Thursday, Jul 26th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Insert Menjemput Rezeki Di Antara Kuburan

Menjemput Rezeki Di Antara Kuburan

SEIPANAS (HK)- Jarum jam di arloji masih belum bergerak dari angka 8. Namun, di pagi yang cukup cerah kemarin, Jumat (21/7), tempat pemakaman umum (TPU) Taman Langgeng, Seipanas sudah cukup ramai didatangi oleh para peziarah.

Tradisi nyekar ke makam, memang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Batam. Biasanya, berziarah banyak dilakukan menjelang masuknya bulan suci Ramadhan ataupun hari Raya Idul Fitri. Karena itu, tak heran juga bila satu hari menjelang Ramadhan 1433 Hijriyah, aktivitas TPU Taman Langgeng meningkat intensitasnya.

Ramainya para peziarah yang datang silih berganti itu, membuat arus lalulintas di depan pintu gerbang pemakaman, sempat macet. Untunglah, hal itu tak berlangsung lama, setelah dua petugas lalulintas dari Polresta Barelang datang mengatur puluhan kendaraan yang lalulalang. Mereka pun dibuat kerja ekstra agar lalulintas di situ tidak semrawut akibat banyaknya mobil dan sepeda motor yang keluar masuk area pemakaman.

Keramaian di pemakaman itu semakin menjadi setelah ba'da ashar sekitar pukul 16.00 WIB. Para peziarah datang hampir dari seluruh penjuru Kota Batam.

Budi Harto (32) salah satu peziarah yang mengaku berasal dari Kecamatan Nongsa mengatakan, dia datang ke TPU Taman Langgeng untuk mendoakan saudaranya yang meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Dia datang ke sini bersama keluarga besarnya hingga harus menyewa mini bus.

"Kami dari Nongsa, ke sini tadi kita carter mini bus. Ziarah kubur ini sudah kami lakukan setiap tahun, sejak salah satu keluarga meninggal beberapa tahun lalu," kata Budi sambil menggendong anaknya.

Di sebalik itu, ramainya peziarah juga membuat para penjual bunga panen rezeki. Tak jarang, mereka kehabisan barang dagangannya, sehingga membuat mereka sibuk mengemas ulang bunga-bunga yang ingin dijual ke dalam kantong plastik.

Kesibukan puluhan penjaja bunga rampai tampak tersebar hampir di seluruh area pemakan itu. Orang-orang dewas berbaur dengan anak-anak. Mereka berdiri di sisi kiri dan kanan jalan, sibuk menawarkan barang dagangannya kepada setiap peziarah yang masuk area pemakaman.

"Mari bu, mari pak, bunganya dua kantong lima ribu rupiah saja," kata Rahmah, yang berjualan di pintu masuk pemakaman sambil melambaikan tangannya ke arah peziarah bersepeda motor.

Sementara tatapanya memandang ke arah rombongan peziarah, tangan Rahmah juga sibuk meracik bunga. Tangan wanita 33 tahun ini tampak lincah mencampur daun pandan, bunga rampai, dan bunga mawar ke dalam kantong plastik kecil.

Setiap kantong bunga racikannya itu dijual Rp2.500. Tak hanya bunga, Rahma juga melengkapi dagangannya dengan air dalam kemasan botol air mineral 1.5 liter. Satu botol air itu dijualnya Rp4.000.

"Alhamdulillah dari pagi hingga sore ini sudah mendapatkan keuntungan sampai Rp300 ribu. Cukuplah untuk tambahan penghasilan," kata Rahmah, gembira.

Zaki (12), penjual bunga yang masih duduk di kelas satu SMP, juga tampak senang menawarkan bunga dalam kantong-kantong plastik itu. Dia mengaku memanfaatkan masa libur sekolah dengan berjualan bunga di kuburan.

"Lumayanlah, sejak hari Kamis kemarin, aku bisa dapat Rp400 ribu dari jualan bunga sama air," kata bocah yang mengaku tinggal tak jauh dari kawasan pemakaman itu.

Menariknya, seperti kata Zaki, bunga-bunga yang dijualnya itu didapat dengan gratis. Dia berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain yang ada di wilayah Seipanas. Di rumah yang ada bunga-bunga yang dibutuhkannya, dia temui pemilik rumah dan dimintanya dengan cara baik-baik. Jadi, dia sama sekali tidak mengeluarkan modal.

Selain penjual bunga, juga ada warga lain yang memanfaatkan musim ziarah ini untuk meraup rezeki. Mereka menjual jasa membaca doa, membersihkan makam, termasuklah para penjual makanan dan minuman ringan. (jailani)