Dengan ambungan di punggung, Zubaidah menelusuri setiap jalan dan lorong di Kota Daik, Lingga. Ambungan yang terbuat dari rotan itu menjadi tempat barang dagangannya. Barang dagangannya terdiri dari sayur-mayur, telur ayam kampung, hingga madu lebah.
Pekerjaan yang sudah 20 tahun dilakoninya itu membuatnya cukup bahagia. Ketika itu, suaminya yang bekerja sebagai nelayan, pergi untuk selamanya. Maka sejak itu pula, Zubaidah memutuskan berjualan keliling.
Uang hasil berdagang ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. "Alhamdulillah, dapatlah Rp30 ribu sehari. Kalau ndak gitu dengan apa kita makan," ujarnya sambil menarik nafas panjang, kemarin.
Menurut nenek yang sudah terlihat renta itu, ia mendapatkan untung dari barang dagangan yang dititipkan orang lain kepadanya. Misalnya, sayur-mayur. Satu ikatnya, Zubaidah mendapatkan untung Rp200.
Kalau saja sayur yang dibawanya sebanyak 10 ikat terjual semua, maka ia mendapat keuntungan Rp 2000. Namun, Zubaidah tak pernah mengeluhkan usahanya. Karena baginya, berdagang keliling merupakan pekerjaan mulia.
" Berangkat dari rumah jam 10, sehabis mengumpulkan barang dagangan dari tetangga. Nanti jam 3 sore pulang ke rumah. Habis itu kita masak, untuk makan malam dan berbuka puasa," ujarnya sambil mengipas-ngipaskan tangan mengusir rasa panas sehabis berjalan.
Selama bulan puasa, dengan menahan rasa lapar dan haus, Zubaidah tetap berjualan keliling. Dari berjualan, satu hari ia bisa mengantongi keuntungan Rp30 ribu, itu kalau lagi mujur. Tapi kalau lagi sepi, keuntungan yang diperolehnya tidak sampai sebanyak itu.
" Sejak setahun terakhir, saya hanya berjualan keliling sehari tiga kali. Karena kalau tiap hari badan terasa capek juga," ungkapnya.
Zubaidah juga menyebutkan, bagi yang berbaik hati, kadang ada yang memberinya tepung dan gula. Kini, di usianya yang terus beranjak senja, Zubaidah hanya bisa menyisihkan uang yang didapat untuk kebutuhan tiga hari.
"Setelah itu, kalau tak ada, kita bisalah minta sama anak," ujarnya sambil tersenyum dengan kerut-kerut pipi yang mulai terlihat.
Sudar, salah serang anak Zubaidah mengatakan, maknya dari dulu sudah jualan madu dan sayur keliling kampung. "Namun, sekarang karena sudah kebiasaan, Mak tidak bisa duduk diam di rumah," ujarnya.
Namun demikian, Sudar, juga tidak kuasa menahan agar Maknya tidak jualan lagi di usianya yang sudah memasuki senja itu. "Kita tetap sabar aja, usaha yang dilakukan Mak adalah yang terbaik menurut beliau," imbuhnya.
Safitri, warga Bukit Cening mengaku, setiap sore sering melihat Zubaidah berjalan sambil membawa ambungan di punggung yang berisikan sayur dan madu.
"Walau sudah tua, Nenek itu masih kuat berjalan. Kadang ada yang berbaik hati memberikan tumpangan padanya untuk balik ke rumah," ungkapnya.
(cw60).
Newer news items:
- Risiko Serangan Jantung Menurun di Bulan Puasa
- Yang Tersisa Cuma Baju di Badan
- Duarr! Operator Cetak Kalang-kabut
- Berbuka Puasa di Masjid Baitussyakur
Older news items:
- Sosok Pelaku Penembakan 'Batman'
- Menjemput Rezeki Di Antara Kuburan
- Semoga Ramadhan Ini Membawa Berkah
- Warga Kampung Agas pun Angkat Kaki
- Musim Ziarah di TPU Taman Langgeng
- Hari Pertama Sekolah
- TKW Meninggal di Arab
- Wahai Guru, Menulislah!
- Derita Penyakit Aneh, Balita Seperti Hamil 9 Bulan
- 9 Tahun Bekerja Tanpa Digaji