JAKARTA (HK)----"Ibu mana, Pak?" Pertanyaan itu terus diulang-ulang kedua bocah balita itu. Mulanya Zainal Mustafa, ayah kedua ocoah itu bisa santai menjawab, "Ibu kerja jauh di Saudi." Tapi saat istrinya dikabarkan tewas karena jatuh dari lantai tiga (3) rumah majikan namun jenazahnya belum juga pulang, Zainal hanya bisa menangis diam-diam.
Nurul Khasanah, TKW yang bekerja di Arab Saudi itu adalah ibunda bocah berusia 4,5 dan 2,5 tahun tersebut. Dia pergi meninggalkan kampung halamannya di Dusun Tawang, Desa Sumberbendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada Juli 2011 lalu. Menjadi TKW di negeri orang adalah pilihan yang diambilnya untuk meningkatkan perekonomian keluarganya.
Harapan dan doa dari Zainal mengiringi kepergian sang istri kala itu. Namun baru sebentar di Saudi, bukan kisah bahagia yang dikirimkan belahan jiwanya. Tangis, keluh, dan kesah karena disiksa majikan kerap disampaikan Nurul kepada suaminya.
"Baru juga sebulan di sana, istri saya mengabarkan kalau dia banyak masalah, apalagi kerjanya banyak," terang Zainal saat berbincang dengan wartawan, Jumat (13/7).
Zainal pun mendatangi perusahaan penyalur istrinya, PT Bakhtiar Ikhwan dan melaporkan hal yang dialami Nurul. Namun seorang staf di perusahaan itu malah menyebut Nurul dan Zainal bersalah, sebab seharusnya Nurul tidak boleh SMS dan menelepon.
Kemudian pada 10 Oktober 2011, Nurul mengirim SMS dan menceritakan majikan laki-laki masuk ke kamarnya dan memaksa dia untuk melayani nafsunya. Tetapi Nurul menolak. Pada 31 Oktober, Nurul kembali mengirimkan SMS dan menyebut sang majikan melakukan pelecehan seksual padanya. Kabar yang sama dikirimkan pada 1 November 2011.
Pada 21 November 2011, Nurul kembali mengirim SMS dan menceritakan bahwa dirinya tidak kuat lagi. Menurut Nurul, majikan perempuannya tidak percaya dengan apa yang dilakukan majikan laki-laki kepada dirinya. Majikan laki-laki bahkan memutarbalikkan fakta. Nurul yang dilarang sang majikan laki-laki untuk menghubungi keluarga di rumah pun minta dipulangkan ke agennya.
Sehari kemudian Nurul mengirim SMS lagi ke suaminya dan mengatakan bahwa majikan laki-laki sudah mengakui perbuatannya karena diancam akan dilaporkan polisi. Nurul pun meminta suaminya untuk mengirimkan sim card-nya yang berisi rekaman SMS ke Jeddah sebagai barang bukti, agar Nurul tidak dianggap mengarang cerita.
29 November 2011, Nurul melalui SMS menyampaikan bahwa dirinya diperkosa oleh majikan laki-laki karena dia ngotot minta dipulangkan ke agen. Di hari yang sama, Nurul sempat menelepon suaminya dan sempat direkam oleh suaminya. Dalam pembicaraan telepon, Nurul sedang kesakitan karena telinganya digigit oleh majikan laki-laki hingga berdarah.
"Lalu saya ke sponsor, ke penyalurnya. Rekamannya saya kasih. Dia menembuskan ke PT, tapi nggak ada balasan. Katanya suruh doa saja," jelas Zainal.
Zainal lantas ke Dinas Tenaga Kerja setempat dan meminta daftar pemberangkatan istrinya. Ternyata nama Nurul tidak ada dalam daftar. Pegawai Disnaker menyebut tidak mungkin ada pemberangkatan pada sekitar Juli 2011 karena sedang ada moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi.
"Saya nggak tahu apa itu moratorium. Tapi lalu saya dijelaskan moratorium itu maksudnya nggak boleh ada pengiriman TKI ke Arab Saudi. Dulu pas ada kasus Ruyati saya sempat ingatkan istri saya. Tapi dia lebih percaya sama penyalurnya yang bilang nggak usah percaya pemberitaan," ucap pria yang bekerja sebagai pekerja bangunan ini.
Kemudian pada 3 Desember, kepala desa datang memberi kabar Nurul meninggal karena jatuh dari lantai 3 rumah majikan. Menurut informasi, Nurul hendak kabur dari rumah tersebut, namun sebelum berhasil kabur malah jatuh. Kemudian Zainal pun minta bantuan ke Migrant Care karena mencium kejanggalan dalam kematian istrinya.
Bersama Migrant Care, Zainal melapor ke Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sekitar 12-13 Desember. Dia menyesalkan pelaporan dilakukannya lebih dulu ketimbang perusahaan penyalur. Kemlu pun menjanjikan upaya pemulangan jenazah dan memproses hukum.
"Lalu ketika saya kembali ke Kemlu mendapat kabar katanya istri saya mau kabur dari majikan, pakai kabel antena menyangkut ke parabola. Nah, saya inginnya diselidiki kenapa dia mau kabur. Kalau dari laporan istri saya kan karena dia dianiaya," tuturnya.
Seorang staf di Kemlu juga membacakan berkas yang menyatakan wajah Nurul tertutup kafan karena ada gumpalan darah dan lengket dengan kain kafan. "Waktu saya mau fotokopi, tidak dibolehkan. Padahal saya kan suaminya," keluh Zainal.
Zainal berharap pemerintah membantu memulangkan jenazah Nurul. Selain itu proses hukum juga harus diproses.
"Saya juga minta pertanggungjawaban untuk penuhi hak istri. Sisa gaji memang sudah diberikan. Tapi barang-barang seperti HP, pakaian, KK dan surat nikah belum diberikan," papar Zainal.
Sementara itu Depnaker menjanjikan akan memberikan asuransi untuk Nurul yang rencananya akan diberikan pekan depan. "Saya ingin yang bertanggung jawab atas kematian istri saya dihukum," imbuhnya.
Zainal mengaku masih akan beberapa hari di Jakarta, memperjuangkan keadilan bagi istrinya dan bagi keluarganya. Di pundaknya juga masih ada beban atas janji yang terlanjur diucapkan pada buah hatinya. Janji untuk membawa pulang ibu kedua bocah itu, meski sang istri tak lagi bernyawa. (net)
- Wahai Guru, Menulislah!
- Derita Penyakit Aneh, Balita Seperti Hamil 9 Bulan
- 9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji
- Korban Kebakaran Panti Umi Alfitrah, Haris Bilang Kangen Ibunya...
- Silky Bertarung di Nasional
- Siswa Kelas IV SD Tersiksa karena Kanker Otak
- Mereka Tidak Akan Bisa Melaut Lagi
- Mimpi Rindu Kasih Sayang Orangtua
- Nelayan di Pantai Tanjunguma
- Linda Tidak Percaya Raih Nilai UN Tertinggi Se-Kepri