SEKUPANG (HK) - Keberadaan peminta-minta di Batam, belakangan ini sangat mudah ditemui. Mereka tersebar hampir di seluruh penjuru kota, terutama di pusat-pusat keramaian atau persimpangan jalan.
Para pengemis itu tidak hanya dimonopoli orang dewasa. Anak-anak pun, terlihat 'menggurita. Mereka bahkan lebih berani, mendekati orang sambil menyodorkan tangan, berharap belas kasih demi mendapatkan pundi-pundi rupiah.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah, orang-orang memang berlomba-lomba bersedekah. Termasuklah memberi uang 'receh' kepada para pengemis. Sayangnya, momentum itu seringkali disalahartikan oleh para pengemis itu. Tak jarang, ada orangtua yang sengaja memerintahkan anaknya untuk turun ke jalan, meminta-minta di persimpang lampu merah.
Pantauan di lapangan, pengemis baik orang dewasa maupun anak-anak bisa dijumpai di Simpang Jam, Simpang Gelael Seipanas, Simpang McDonald Nagoya, Simpang Franky, Simpang Kabil dan lainnya. Lalu bagaimana pemerintah memandang masalah ini?
Menurut Kepala Dinas Sosial dan Pemakaman Kota Batam R Kamarulzaman, saat ini memang ramai pengemis jalanan baik dari anak-anak hingga orang dewasa. Selain karena musim libur sekolah, masa sekarang ummat muslim juga sedang tinggi 'jiwa dermanya' karena tengah menjalankan ibadah puasa. Hal itu membuat banyak pengemis musiman yang berkeliaran di Batam.
"Sebenarnya sudah ada program kita yakni PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial). Memang merupakan program sudah lama, namun kapasitasnya saja yang perlu ditingkatkan untuk menangani masalah pengemis atau anak jalanan ini. Seperti saat inikan pengemis lagi ramai-ramainya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Khususnya anak-anak, kebanyakan mereka merupakan pengemis musiman," kata Kamarulzaman ditemui di kantornya di Sekupang, Senin (30/7).
Untuk mengantisipasi hal itu semua, lanjut Kamarulzaman, sudah dilakukan penertiban yang dilakukan secara bersama-sama dengan instansi terkait. Beliau mengumpamakan saat penertiban sebelum puasa yang dipusatkan di Simpang Kabil, Simpang Jam hingga beberapa persimpangan di Nagoya. Pada saat itu, sedikitnya 26 pengemis terjaring razia dan langsung dibawa ke Shelter Dinsos di Sekupang untuk diberi pembinaan.
"Sebelum puasa dilakukan satu bulan sekali. Apabila anak jalanan ditangkap, tetap dibawa untuk diberi bimbingan. Sedangkan bulan puasa ini, satu minggu tiga kali kita lakukan penertiban. Namun sifatnya hanya memberi pemahaman dan pengertian ditempat secara persuasif kepada para pengemis dan dilihat agar tidak mengganggu ketertiban jalan," terangnya.
Disinggung angka pastinya, Kamarulzaman mengaku tidak memiliki data tersebut. Pasalnya, apabila didata, para pengemis atau anak jalanan tersebut selalu berpindah-pindah, sehingga sulit menentukan angka pastinya, namun yang jelas jumlah secara keseluruhan diperkirakan melebihi 100 orang.
Dengan mendapat bimbingan, setelah itu para pengemis akan dilepas dengan harapan tidak turun ke jalan lagi. namun, kata Kamarulzaman, kebanyakan orang-orang itu tetap saja turun ke jalan.
Oleh sebab itu, bagi warga Batam yang ingin menyumbang atau menyedekahkan uangnya, Kamarulzaman berharap tidak diberikan di tengah jalan, melainkan langsung saja ke tempat-tempat yang lebih sesuai.
Selain itu, Kamarulzaman juga mengimbau kepada warga Batam yang merasa tidak berkesanggupan secara ekonomi dan tidak mampu lagi menafkahi anaknya, diminta untuk tidak menjadikan anak-anaknya sebagai pengemis.
"Terutama, bagi orangtua yang tidak sanggup menafkahi anaknya, kami siap memberi bantuan dengan cara memfasilitasi menempatkan anak-anak mereka ke panti asuhan atau rumah singgah. Dan di sana, orangtua masih dapat mengunjungi kapan pun ia mau. Sementara yang berusia di atas 18 tahun, dapat kita beri pelatihan, baik itu bengkel, sablon, jahit," ujarnya.
Kalau anak-anak, lanjut Kamarulzaman, resiko terjadinya kecelakaan di setiap persimpangan sangat tinggi. Karenanya, dia sangat berharap agar orangtua tetap memperhatikan hal itu, baik anak yang mengemis atau menjajakan koran.
"Pernah ada pengemis yang kita pulangkan ke kampung halamannya. Namun tak lama kembali lagi ke Batam dengan alasan tidak memiliki kerja di kampung. Dan di sini, mereka kembali mengemis," tutup Kamaruzaman. (taslimahudin)
- Cara Turunkan Kolesterol saat Puasa
- Memetik Berkah Dibalik Ramadhan
- Risiko Serangan Jantung Menurun di Bulan Puasa
- Yang Tersisa Cuma Baju di Badan
- Berbuka Puasa di Masjid Baitussyakur
- Duarr! Operator Cetak Kalang-kabut
- Puasa, Zubaidah Tetap Berjualan Keliling
- Puasa, Zubaidah Tetap Berjualan Keliling
- Sosok Pelaku Penembakan 'Batman'
- Menjemput Rezeki Di Antara Kuburan