Friday, Jul 20th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Hari Pertama Sekolah

Hari Pertama Sekolah

"Tungguin Pa, Jangan Jauh-jauh"

BATAM (HK)- Riuh suara anak-anak memenuhi halaman dan ruangan Sekolah Dasar Negeri di Batam, Senin (16/7). Ada pemandangan berbeda di sekolah tersebut. Bahkan sejumlah orang tua tampak menemani anaknya.

Kemarin, merupakan hari pertama tahun ajaran baru 2012-2013. Ada sekitar ribuan murid baru masuk sekolah dasar. Untuk tiga hari pertama, mereka akan menjalani masa orientasi pengenalan lingkungan sekolah, guru, dan teman-teman. Selama masa itu, orang tua masih diizinkan untuk menemani anaknya.

Beragam ekspresi para murid terlihat pada hari pertama sekolah. Ada yang malu-malu dan takut ketika masuk ke ruangan sekolah. Ada sebagian antusias mengikuti pelajaran dan merengek. Bahkan, ada pula kejadian-kejadian menarik dan unik lainnya yang mengundang tawa.

Salah satunya terjadi di SDN 08 yang berlokasi di Kelurahan Duriangkang, Kecamatan Seibeduk, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Di sekolah ini, ada beberapa siswa angkatan pertama yang lupa nama lengkapnya. Itu terlihat saat seorang guru memanggil nama siswa tersebut. Dia bahkan harus dipanggil berulang-ulang. Siswa yang lupa nama lengkap tersebut baru sadar jika namanya dipanggil setelah teman yang duduk di sebelahnya memberitahu.

"Eh, itu namamu dipanggil," kata teman satu bangkunya mengingatkan.

Selain lupa nama, hari pertama masuk sekolah juga diwarnai masih banyaknya siswa yang terlambat masuk sekolah, kesasar dan menangis minta ditunggui orangtuanya.

Hafidz Nur, salah seorang siswa yang semula duduk di bangku depan terpaksa harus lari ke belakang sambil menangis mencari orang tuanya.

"Sudah tidak apa-apa, duduk saja sana," kata ayah Hafidz saat mendatangi anaknya.

Meski memiliki tubuh yang bongsor dibanding teman-teman barunya, Hafidz terlihat 'stres' juga menghadapi hari pertama masuk sekolah. Keringat menetes dari keningnya, bercampur dengan air mata.

"Tungguin pa, jangan jauh-jauh," kata Hafidz sambil mengusap air matanya.

Menangis, tertawa dan saling bercanda dengan teman baru, itulah gambaran hari pertama masuk sekolah di SDN 08 tersebut. Sekolah yang baru pertama menerima siswa baru ini, untuk sementara harus menumpang sementara di gedung darurat.

Gedung baru SDN 08 Kelurahan Duriangkang belum bisa dibangun akibat belum dianggarkan dalam tahun anggaran 2012. Baru pada tahun anggaran 2013, gedung SDN 08 rencananya dibangun dengan lokasi lahan di dekat SMPN 40 Seibeduk.

Akhirnya, untuk proses belajar mengajar sementara, pihak Komite Sekolah dan Kepala Sekolah serta guru memilih memanfaatkan bangunan taman pendidikan Al Qur'an (TPA) Siti Khodijah yang sedang dalam tahap pembangunan. Bangunan TPA ini terletak dibawah masjid Raudlatul Jannah yang juga dalam satu kawasan di Kavling Pancur Baru Blok B nomor 41-42, RT 2/ RW 9 Kelurahan Duriangkang.

"Terdapat 136 siswa yang ditampung dalam penerimaan siswa baru angkatan pertama SDN 08 Kelurahan Duriangkang," ungkap Kepala Sekolah SDN 08 Duriangkang, Tri Hastuti.

Menurut Tri Hastuti, proses belajar mengajar bagi 136 siswa baru ini nantinya akan dibuat dua shift. Dengan masing-masing shift akan melayani dua lokal yang hanya dipisahkan dengan kayu triplek.

Bangunan TPA yang berukuran sekitar 12x10 meter ini baru sekitar 50% tahap pembangunannya dikerjakan. Lantai ruangan masih terlihat baru disemen. Begitupun dengan dinding ruangan yang baru diplester hanya di dalam ruangan saja.

"Ruangannya masih gelap, selain kurang penerangan lampu listrik juga perlu dicat dengan warna yang terang. Masih banyak perlu pembenahan," kata Tri Hastuti.

Begitupun dengan sejumlah fasilitas lainnya, juga masih dalam tahap penyelesaian. Seperti fasilitas toilet, fasilitas belajar mengajar dan lantai ruangan yang rencananya akan dikeramik.

Sementara untuk ruang Kepala Sekolah dan guru, memanfaatkan bekas kavling warga yang ada di depan TPA, blok A nomor 41-42 Kavling Pancur Baru. Ruang Kepala Sekolah dan guru bercampur dalam satu ruangan, hanya dilengkapi dengan dua meja dan kursi serta satu lemari.

