Kian Terpinggirkan, Melaut pun Payah
BATAM (HK) - Kemiskinan, seolah sudah melekat kuat dalam potret masyarakat nelayan di negeri ini. Pun demikian juga dengan panorama kehidupan yang tersaji di sepanjang hamparan Pantai Stres, Batuampar, Batam.
Di sepanjang pantai yang cukup dekat dengan pusat bisnis dan perdagangan di Kota Batam ini, kehidupan nelayan tak hanya terhimpit secara ekonomi akibat melambungnya harga kebutuhan hidup, mereka juga sudah mulai terdesak oleh kencangnya laju pembangunan. Lahan pemukiman mereka, sejengkal demi sejengkal tergerus. Bukan oleh ombak lautan, namun oleh kekuatan uang. Kegiatan reklamasi atau penimbunan bibir pantai, yang sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, kian hari kian menyudutkan mereka. Bahkan, untuk sekedar turun ke laut mencari ikan saja, mereka kepayahan.
Reklamasi secara besar-besar yang dilakukan oleh PT Bintang Sembilan Persada (BSP) itu, seakan-akan memutuskan mata rantai kehidupan para nelayan di kawasan Pantai Stres.
Bagaimana tidak, di pantai itulah para nelayan menyandarkan hidup. Tapi, pantai itu kini nyaris lenyap dari pandangan. Tak ada lagi pasir, sampah-sampah yang dibawa ombak lautan. Yang tersisa hanyalah hamparan tanah merah, lumpur tatkala hujan dan debu-debu beterbangan di saat panas.
Sekitar 50 nelayan tradisional yang mendiami kawasan itu terancam kehilangan mata pencaharian sebagai nelayan. Perahu-perahu mereka tak bisa lagi turun ke laut. Jilatan matahari, sapuan angin dan percikan air laut saat mereka turun ke laut mencari ikan, sudah beberapa pekan tak lagi dirasakan para nelayan itu. Mereka lebih banyak berkumpul di rumah, bercerita tentang nasib keluarga mereka dan hari depan.
Atas semua itu, manajemen PT BSP, menawarkan uang kompensasi sebesar Rp1,5 juta, jumlah yang sejatinya sangat tidak layak, melihat kondisi para nelayan tradisional yang ada di kawasan tersebut.
Menurut Hasan, salah satu koordinator nelayan Pantai Stres, uang ganti rugi yang ditawarkan perusahaan itu benar-benar di luar batas kewajaran. Sedari awal, dia menilai kegiatan reklamasi PT BSP itu tidak memiliki itikad baik. Sebabnya jelas, tidak pernah ada komunikasi langsung antara perusahaan dengan seluruh warga yang ada di daerah itu.
"Jelas kita benar-benar merasa sangat dilecehkan karena dengan ganti rugi yang diberikan merupakan sesuatu yang tidak wajar," tutur Hasan.
Tak hanya nelayan yang kehilangan mata pencaharian, menurut Hasan, kegiatan reklamasi juga mengancam lenyapnya sumber pendapatan para buruh kasar, yang biasanya bekerja mengangkut barang-barang dari kapal-kapal yang berlabuh di sekitar perairan Pantai Stres.
"Ini menunjukan bahwa reklamasi yang dilakukan PT Bintang Sembilan Persada benar-benar telah mengancam semua lini kehidupan di sini. Apalagi bagi para pedagang yang selalu melakukan barter dengan barang-barang bawaan kapal, kini hal itu juga sudah tidak terlihat lagi," katanya.
Suryati, perempuan yang sedang saat ini hidup tanpa didampingi sang suami, sehari-hari bekerja sebagai buruh kasar. Dia menggantungkan hidupnya pada kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan tersebut. Namun sejak pelabuhan di daerah itu ditimbun, kegiatan bongkar muat tak ada lagi, dan pendapatannya pun menguap entah kemana.
"Biasanya untuk mendapatkan uang Rp100 ribu dalam satu hari tidak sulit, tapi sekarang untuk mendapatkan uang Rp10 ribu saja susah," tutur Suryati
Karena itu, tak salah kalau dia berpendapat, kegiatan reklamasi yang dilakukan PT BSP telah mempersulit kehidupan mereka, kaum nelayan dan buruh bongkar muat.
"Kami bukan orang kaya yang bisa bertahan hidup tanpa kerja. Kami orang miskin yang kais (mencari) pagi untuk makan pagi," katanya dengan nada menggerutu.
Menurut sejumlah warga, di era tahun 1999, lokasi di sepanjang pelabuhan Batuampar hingga Tanjunguma itu merupakan daerah pesisir yang dibarengi dengan pelabuhan-pelabuhan tradisional. Namun kini satu persatu daerah tersebut semakin tereleminasi dengan maraknya kegiatan reklamasi pantai. Daerah-daerah strategis yang menjadi urat nadi kehidupan nelayan, sekarang telah berdiri berbagai jenis usaha, mulai dari hotel, restoran dan lainnya, seperti kawasan Harbourbay dan Pasific Palace Hotel. (cw62)
- Musim Ziarah di TPU Taman Langgeng
- Hari Pertama Sekolah
- TKW Meninggal di Arab
- Wahai Guru, Menulislah!
- Derita Penyakit Aneh, Balita Seperti Hamil 9 Bulan
- 9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji
- Korban Kebakaran Panti Umi Alfitrah, Haris Bilang Kangen Ibunya...
- Silky Bertarung di Nasional
- Siswa Kelas IV SD Tersiksa karena Kanker Otak
- Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi
- Linda Tidak Percaya Raih Nilai UN Tertinggi Se-Kepri
- 'Soeharto Lebih Paham Hati Rakyat'
- Anyam Tikar Khas Pulau Mepar
- "Saatnya Yang Muda Yang Berkarya"
- Demonstrasi Manuver Pilot?
- Sukhoi dan Misteri Gunung Salak
- Rakyat Desa yang Termiskinkan
- Mengenal Lebih Dekat Joged Dangkung
- Bulan Purnama dan Hari Kebangkitan Kristus
- Guru Honor 'Nyambi' Jual Air Tebu