Saturday, May 19th

Last update10:55:11 AM GMT

You are here: Insert Demonstrasi Manuver Pilot?

Demonstrasi Manuver Pilot?

JAKARTA- Ada tiga kemungkinan penyebab jatuhnya Sukhoi. Selain faktor komunikasi Air Traffic Control (ATC) dan cuaca Ketua Asosiasi Pilot Garuda Stephanus Gerardus mengatakan tidak tertutup kemungkinan pilot sengaja melakukan demonstrasi manuver.

"Ini penerbangan promosi. Banyak misteri yang harus dibongkar soal izin menurunkan ketinggian," katanya.

Mengapa pesawat diizinkan turun ke ketinggian 6.000 kaki, padahal di sana ada Gunung Salak yang tingginya 7.000 kaki, Stephanus berpendapat pilot tak mungkin turun bila tak mendapat izin. Bila ada cuaca buruk, semestinya pilot tidak menurunkan pesawat, tapi malah naik. Jadi kemungkinan pilot memang sengaja menurunkan ketinggian pesawat untuk melakukan demonstrasi manuver pesawat.

Beberapa pilot juga menduga, faktor lain yang bisa menjadi penyebab kecelakaan adalah cuaca di Gunung Salak.
Pesawat diduga memasuki ruang hampa. Sebab, setelah meminta izin untuk turun, pesawat Sukhoi turun secara drastis dalam waktu singkat, dari 10 ribu kaki sampai 6.000 kaki. Di kalangan pilot, hal itu dinilai tak lazim.

Pilot kehormatan dan ahli keamanan penerbangan, Vladimir Gerasimov, menduga kecelakaan terjadi karena pilot.

"Pesawat jet menabrak gunung," katanya. "Ini berarti dia turun lebih rendah dari batas aman. Ada ketinggian minimal untuk medan mulus, daerah perbukitan, dan daerah pegunungan. Jika jet sampai celaka, berarti ada aturan ketinggian yang dilanggar," katanya.

Jika reruntuhan terletak di 1,5 kilometer dari titik terakhir komunikasi dengan kontrol lalu lintas udara, ini berarti hanya beberapa detik penerbangan. "Ini berarti kita berbicara bukan tentang pesawatnya, tetapi tentang pilot," katanya.

Seorang pilot Indonesia, yang telah menerbangkan pesawat lebih dari 33 ribu jam terbang, juga sangat percaya kecelakaan itu disebabkan oleh kesalahan manusia.

"Saya tidak bisa tidak, bertanya-tanya sendiri, mengapa pilot meminta untuk turun ke 6.000 kaki? Itu melanggar izin ketinggian minimal (minimum obstacle clearance altitude/MOCA). Di lokasi itu, clearance minimum adalah sekitar 11 ribu kaki," kata Ronny Rosnadi.

Di isis lain, meski bangkai pesawat telah ditemukan, namun kesimpulan resmi tentang penyebab kecelakaan pesawat belum diketahui. Pemerintah Rusia dan Indonesia masih melakukan investigasi bersama terhadap insiden tersebut.

"Saya beritahukan, sampai sekarang tidak ada berita apapun yang ada kaitan dengan masalah pesawat. Pemerintah Rusia akan menunggu hasil penyelidikan tim investigasi, untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat," ujar Michael Pogossian, dari KNKT Rusia, dalam konferensi pers di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (11/5).

"Kami tidak membuat kesimpulan apapun. Tim investigasi akan mencari alasan yang benar," imbuhnya.

Sementara itu Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Alexander Ivano mengatakan pemerintah Rusia telah mengirim 41 ahli dan membawa seluruh peralatan untuk melakukan investigasi kecelakaan pesawat Sukhoi.

"Satu pesawat lagi dengan 37 investigator akan dikirim dalam waktu deka untuk mendukung investigasi dan dapat melakukan investigasi secara transparan," kata Alexander dalam konverensi pers di Bandara Halim Perdanakusuma, kemarin.

Menurutnya, tim ahli dari perwakilan pemerintah Rusia langsung bekerja dengan Komite Nasional Kecelakaan Transportasi dan Badan SAR Nasional dalam program untuk membantu menyelesaikan investigasi kecelakaan Sukhoi ini. "Kami usahakan proses penyelidikan black box pesawat dilakukan di Indonesia," ujarnya.

Duta Besar juga menyampaikan turut berduka cita atas kecelakaan Sukhoi Superjet yang disampaikan langsung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Atas nama pemerintah Rusia saya turut berduka cita terhadap keluarga Indonesia," ucapnya.

