JAKARTA--Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (Sekjen PPP), M Romahurmuziy mengatakan fundamentalis gaya hidup di Indonesia sudah sangat memprihatinkan karena kapitalisme diumbar. Kondisi ini jauh berbeda dengan era kekuasaan Presiden Soeharto. Menurut Romi sapaan akrab Romahurmuziy, fundamentalisme gaya hidup dapat disaksikan secara gamblang di hampir seluruh kota-kota besar di Indonesia.
"Orang berduit dengan sangat mudahnya bisa memiliki kendaraan mewah yang harganya lebih Rp6 milia. Sementara orang miskin yang juga tidak kalah jumlahnya masih mengais mencari makanan di tempat pembuangan sampah," kata Romi dalam Sarasehan dan Refleksi Hari Kebangkitan Nasional, di Sekretariat PP GP Ansor, Jakarta, Minggu (20/5).
Berbeda halnya saat era Soeharto, kata Romi menambahkan, kaum elit dan kapitalis dibatasi agar tak seenaknya memamerkan kemewahan.
"Pak Harto dengan caranya sendiri melarang elit dan kaum kapitalis untuk hidup bermewah-mewah di Indonesia sebab Pak Harto tahu sikap itu bisa bikin rakyat marah," katanya.
Menurut politisi muda PPP itu, mewabahnya fundamentalis gaya hidup harus segera dihentikan dengan cara membuat kontrak sosial baru di antara elit bangsa. "Bangsa ini kan tidak lagi punya kontrak sosial sehingga tenggang-rasa di antara sesawa warga negara sudah habis. Makanya orang berduit dan kapitalis yang diuntungkan," tegas Romi.
Selain itu dia juga mengkritisi transformasi yang terjadi di Indonesia berbasiskan sumberdaya alam (SDA). Menurutnya, semestinya tranformasi itu didasarkan pada visi sumber daya manusianya seperti yang terjadi di Jepang, Korea Selatan dan Cina.
"Transformasi berbasis sumber daya alam hanya akan memberikan manfaat bagi segelintir orang yang punya akses dengan sumberdaya alam. Setelah sumber daya alam habis, ya miskin lagi," ungkapnya
Sementara itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Nusron Wahid mengatakan, peringatan 94 tahun kebangkitan bangsa yang jatuh pada 20 Mei 2012 ini memunculkan sebuah pertanyaan baru, apakah kita mampu bangkit dari keterpurukan saat ini.
Hal itu dikatakan Nusron Wahid saat membuka Sarasehan dan Refleksi Hari Kebangkitan Nasional bertema "Apa Khabar Kaum Muda Indonesia, Masih Mampukah Kita Bangkit?" di Sekretariat PP GP Ansor, Jakarta, Minggu (20/5).
Keterpurukan bangsa ini, lanjut Nusron Wahid, sudah multydimensi sehingga kita kehilangan akal sehat, untuk menemukan darimana memulai perbaikan nasib bangsa ini.
"Karena begitu kompleksitasnya masalah bangsa ini, PP GP Ansor sengaja mengadakan sarasehan ini dengan harapan muncul gagasan baru yang dapat dijadikan pijakan bagi bangsa ini menjelang 1 abad Kebangkitan bangsa pada 20 Mei 2018 yang datang," ujar politisi Golkar itu.
Ditegaskannya, sarasehan ini bebas dan sopan. "Mencaci-maki boleh asal sopan," imbuhnya. (dtc/viv)
Newer news items:
- Wahai Guru, Menulislah!
- Derita Penyakit Aneh, Balita Seperti Hamil 9 Bulan
- 9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji
- Korban Kebakaran Panti Umi Alfitrah, Haris Bilang Kangen Ibunya...
- Silky Bertarung di Nasional
- Siswa Kelas IV SD Tersiksa karena Kanker Otak
- Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi
- Nelayan di Pantai Tanjunguma
- Mimpi Rindu Kasih Sayang Orangtua
- Linda Tidak Percaya Raih Nilai UN Tertinggi Se-Kepri
Older news items:
- Anyam Tikar Khas Pulau Mepar
- "Saatnya Yang Muda Yang Berkarya"
- Demonstrasi Manuver Pilot?
- Sukhoi dan Misteri Gunung Salak
- Rakyat Desa yang Termiskinkan
- Mengenal Lebih Dekat Joged Dangkung
- Bulan Purnama dan Hari Kebangkitan Kristus
- Guru Honor 'Nyambi' Jual Air Tebu
- Alhamdulillah, Rumah Kami Jadi Cantik
- Dinkes Beri Kursi Roda