembira atau joy flight, 44 penumpang (data lain menyebut 47 penumpang) termasuk awak pesawat di mana delapan di antaranya berkebangsaan Rusia, ketika Sukhoi SJ-100 yang gagah itu menghunjam dinding curam Gunung Salak.
Rezeki, pertemuan, ajal atau maut, itu pasti milik Allah. Dan siapa pun tentu tidak pernah meramalkan, terbang gembira atau joy flight Sukhoi SJ-100 itu berakhir petaka.
Secara teknis, tentu ada tim investigasi KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) yang akan menyelidiki penyebab Sukhoi celaka. Namun, di balik itu ada nukilan cerita misteri yang diyakini sebagian orang bahwa ada "kekuatan" lain di kawasan Gunung Salak sekitarnya. Beberapa kali kecelakaan pesawat di wilayah itu, termasuk jatuhnya Sukhoi SJ-100 bisa jadi dikait-kaitkan dengan pengaruh sebuah kekuatan "mistis".
Bagaimana ceritanya? Konon di wilayah Halimun Bogor dan sekitarnya ada benteng-benteng milik Prabu Siliwangi yang tak kelihatan. Pusat kerajaan ada di Gunung Salak, maka sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum. Catatan sejarah soal Kerajaan Siliwangi pasca kehancurannya setelah diserang Kesultanan Banten pada tahun 1620-an, adalah catatatan pertama kali dari Scipio yang melakukan ekspedisi sekitar tahun 1687 mencatat ada ratusan macan gembong atau harimau bertempat tinggal di sebuah bangunan dekat Kebun Raya Bogor sekarang.
Selain itu, ditemukan rawa yang berisi badak di sekitar Sawangan, dinamakan Rawa Badak dimana di ujung Rawa Badak ditemukan juga situs parit dan bekas tembok keraton yang dijadikan sarang macan. Sekarang sarang macan ini, dikenal pertigaan beringin di Sawangan. Selain catatan-catatan arkeologi, ada catatan mistis tentang segitiga Bogor.
Ada kecenderungan suatu pola dimana pesawat jatuh di tempat yang sama. Pada tahun 1966, helikopter yang ditumpangi Laksamana RE Martadinata jatuh, dan sampai sekarang penyebabnya tidak ketahuan. Lalu banyak pesawat jatuh di sekitar lokasi yang sama sekitar Gunung Salak dan Gunung Halimun.
Ada tiga gunung yang dianggap angker di masa Mataram Sultan Agung, pertama Gunung Merapi, Kedua Gunung Slamet dan Ketiga Gunung Halimun. Di antara ketiganya Gunung Halimun-lah yang dianggap paling angker karena memiliki misteri luar biasa. Sampai saat ini banyak peristiwa jatuhnya pesawat di sekitar segitiga Gunung Halimun-Gunung Salak-Gunung Gede.
Daya energi ketiga gunung itu ada di Istana Cipanas, sekitar gedung yang dibangun Bung Karno namanya Gedung Bentol. Tempat ini merupakan, tempat dimana Bung Karno selalu bermeditasi sejak dia menempati Istana Merdeka tahun 1949. Di belakang Gedung Bentol ada sumber air panas, yang merupakan energi dari Siliwangi.
Dilamarnya Puteri Dyah Pitaloka yang kecantikannya serupa bidadari dan mewariskan kecantikan yang bisa dilihat pada gadis-gadis Bandung, Cianjur dan Sumedang sekarang ini adalah rahasia ‘Wahyu Nusantara’ yang dimiliki kerajaan Pajajaran, dimana Gadjah Mada ingin memilikinya. “Siapa yang menguasai "Wahyu Nusantara" dia akan menguasai Indonesia’. Penguasaan "wahyu nusantara" ini menimbulkan konflik antara Hayam Wuruk yang berpendapat bahwa "wahyu" itu bisa diambil dengan cara Ken Arok yaitu menikahi puteri sang Raja. Di satu sisi "wahyu" bisa diambil dengan cara menaklukkan Pajajaran dan membangun kerajaan Majapahit Barat di Pakuan.
Tanpa disengaja menurut kepercayaan banyak orang, Bung Karno mengawini puteri Bandung yaitu Inggit Garnasih yang ditengarai masih keturunan Raja Siliwangi dimana "wahyu Nusantara" bersemayam di tubuh Inggit Garnasih. Bung Karno keturunan langsung Brawijaya V mengobarkan semangat Nusantara bermula di Bandung pada rapat politik Radicale Concentratie tahun 1922.
Bandung adalah kota terakhir, dimana Prabu Linggabuana menyucikan diri di danau Bandung sebelum berangkat ke Majapahit dan kelak beristirahat di Pesanggrahan Bubat. Kemudian datang Gadjah Mada, terjadilah insiden pembunuhan dan pembantaian besar-besaran rombongan Pajajaran.
Sisa-sisa dari Laskar Perang Bubat melarikan diri ke Gunung Salak. Sementara sisa-sisa dari punggawa Siliwangi yang diserang Banten lari ke Gunung Halimun. Tempat dimana seringnya pesawat menghilang, ini mirip dengan segitiga Bermuda dan segitiga Formosa.
Gunung Halimun dan Gunung Salak ini mirip Gunung Lawu yang disucikan Majapahit. Tak boleh ada yang melintasi diatasnya, burungpun bisa mati bila melewati satu titik tanah yang sakral.
Apakah kejatuhan Pesawat Sukhoi ini sama dengan medan magnetis di Segitiga Gunung Halimun-Salak-Gede? Seperti medan magnetis yang ada di segitiga bermuda dan segitiga formosa? Wallahu’alam…….
(Disadur dari tulisan Anton DH/kcm)
Newer news items:
- Silky Bertarung di Nasional
- Siswa Kelas IV SD Tersiksa karena Kanker Otak
- Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi
- Nelayan di Pantai Tanjunguma
- Mimpi Rindu Kasih Sayang Orangtua
- Linda Tidak Percaya Raih Nilai UN Tertinggi Se-Kepri
- 'Soeharto Lebih Paham Hati Rakyat'
- Anyam Tikar Khas Pulau Mepar
- "Saatnya Yang Muda Yang Berkarya"
- Demonstrasi Manuver Pilot?
Older news items:
- Rakyat Desa yang Termiskinkan
- Mengenal Lebih Dekat Joged Dangkung
- Bulan Purnama dan Hari Kebangkitan Kristus
- Guru Honor 'Nyambi' Jual Air Tebu
- Alhamdulillah, Rumah Kami Jadi Cantik
- Dinkes Beri Kursi Roda
- Minta UMK Naik, Diberi Penjara
- Deddy Bingung Bayar Biaya Operasi Anaknya
- Menengok Pusat Bisnis Pertama di Batam (2-Habis)
- Menengok Pusat Bisnis Pertama di Batam (1)