Dalam pembicaraan di Istana Presiden, kata dia, pihak Indonesia dan Rusia akan terus mencari jenazah korban dan mencari tahu penyebab terjadinya kecelakaan.

Hal serupa juga disampaikan Menteri Perhubungan, EE Mangindaan. Ia mengatakan Tim Rusia akan bekerjasama dengan KNKT untuk membantu menyelesaikan investigasi kecelakaan pesawat tersebut.

Menurutnya, sampai saat ini Basarnas dan KNKT berusaha semaksimal mungkin untuk mencari, menemukan dan menyusuri penyebab terjadinya kecelakaan. "Saat ini korban sudah dievakuasi dan masih tetap diusahakan, karena di sana cuacanya menggangu sekali," ujarnya.

Sementara itu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan memfokuskan penyelidikan jatuhnya Sukhoi pada ada-tidaknya izin untuk menurunkan ketinggian pesawat dari 10 ribu kaki ke 6.000 kaki.

"Mestinya, kalau sudah menurunkan ketinggian, sudah dapat izin dari Air Traffic Center (ATC)," kata Kepala KNKT Tatang Kurniadi kemarin. Menurut dia, percakapan itu tidak hanya ditangkap ATC Soekarno-Hatta, tapi juga ATC Halim Perdanakusuma.

Pelanggaran

Konsultan Bisnis PT Trimarga Rekatama, Sunaryo mengakui ada pelanggaran prosedur dalam kecelakaan terbang gembira Sukhoi Superjet-100.

Sunaryo menyebutkan kesalahan itu misalnya pemegang daftar manifest seharusnya tidak ikut dalam penerbangan. “Harusnya yang mencatat (manifest) tidak ikut terbang,” kata Sunaryo di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Kamis, 10 Mei 2012.

Dia menyatakan keikutsertaan pencatat manifest karena menjadi supervisi untuk Indonesia. Dia menyatakan, yang berada di dalam pesawat seharusnya mereka yang diundang oleh Trimarga.

Namun, dia tidak memungkiri ada pihak-pihak yang hadir saat acara kemudian ikut dalam terbang gembira. “Misalnya rekan-rekan wartawan,” kata dia.

Dia berharap peristiwa ini bisa menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Sunaryo menjelaskan, undangan kepada wartawan dilakukan lewat pesan Blackberry. Namun, dia belum bisa menjelaskan mengapa undangan hanya dilakukan lewat media ini. Dia menegaskan, mungkin saja ada wartawan yang tidak diundang datang ke acara karena mendapat info adanya kegiatan ini.

Pada saat acara, Tri Marga sebagai tuan rumah menawarkan kepada undangan untuk mengikuti terbang gembira. Daftar orang yang hadir tapi tidak masuk undangan pun akhirnya masuk daftar penumpang.

Menurut dia, inilah alasan mengapa ada perbedaan antara daftar manifest. Manifest yang pasti, kata dia, dibawa dalam penerbangan yang akhirnya jatuh di Gunung Salak, Bogor. (dtc/viv/net)

Tiga Kemungkinan Penyebab Jatuhnya Pesawat

1. Cuaca Buruk dan Turbulensi
Pesawat diduga memasuki ruang hampa. Sebab, setelah meminta izin untuk turun, pesawat Sukhoi turun secara drastis dalam waktu singkat, dari 10 ribu kaki sampai 6.000 kaki. Di kalangan pilot, hal itu dinilai tak lazim. Di wilayah ini, karena berkontur gunung, sering terjadi turbulensi udara dan tercipta ruang hampa udara yang membahayakan penerbangan.

Data BMKG menunjukkan, cuaca di Gunung Salak saat itu berawan tapi aman untuk penerbangan. Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana menyatakan, dalam keadaan gelap total dan cuaca buruk pun, pesawat ini bisa dikendalikan.

2. Komunikasi Air Traffic Control
Diduga ada kesalahpahaman saat pilot meminta izin turun kepada ATC. Mengapa pesawat diizinkan turun ke ketinggian 6.000 kaki, padahal di sana ada Gunung Salak yang tingginya 7.000 kaki. Ketua Asosiasi Pilot Garuda Stephanus Gerardus , berpendapat pilot tak mungkin turun bila tak mendapat izin. Bila ada cuaca buruk, semestinya pilot tidak menurunkan pesawat, tapi malah naik.

3. Human Error
Stephanus Gerardus mengatakan tidak tertutup kemungkinan pilot memang sengaja menurunkan ketinggian pesawat untuk melakukan demonstrasi manuver pesawat.