"Sementara jumlah guru yang ada baru dua orang, yakni Kepala Sekolah dan pak Efrizon," jelasnya.

Salah seorang warga setempat, Yopi Kuncoro mengaku bersyukur atas mulai beroperasinya SDN 08 Kelurahan Duriangkang. Sekolah negeri yang telah ditunggu kehadirannya sejak lama oleh masyarakat sekitar.

"Semoga pihak-pihak terkait dapat membantu agar SDN 08 Kelurahan Duriangkang bisa segera dibangun di lahan yang telah dialokasikan," harapnya.

Sebelumnya, Ketua RW Kavling Pancur Baru Kelurahan Duriangkang, Asian Sinaga juga menyatakan bahwa keberadaan SD Negeri di Kelurahan Duriangkang telah diperjuangkan masyarakat sejak tiga tahun lalu. Karena di Kelurahan ini belum memiliki SD Negeri, sementara anak usia sekolah sudah banyak serta membutuhkan tempat sekolah yang dekat.

"Berkat perjuangan seluruh masyarakat, akhirnya SD negeri di Kelurahan Duriangkang berhasil diwujudkan," katanya.

Rencana pembangunan gedung SDN 008 Duriangkang, sebelumnya sempat terhambat dengan adanya tumpang tindih Pengalokasian Lahan (PL). Akibat adanya pihak tertentu yang mengaku bahwa lahan untuk alokasi sekolah tersebut dialokasikan untuknya.

Namun Kasudbit Humas dan Publikasi Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Batam, Ilham Eka Hartawan membantah adanya tumpang tindih dalam pengalokasian lahan (PL) di kawasan itu. Berdasarkan PL yang telah dikeluarkan BP Batam, lahan itu diperuntukkan bagi fasilitas pendidikan untuk Taman Kanak-kanak (TK), SD Negeri, SMP Negeri 40 (sudah terbangun) dan SMA Negeri.

PL untuk fasilitas pendidikan TK ditetapkan berdasarkan PL bernomor 28070675 dengan lahan luas 2.655 m2. Sedangkan untuk SD Negeri ditetapkan berdasarkan PL bernomor 28070677 dengan lahan seluas 1.426 m2 dan untuk SMA Negeri ditetapkan berdasarkan PL bernomor 28070676 dengan lahan seluas 7.079 m2.

"PL tersebut ditetapkan oleh BP Batam pada 18 September 2008 lalu," ungkap Ilham.

Kejadian menarik di hari pertama sekolah juga tampak di sekolah lain. Di SD 001, SD 004 dan SD 009 yang berlokasi di Kecamatan Bengkong, Kota Batam. Ratusan anak-anak yang rata-rata berusia tujuh tahun itu menunjukkan mimik wajah yang rupa-rupa.

Pada sesi perkenalan, sebagian anak tampak sangat bersemangat. Ada juga yang masih malu-malu. Bahkan ada yang diam saja, saat diminta seorang guru memperkenalkan dirinya di hadapan teman-teman barunya itu.

Kepala Sekolah SD 009, Sri Rahayu mengatakan, sebagai guru kelas satu, memang yang pertama sekali mereka perkenalkan adalah bagaimana para siswa baru itu bisa mengenal kamar mandi dan WC. Mengapa begitu? Kata dia, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak anak murid baru yang tidak sempat ke kamar mandi atau toilet untuk membuang kotoran. Mereka juga masih takut-takut memberitahukan keinginan buang hajat kepada gurunya.

"Yang pertama kali kita kenalkan, dimana tempat kamar mandi dan WC. Kalau tidak seperti itu, nanti kita juga yang repat. Seperti tahun-tahun yang dulu, malah kita yang repot ada siswa yang buang air besar di celana," ucapnya sambil tertawa kecil.

Intan, salah satu wali murid mengaku sempat mengkhawatirkan apa yang diceritakan Sri Rahayu. Warga Bukit Senyum itu mengatakan, anaknya tidak melalui jenjang pendidikan taman kanak-kanak (TK). Karena itu, dia sempat cemas kalau anaknya tidak bisa mandiri saat masuk SD. Terutama, dalam hal membuang hajat.

"Makanya untuk beberapa hari ini saya akan menemaninya dulu di sekolah," ucapnya.

Hal senada disampaikan Irma, wali murid di SD 011 Bengkong. Karena anaknya bersifat pemalu, dia khawatir nanti anaknya tidak bisa menuju kamar mandi sekolah saat ingin buang air kecil atau besar.

"Anak saya tidak TK , saya jadi khawatir. Menulis namanya saja dia belum faham betul. Apalagi nanti kalau mau buang air besar dan kecil. Jadi ya sementara ini saya kawal terus," ucapnya sambil tersenyum. (cw66)