Batam (HK)-Malang betul nasib Adi. Sejak enam bulan lalu, siswa kelas empat SD 011 Bengkong ini telah dinyatakan dokter positif mengidap kanker otak. Kini, kondisi Adi makin memprihatinkan. Ia hanya bisa terkulai lemas di tempat tidur, tanpa daya.
Oleh: Abd Qodir Yusuf, Liputan Batam
Selama enam bulan belakangan ini, Adi hanya bisa merengek dan menangis menahan rasa sakit yang tiada tara. Derita Adi tidak sampai di situ. Ia kini juga tidak bisa melihat lagi karena matanya sudah buta. Tidak jelas bagaimana penyakit kanker otak itu sampai membuat mata Adi ikut buta.
"Mama, sakit Ma," hanya suara itu yang kini kerap terdengar dari mulut Adi. Senyuman yang dulu selalu menghiasi wajah Ali kini tidak pernah terlihat lagi. Padahal, dulu sebelum penyakit kanker otak menggerogoti tubuhnya, Adi termasuk anak periang. Ia hobi main sepakbola bersama teman-teman sebayanya.
Membayangkan keceriaan anak-anak seusianya, terasa sangat menyedihkan ketika melihat kondisi Adi yang terkulai lemah tanpa daya di rumahnya. Makan, minum bahkan untuk ke kamar mandi saja, ia harus dipapah ibunya. Adi mengaku, kalau penyakitnya kambuh, kepalanya terasa seperti ditusuk-tusuk jarum dan seluruh sendi-sendi tubuhnya gemetar. "Sakit Om, seperti dutusuk jarum, saya ingin sembuh Om, seperti teman-teman yang di sekolah," rintih Adi.
Hesti, ibu Adi, mengaku sudah sering membawa Adi berobat ke rumah sakit. Tapi, belakangan Adi tidak pernah dibawa lagi karena kondisi keuangan keluarga yang makin sulit. Adi hanya mendapat pengobatan seadanya. Ia kini lebih banyak minum jamu-jamuan seperti yang disarankan oleh sejumlah kenalan dan warga kepada Hesti dan keluarganya. "Kami sudah pernah membawa Adi berobat. Sekarang selang di kepalanya masih ada, menurut dokter, biar cairan yang mengendap di otaknya keluar." tutur Hesti.
Menurut Hesti, seluruh harta keluarganya telah habis terkuras untuk biaya pengobatan Adi. Pinjaman dan uang belas kasihan warga juga sudah habis. Bahkan, rumah mereka telah tergadai. "Rumah ini juga sudah kami gadaikan untuk pengobatan Adi," kata Hesti.
Hesti yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga tidak bisa berbuat apa-apa setiap kali mendengar jeritan Adi. Ia hanya bisa memandangi sang buah hati terkulai tidak berdaya di atas kasur. Salamat, ayah Adi, pun begitu. Hasil berjualan es cendol di Bengkong Harapan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Bahkan, sering kali tidak cukup. "Saya hanya sebagai ibu rumah tangga, ayahnya hanya jualan es cendol di Bengong Harapan. Kalau untuk mencari biaya pengobatan Adi, sepertinya kami tidak berdaya. Jangankan untuk pengobatan, biaya makan kami saja susah," kata Hesti.
Kini, keluarga ini hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah dan dermawan untuk biaya operasi untuk mengangkat tumor di kepala Adi.
Guru Adi Prihatin
Kepala Sekolah SD 011 Bengkong, Edward, mengaku sangat prihatin atas musibah yang menimpa salah satu muridnya itu. "Kami guru-guru, termasuk saya kepala sekolah, sangat prihatin dengan kondisi Adi. Tapi, kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali memberikan sedikit bantuan. Semoga dengan bantuan yang kami berikan ini, bisa mengurangi beban bagi ayah dan ibu Adi," tuturnya sambil memperlihatkan amplop tipis kepada wartawan saat menjenguk Adi, Sabtu (2/6).
Raja Mukmin, guru kelas Adi, juga sangat terharu dan prihatin melihat kondisi anak didiknya itu. "Saya sangat prihatin keadaan anak didik saya seperti itu. Kalau memang ada dermawan, tolonglah bantu keluarga Adi, untuk biaya operasinya. Kami hanya bisa berdoa, semoga Adi bisa disembuhkan, dan kembali bergabung belajar bersama kami di sekolah," tuturnya.
Tak hanya pihak sekolah, tetangga dan warga sekitar tempat tinggal Adi juga ikut prihatin dengan penyakit yang diderita Adi. Mereka pun berharap adanya mukjizat untuk kesembuhan Adi. Ketua RT 01 RW 03 Sadai, Yanto (48), pihaknya sudah mengumpulkan uang untuk membantu keluarga Adi. Namun yang berhasil dikumpulkan hanya sebesar Rp1,5 juta. "Betul sekali, kami juga sangat prihatin dengan kondisi Adi, kami sudah berupaya meminta sumbangan dari warga untuk membantu, tapi itu tidak seberapa. Haya seadanya saja," ucapnya. "Dan saya berharap kepada pemerintah, atau kepada orang dermawan untuk segera membantu Adi, supaya Adi bisa kembali sekolah," sambungnya saat ditemui di kediamannya.**
- Semoga Ramadhan Ini Membawa Berkah
- Warga Kampung Agas pun Angkat Kaki
- Musim Ziarah di TPU Taman Langgeng
- Hari Pertama Sekolah
- TKW Meninggal di Arab
- Wahai Guru, Menulislah!
- Derita Penyakit Aneh, Balita Seperti Hamil 9 Bulan
- 9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji
- Korban Kebakaran Panti Umi Alfitrah, Haris Bilang Kangen Ibunya...
- Silky Bertarung di Nasional
- Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi
- Mimpi Rindu Kasih Sayang Orangtua
- Nelayan di Pantai Tanjunguma
- Linda Tidak Percaya Raih Nilai UN Tertinggi Se-Kepri
- 'Soeharto Lebih Paham Hati Rakyat'
- Anyam Tikar Khas Pulau Mepar
- "Saatnya Yang Muda Yang Berkarya"
- Demonstrasi Manuver Pilot?
- Sukhoi dan Misteri Gunung Salak
- Rakyat Desa yang Termiskinkan