Senin02042013

Last update12:00:00 AM

Back Insert Korban Kebakaran Panti Umi Alfitrah, Haris Bilang Kangen Ibunya...

Korban Kebakaran Panti Umi Alfitrah, Haris Bilang Kangen Ibunya...

TANJUNGPINANG (HK)- Peristiwa kebakaran yang meluluhlantakkan bangunan Panti Asuhan Umi Alfitrah, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri, Rabu (27/6) menyisakan cerita sedih. Salah satu penghuni panti, Haris (10) menjadi korban dan meninggal dunia. Bocah yang lahir di Malaysia tersebut ditemukan di bawah puing-puing kebakaran.

Pascameninggalnya Haris, ada beberapa hal yang kemudian diingat tentang perilaku bocah malang itu, beberapa hari sebelum si jago merah mengamuk dan malahap panti tersebut. Salah satunya, cerita yang datang dari Ustadz Komarudin yang merupakan suami dari Umi Wahyu, pimpinan Panti Umi Alfitrah.

Di suatu kesempatan, Haris pernah berucap tentang rasa rindunya terhadap sang ibunda. Bagi Ustadz Komarudin, hal itu terasa janggal. Usai mendengar kalimat Haris, dia langsung tertegun karena begitu tersentuh.

Katanya, Haris, dengan kepolosannya berkata, ingin pergi ke kampung ibunya. Padahal, ibu kandung Haris sudah lama meninggal dunia. Itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa Haris berada dalam naungan Panti Asuhan Umi Alfitrah.

"Dia bilang kangen ibunya dan mau pergi ke kampung ibunya. Saya merasa sangat aneh dan sedih, karena ibunya sudah tiada. Dia juga terlihat lebih baik dan rajin berdoa," kata Ustadz Komarudin dengan pandangan menerawang yang seakan-akan ingin menembus langit.

Ustdaz Komarudin pun melihat beberapa hari belakangan, Haris terlihat jauh lebih baik dibanding hari-hari biasa. Haris sangat penurut, sama sekali tidak pernah membantah setiap apa yang diucapkan. Bocah itu pun menjadi lebih rajin berdoa.

"Selama ini, Haris memang lebih pintar membaca doa dibanding anak-anak lainnya," kata Ustadz Komarudin.

Sementara itu, air mata Umi Wahyu, masih belum kering. Senyum dan tawa riang Haris terus membayang-bayanginya. Wanita paruh baya itu pun masih tidak percaya, anak yang disayanginya itu sudah tiada, pergi meninggalkannya dengan cara yang tragis.

Padahal, beberapa saat sebelum kebakaran terjadi, Haris sempat meminta uang kepadanya. Haris berkata, uang itu untuk bermain play station (PS). Umi pun memberi Haris uang Rp20 ribu.

Dengan mata berlinang-linang, Umi menuturkan perasaannya kepada wartawan. Ketika api kian membesar, membakar bangunan panti, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan anak-anak panti karena merasa semuanya sudah berhasil dievakuasi. Begitu pula dengan Haris. Pikirnya, saat kejadian, Haris sedang bermain PS di luar lingkungan panti.

Saat anak-anak panti didata, Haris tidak ditemukan. Ketika itu pun, Umi masih mencoba meyakinkan diri bahwasanya Haris masih berada di luar, bermain PS.

Namun, dunia dirasanya mulai berputar kencang. Tanah yang dipijaknya seakan amblas tatkala mendengar informasi bahwa tim pemadam kebakaran menemukan satu sosok jenazah di antara sisa puing-puing kebakaran.

Terlebih, saat diketahui bahwa jasad tersebut bukan lain adalah Haris, bocah yang disangkanya sedang asyik bermain PS di luar lingkungan panti. Dugaan sementara, saat kejadian, Haris tengah terlelap di bawah kolong tempat tidur di kamarnya, sehingga luput dari proses evakuasi.

"Saya sedikitpun tidak menyangka, jika Haris yang menjadi korban. Yang ada di pikiran saya adalah dia saat itu tengah berada di luar panti, sedang bermain PS," kata Umi sambil sesekali menghapus airmatanya yang meluncur tiada henti.

Sementara itu, terkait pascakebakaran, Ustadz Komarudin, pada kesempatan ini, mengucapkan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu mereka. Saat ini, para penghuni panti menempati mess Pemko Tanjungpinang di Jalan Peralatan Batu 7 Tanjungpinang sebagai tempat penampungan sementara.

"Hanya terima kasih yang bisa saya sampaikan semoga semua pihak yang telah membantu kami juga mendapatkan berkah dari Allah SWT," katanya dengan nada suara berat. (darul)

Share